Contoh Khutbah Idul Adha yang Penuh Makna

 06 Sep 2019  Taufiq F

Contoh Khutbah Idul Adha yang Penuh Makna

Khutbah idul adha - Image from blogkhususdoa.com

Idul Adha atau biasanya disebut hari raya haji, tentunya mengingatkan pada historis kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail yang merupakan kisah bersejarah bagi umat islam di seluruh dunia.


Dalam pelaksanaan hari raya Idul Adha terdiri dari berbagai rangkaian mulai dari sholat ied Idul Adha, setelah sholat semua berbondong-bondong menyembelih hewan qurban kemudian membagikannya pada sesama.

Namun pada kali ini wajib baca akan membahas mengenai khutbah idul adha, khutbah hari raya idul adha sendiri berbeda dengan khutbah idul fitri, hal ini penting untuk dipahami dan diketahui semua umat muslim.

Konsep khutbah idul adha
dan khutbah idul fitri memiliki konsep tersendiri yang berbeda dengan lainnya menjadikan hal tersebut salah satu bukti bahwa sholat sunah Idul Adha dan Idul Fitri memiliki keunggulan tersendiri, langsung saja simak penjelasannya dibawah ini.

Hukum Khotbah Sholat Idul Adha

Idul Adha merupakan momen yang sangat istimewa dan paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat umat islam serta paling diagungkan dan menjadi waktu yang penuh dengan kebahagiaan.

Memiliki kedudukan sebagai hari yang spesial sehingga Rasulullah SAW pun memerintahkan semua umat muslim untuk keluar rumah guna mengerjakan sholat ied. Dalam sholat ied Idul Adha juga terdapat khutbah idul qurban dan doa khutbah idul adha.

Idul Adha berbeda dengan Idul Fitri yang diawali dengan puasa wajib selama sebulan penuh sebelumnya. Tetapi dari sisi kedudukan hukum keutamaannya sama-sama memiliki keunggulan yang luar biasa. Bahkan sebelum hari raya Idul Adha pun juga diperintah semua umat islam yang tidak berhaji, dianjurkan mengerjakan puasa dari 1 sampai 9 dzulhijjah.

Untuk hukum khutbah sholat idul adha memang sunah, namun bukan berarti ketika dilaksanakan tidak harus memenuhi syarat dan rukunnya. karena meskipun perbuatan sunah tetap harus memenuhi aturan-aturan ibadah yang telah ditentukan dalam syariat dan apabila tidak dikerjakan maka batal lah ibadahnya tersebut.

Diantara rukunnya yaitu memuji Allah SWT, membaca shalawat, berwasiat tentang takwa, membaca ayat Al-Quran pada salah satu khutbah singkat idul adha. Semua ini harus benar-benar dipenuhi khatib atau orang yang bertugas melaksanakan kutbah idul adha.

Adapun salah satu bentuk i'tibar kita bisa dengan mengenal melalui contoh khutbah idul adha dibawah ini.

Khutbah Idul Adha Terbaru

Ceramah tentang idul adha ini disusun dengan sedemikian rupa agar keasliannya dan dari mana sumber tulisan yang wajib baca jadikan sebagai sumber referensi berikut ini contoh khutbah singkat idul adha

Khutbah idul adha yang menggetarkan jiwa

Pembukaan khutbah idul adha

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهقال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَوقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاوقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاأَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Isi khutbah idul adha pertama

Ummatal Islam,
Pada khotbah idul adha Di hari ini kita berada di hari Idul Adha yang merupakan hari terbaik di dunia. Sebagaimana dikeluarkan Imam Ath-Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh Albani Rahimahullah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

افضل ايام الدنيا يوم النحر ويوم القر

“Hari-hari dunia yang paling utama yaitu hari menyembelih (hari ini tanggal 10 bulan Dzulhijjah) dan hari setelahnya (tanggal 11)”

Berarti ini menunjukkan bahwa hari ini adalah hari yang paling paling utama di dunia ini dan kemudian hari setelahnya. Maka 10 hari awal bulan Dzulhijjah yang paling utama adalah di hari ini. Dan kita disyariatkan untuk memperbanyak takbir, membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dimana takbir akan terus disyariatkan sampai tanggal 13 bulan Dzulhijjah. 

