Meninggal Setelah Melahirkan Karena Preeklampsia, Ibu Hamil Harus Tahu Kondisi Ini

 24 Apr 2019  Penulis
Meninggal Setelah Melahirkan Karena Preeklampsia, Ibu Hamil Harus Tahu Kondisi Ini

Sumber gambar Deskgram

Kelahiran anak selalu menjadi momen yang paling dinanti dan membahagiakan bagi setiap pasangan suami istri. Apalagi momen kelahiran ini adalah anak pertama.

Namun di sisi lain, orangtua ini harus merasakan kehilangan karena istri tercintanya meninggal tak lama setelah melahirkan karena preeklampsia.

Namun momen bahagia yang slalu di tunggu tidak selalu menyertai dan dirasakan oleh Farabi Firdausy asal Jakarta.

Di satu sisi, dia merasa bahagia karena buah hati pertamanya lahir dalam kondisi sehat.

Namun di sisi lain, dia harus merasakan kehilangan karena istri tercintanya meninggal tak lama setelah melahirkan.

Dikutip dari okezone.com Farabi menceritakan peristiwa yang dialaminya. Di usia kandungan 37 minggu, sang istri mengalami demam tinggi. Di hari pertama demam, almarhumah istrinya yang bernama Nurul Isnindianingsih langsung dibawa ke rumah sakit.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata perempuan berusia 26 tahun itu positif terkena demam berdarah dengue (DBD) sehingga harus menjalani rawat inap.

“Tapi sudah empat hari (dirawat), dengan segala penanganan maksimal plus transfusi trombosit, kondisi istri saya terus melemah. Ternyata setelah dicek istri saya ada preeklampsia,” ujar Farabi.

Meninggal Setelah Melahirkan Karena Preeklampsia, Ibu Hamil Harus Tahu Kondisi Ini

Sumber gambar blog.hawaku.com

Apa itu Preeklampsia ?

preeklampsia adalah sindrom yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar protein di dalam urin (proteinuria), dan pembengkakan pada tungkai (edema). Pre-eklampsia dialami oleh ibu yang sedang hamil, terutama para ibu muda yang baru pertama kali hamil.

Saat almarhumah Nurul diketahui mengalami preeklampsia, kondisinya tidak memungkinkan untuk segera menjalani operasi melahirkan. Menurut dokter yang menangani, preeklampsia yang dialami oleh almarhumah tergolong berat dan ketika itu trombositnya sangat rendah.

Dihadapkan pada situasi yang sulit, almarhumah Nurul tidak bisa berpikir terlalu banyak. Sementara Farabi berpikir agar operasi caesar dijalankan ketika kondisi sang istri sudah benar-benar kuat.

“Tapi tiba-tiba istri saya kejang yang merupakan efek preeklampsia sehingga sudah enggak ada pilihan selain operasi,” imbuhnya.

Semula operasi berjalan lancar dan dokter yang menangani juga merasa senang karena baik ibu maupun bayi berhasil diselamatkan.

Kondisi Istri dan Anak Saya Baik-baik Saja Namun Takdir Berkata Lain

Pada saat itu, tentunya tidak pernah terlintas atau terbayangkan dalam benak Farabi jika sang istri akan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Namun nyatanya takdir berkata lain. Ketika dini hari, kondisi almarhumah Nurul mulai menurun. Dirinya mengalami komplikasi dari preeklampsia yang mengarah ke HELPP Syndrome.

Baca Juga:

1. Minum Teh Saat Perut Kosong, Waspada Dampak Buruk Ini Bagi Tubuhmu

2. Cara Mudah Bersihkan Karpet Rumah yang Kotor, Pakai Cara Ini Agar Karpet Selalu Baru

“Organ istri saya banyak yang kena karena itu. Kurang dari 24 jam setelah operasi, istri saya berpulang,” ujar Farabi.

Kepergian sang istri tentu meninggalkan duka mendalam bagi pria berusia 27 tahun itu. Melalui curahan di media sosial, Farabi mengatakan jika peristiwa ini menjadikannya pribadi yang lebih baik dan kuat. Terlebih dengan kehadiran Archie Nugho Firdausy, buah cintanya dan almarhumah Nurul yang lahir pada 31 Maret 2019 lalu.

KOMENTAR