Sudah Lama Punah, Peneliti Kembali Temukan Lebah Raksasa di Maluku

 25 Feb 2019  Cheryl mikayla
Sudah Lama Punah, Peneliti Kembali Temukan Lebah Raksasa di Maluku

Penemuan lebah raksasa yang sempat punah (foto:detik.com)

Agak serem!!

Tim peneliti mancanegara berhasil menemukan kembali lebah terbesar di dunia  yang sempat punah.

Berbahayakah jika menyengat manusia? Ini penjelasan peneliti.

Lebah Wallace (Megachile pluto) yang sempat di kabarkan punah sejak tahun 1981 kini kembali ditemukan oleh tim peneliti mancanegara di Kepulauan Maluku.

Peneliti Dr Simon Robson dari Universitas Sydney dan koleganya Glen Chilton dari Saint Mary's University di Kanada bersama seorang fotografer asal AS dan seorang entomolog lah yang menemukan kembali lebah tersebut.

Keempat "detektif serangga" ini bertemu di Jakarta pada Januari lalu. Dari sana kemudian lanjut ke Maluku, mencoba peruntungan mereka.

"Pada dasarnya kami berempat yang sudah lama berminat pada lebah ini bertemu dan saling mengajak untuk mencarinya," jelas Dr Robson, seperti dilansir dari ABC Australia.

"Kami berhasil menemukannya dan ini jadi liburan terbaik yang pernah saya alami," ujarnya.

Pencarian selama 5 hari di tengah hutan

Sudah Lama Punah, Peneliti Kembali Temukan Lebah Raksasa di Maluku

Professor Simon Robson dari Australia menunjukkan lebah ukuran besar yang diberi nama Lebah Wallace. (Supplied: Clay Bolt)

Tim tersebut menelusuri kawasan hutan tropis di daerah tersebut selama lima hari. Mereka memeriksa banyak sarang rayap untuk mencari tanda-tanda adanya lebah dimaksud.

Lebah betina tersebut menemukan jalannya ke sarang rayap untuk bertelur, meninggalkan lubang yang cukup besar.

"Kami saat itu masih di hutan dan sudah agak sore, baru saja mau makan siang dan salah satu dari kami melihat gundukan rayap," ujar Dr Robson.

Salah satu dari tim itu memanjat pohon tempat sarang rayap berada. Setelah menyalakan obor, mereka pun bisa melihat adanya lebah di dalam sarang rayap tersebut.

Dengan menggunakan tabung plastik mereka pun menangkap lebah ini untuk didokumentasikan sebelum akhirnya dilepas kembali.

Lebah Megachile pluto tak berbahaya

Sudah Lama Punah, Peneliti Kembali Temukan Lebah Raksasa di Maluku

Peneliti menemukan lebah tersebut di sarang rayap yang ada pada sebuah pohon. (Supplied: Simon Robson)

Dijelaskan, lebah ini mengumpulkan nektar untuk anak-anaknya, namun sama sekali tidak menghasilkan madu.

Dan tidak seperti lebah Eropa, lebah ini pun tak mati setelah menyengat.

Lebah ini, katanya, bisa menyengat kita berkali-kali dan hal itu tidak akan membunuh kita.

"Sebenarnya, jika ada lebih banyak lebah, kami justru mau disengat untuk merasakan seperti apa. Tapi karena hanya menemukan seekor, kami tak ingin mengganggu atau membuatnya kesal," jelas Dr Robson.

Lebah raksasa Wallace juga memiliki seperangkat penjepit besar yang disebut mandibula di bagian kepalanya. Menurut Dr Robson, penjepit ini yang mungkin bisa berbahaya.

Karena hanya terlihat beberapa kali, para peneliti saat ini masih belum tahu banyak tentang lebah tersebut.

Perlunya menjaga kelestaian hutan

Sudah Lama Punah, Peneliti Kembali Temukan Lebah Raksasa di Maluku

ilustrasi (merdeka.com)

Pakar lebah Dr Tim Heard dari University of Sydney menduga, bisa saja lebah ini merupakan penyerbuk utama untuk spesies pohon tertentu di pulau tersebut.

"Itu sangat mungkin, tapi kami tidak tahu pasti," kata pakar yang tak terlibat dalam penemuan ini.

Baca Juga:

Terlepas dari ceruk ekologisnya, Dr Heard mengatakan perlunya perlindungan kawasan hutan itu dari ancaman deforestasi untuk kebun sawit, yang sangat marak di Indonesia.

"Lebah ini terbesar di dunia, langka, dan ditemukan oleh Wallace, legenda di bidangnya. Dia menemukan evolusi melalui seleksi alam bersama dengan Darwin," katanya.

Dr Robson menjelaskan timnya berharap keberadaan lebah ini di Kepulauan Maluku dapat menjadi unggulan bagi pelestarian lingkungan dan ekowisata di wilayah tersebut.

"Deforestasi adalah ancaman utama, kita mungkin bisa membuat lebah ini jadi perhatian publik sebagai sesuatu yang patut untuk dilihat," ia menambahkan.

KOMENTAR