Dimana takbir -kata para ulama- dengan ijma’ mereka ada dua macam. Yang pertama disebut dengan takbir mutlak. Yaitu kita bertakbir kapan saja dan dimana saja. Kemudian yang kedua yaitu takbir muqayyad. Yaitu yang terikat setelah selesai shalat.

Adapun takbir mutlak, maka dianjurkan dari tanggal 1 sampai tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Adapun takbir muqayyad, maka dianjurkan dari tanggal 9 (yaitu hari Arafah) setelah shalat subuh sampai tanggal 13 bulan Dzulhijjah setelah shalat ashar.

Kita memperbanyak takbir di hari-hari ini, sebagaimana dahulu para sahabat memperbanyak takbir. Bahkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun di haji wada’ pun, di hari-hari Mina, mereka memperbanyak takbir. Sehingga Mina bergemuruh dengan takbir. Maka kita pun senantiasa bertakbir membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun tentunya, saudaraku.. Hakikat takbir adalah mengagungkan Allah, membesarkan Allah, bukan hanya sebatas di lisan-lisan kita. Tapi membesarkan Allah dengan hati kita, merasakan akan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengagungkannya seagung-agungnya.

Ketika kita merasakan kebesaran Allah di hati kita, itulah yang akan menimbulkan rasa takut kepada Allah, rasa tunduk kepada Allah, rasa tadharru’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mengagungkan Allah, dia tidak akan berani berbuat maksiat di hadapanNya walaupun dia ketika sendirian. Karena ia tahu bahwasanya Rabbnya senantiasa mengawasinya dimanapun ia berada.

Ummatal Islam..

Mengagungkan Allah adalah merupakan aqidah yang menimbulkan amalan-amalan shalih. Mengagungkan Allah adalah merupakan asal dari iman seorang hamba. Ketika seorang hamba mengagungkan Allah, maka ia pun menjadi hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika hamba mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia akan mengagungkan syariatNya, ia akan mengagungkan perintah-perintah dan laranganNya. Ia pun akan mengagungkan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka dari itulah, saudaraku..

Orang yang tidak mengagungkan Allah, dia tidak akan mengagungkan syariatNya, dia akan meremehkan syariatNya, ia akan meremehkan perintah dan laranganNya. Karena hatinya tidak mengagungkan Allah Jalla wa Ala. Dia akan menganggap remeh shalat, menganggap remeh ibadah-ibadah yang lainnya. Bahkan hatinya dikarenakan penuh dengan kemaksiatan kepada Allah, hatinya tak lagi mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak lagi bergetar ketika hatinya itu disebutkan nama Allah, tidak lagi imannya bertambah ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah. Sedangkan Allah menyebutkan tentang orang-orang yang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّـهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu siapa? Yaitu orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah, hatinya menjadi takut dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan mereka.” (QS. Al-Anfa[8]: 2)

Mengapa hatinya menjadi takut ketika disebutkan nama Allah?

Karena hatinya membesarkan Allah, hatinya mengagungkan Allah. Sedangkan orang yang hatinya tidak mengagungkan Allah, akibat maksiat maksiat yang ada di hatinya tersebut, dia tidak akan bergetar ketika mendengarkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Bahkan imannya pun tidak akan bertambah dengan dibacakan ayat-ayat Allah. Yang ada, ketika dibacakan ayat Allah malah bertambah penyakitnya. Sebagaimana Allah menyebutkan tentang orang-orang munafik, Allah berfirman:

وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـٰذِهِ إِيمَانًا

“Dan apabila diturunkan surat dari Al Quran, di antara orang-orang munafik itu ada yang berkata, ‘Siapa yang bertambah imannya dengan diturunkannya surat Al-Qur’an?‘”

Maka Allah mengatakan:

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾

“Adapun orang yang beriman dengan diturunkannya Al-Qur’an bertambahlah keimanan mereka dan mereka bergembira. Adapun orang-orang yang ada di hatinya penyakit, bertambahlah penyakit yang ada di hatinya tersebut disamping dengan penyakit yang ada dalam hatinya.” (QS. At-Taubah[9]: 125)

Itu akibat dari pada hatinya penuh maksiat, saudaraku.. Ia tidak lagi bertambah keimanannya ketika dibacakan ayat Allah. Karena ia tidak membesarkan Allah, ia tidak mengagungkan Allah, bahkan ia menganggap dunia itu yang besar di hatinya, dia menganggap dunia itu segala-galanya dalam hatinya. 

Sehingga orang seperti ini tidak mungkin hatinya merasakan kebesaran Allah walaupun lisannya berucap Allahu akbar, Allahu akbar.. Walaupun lisannya berkata Allahu akbar (Allah maha besar), tapi hatinya tidak mengagungkan Allah. Karena hatinya penuh dengan kemunafikan atau dengan kemaksiatan.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Ceramah idul adha singkat kedua 

Khutbah kedua idul adha

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Orang-orang yang membesarkan Allah, akan terlihat dari matanya ia tak ingin melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Orang-orang yang membesarkan Allah terlihat dari ibadahnya, ia berusaha menjaga shalatnya dan sabar diatas shalat tersebut. 

Orang-orang yang membesarkan Allah, ketika dikumandangkan adzan hatinya selalu rindu ingin pergi ke masjid untuk bermunajat denganNya. Orang yang membesarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika disebut Al-Qur’anul Karim hatinya pun rindu ingin membacanya, hatinya pun berusaha ingin memahaminya. Karena sesungguhnya ia tahu di sanalah kebaikan hati dan dirinya.

Orang-orang yang membesarkan Allah, saudaraku..

Ia senantiasa menghormati batasan-batasanNya, ia takut untuk melanggarnya, ia takut untuk melaksanakan larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga ketika saya jatuh kepada maksiat sekecil apapun, ia merasa sangat takut seakan-akan gunung akan menimpa dirinya.

Maka dari itulah, saudaraku..

Itu tanda dia membesarkan Allah, dia mengagungkan Allah, dia menjadikan Allah segala-galanya di hatinya. Sehingga orang seperti di pastilah akan mengharapkan Allah dan kehidupan akhirat.

Namun ketika hati seorang hamba dipenuhi maksiat, dunia lebih besar di hatinya. Ia menganggap dunia segala-galanya. Orang seperti ini tidak akan pernah bisa khusyu’ dalam shalatnya, saudaraku..

Maka dari itulah, saudaraku..

Kenapa ketika kita shalat kita disyariatkan untuk banyak mengucapkan takbir? Diawal shalat kita ucapkan “Allahu akbar”, ketika kita mau ruku’, kita ucapkan “Allahu akbar”, ketika kita mau sujud kita mengucapkan “Allahu akbar”, ketika kita bergerak untuk duduk, maka kita ucapkan “Allahu akbar”

Kenapa? Apa rahasia mengapa Allah mensyariatkan takbir di dalam shalat-shalat kita? Karena itulah kunci kekhusyu’an. Karena ketika seorang hamba hatinya membesarkan Allah, dia pasti khusyu’ dihadapan Allah, hatinya akan tunduk. Tapi kalau hatinya tidak membesarkan Allah, jangan harap ia bisa khusyu’ walaupun ia ikut kursus kekhusyu’an.

Sulit sekali, saudaraku.. Kecuali bagi mereka yang betul-betul membesarkan Allah dengan hatinya.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله على نبينا محمد واله وصحبه وسلم

Demikianlah contoh khutbah idul adha singkat dan mukadimah khutbah idul adha beserta teks khutbah idul adha 2018 yang memuat tentang khutbah idul adha paling sedih, khutbah idul adha yang mengharukan, khutbah idul adha sunda yang bisa wajibbaca.com berikan pada kesempatan kali ini.

Bagi anda yang belum memiliki konsep atau pedoman khutbah idul adha tentang qurban untuk dibacakan nanti, maka bisa menggunakan contoh kotbah idul adha diatas. Semoga bermanfaat untuk kita semua.