Anak 9 Tahun Meninggal Usai Makan Es Krim, Ini yang Harus Diperhatikan Orangtua

 21 Feb 2019  Cheryl mikayla
Anak 9 Tahun Meninggal Usai Makan Es Krim, Ini yang Harus Diperhatikan Orangtua

Anak 9 Tahun Meninggal Usai Makan Es Krim (foto ilustrasi: sumber.com)

Peringatan bagi orangtua!!

Belajar dari kasus meninggalnya bocah 9 tahun usai makan es krim.

Ini yang harus Anda perhatikan tentang makanan yang dikonsumsi anak-anak agar tak berakibat fatal.

Seorang siswi asal Inggris meninggal dunia usai memakan es krim saat berlibur bersama keluarga di Costa del Sol, Spanyol.

Bocah berusia 9 tahun tersebut dikabarkan mengalami syok anafilaktik setelah terserang alergi parah sebagai reaksi dari es krim.

Bocah yang belum diketahui identitasnya tersebut langsung dibawa ke rumah sakit terdekat saat kondisinya kritis. Melihat kondisinya, dilaporkan ada kemungkinan bocah tersebut alergi susu dan kacang-kacangan sehingga menimbulkan reaksi alergi tersebut.

"Dia masuk [ke rumah sakit] di Sabtu malam karena syok anafilaktik. Dia sudah disadarkan lalu dipindahkan ke Materno Infantil Hospital di Malaga," kata seorang petugas di rumah sakit tersebut, dikutip dari Metro.co.uk.

Karena kondisinya memburuk, ia dipindahkan ke rumah sakit di kota Malaga di hari yang sama sekitar tengah malam. Namun sayang, ia menghembuskan napas terakhirnya.

Belajar dari kasus diatas, ini yang harus Anda perhatikan.

Anak 9 Tahun Meninggal Usai Makan Es Krim, Ini yang Harus Diperhatikan Orangtua

alodokter.com

Meski kejadian tersebut bukan di Indonesia, orangtua tetap harus waspada.

Syok anafilaktik merupakan suatu reaksi alergi yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran atau bahkan kematian pada anak-anak maupun dewasa.

Kondisi ini terjadi apabila pasien alergi terhadap makanan, obat-obatan, ataupun serangga.

Makanan yang paling sering menyebabkan alergi

1. Susu

Alergi susu lebih umum terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Dan kondisi ini sangat umum di antara anak-anak yang berusia sangat muda.

Menurut Food Allergy & anaphylaxis Network (FAN), alergi susu adalah alergi makanan yang paling umum, yang mempengaruhi dua setengah persen anak-anak.

Dua jenis protein dalam susu dapat menyebabkan reaksi alergi yaitu kasein dan whey, yang mana whey menjadi penyebabnya di sebagian besar kasus alergi.

2. Telur

Seperti susu, alergi telur jauh lebih umum di antara anak-anak daripada orang dewasa. Menurut FAAN, setidaknya satu setengah persen dari anak-anak memiliki alergi ini.

Sejumlah protein dalam kuning dan putih telur dapat menyebabkan alergi. Namun, menurut Mayo Clinic, alergi terhadap putih telur lebih umum daripada alergi terhadap kuning telur.

Penting untuk diingat bahwa orang-orang dengan alergi telur parah harus konsultasi dengan dokter mereka sebelum menerima suntikan flu, karena telur digunakan untuk membuat vaksin.

Kacang-kacangan

Alergi kacang lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Sekitar satu sampai 2,1 perseon anak-anak alergi terhadap kacang.

Kacang adalah penyebab serangan alergi makanan yang paling parah. Oleh karena itu, sangat penting untuk membawa anak Anda agar  diperiksa untuk alergi kacang walaupun hanya reaksi ringan terhadap kacang atau selai kacang.

Bahkan jika anak Anda hanya memiliki reaksi kecil, ada risiko serius untuk serangan parah di masa depan.

Gandum

Empat kelas protein gandum dapat menyebabkan reaksi alergi: albumin, globulin, gliadin dan gluten. protein gandum, terutama gluten, yang digunakan dalam berbagai jenis makanan, termasuk:

  • roti
  • cake dan muffin
  • Semacam spageti
  • es krim
  • pati makanan
  • perasa alami, dll.
Beberapa orang memiliki alergi yang berhubungan dengan olahraga dan gandum. Orang-orang ini memiliki gejala parah yang hanya muncul jika mereka berolahraga setelah beberapa jam makan gandum.

Kedelai

Alergi kedelai juga lebih umum di antara anak-anak daripada orang dewasa.

Menurut Food Allergy Initiative (FAI), kebanyakan anak-anak akan bereaksi ringan saja terhadap kedelai pada saat mereka berusia tiga tahun. Namun, sebagian besar reaksi alergi terhadap kedelai hanya reaksi ringan.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko alergi makanan

Faktor-faktor tertentu menempatkan Anda maupun anak-anak pada risiko yang lebih besar untuk memiliki alergi makanan.

Usia

Menurut Mayo Clinic, alergi makanan yang paling umum terjadi  pada balita dan bayi. Alergi susu, kedelai, gandum, dan telur dapat pulih dari waktu ke waktu.

Alergi terhadap kacang-kacangan dan kerang lebih mungkin untuk menetap seumur hidup.

Sejarah keluarga

Jika asma, eksim, gatal-gatal, atau demam adalah bagian dari latar belakang keluarga Anda, Anda lebih mungkin untuk memiliki alergi makanan.

Alergi lainnya

Jika Anda atau anak-anak sudah alergi terhadap salah satu makanan atau sudah memiliki jenis lain dari alergi, Anda memiliki risiko lebih besar terkena alergi makanan.

Asma dan eksim

Asma dan alergi makanan sering terjadi berdampingan. Asma juga bisa membuat gejala alergi makanan lebih parah, begitu juga dengan es krim.

Baca Juga: 9 Makanan yang Dilarang Keras Dikonsumsi Anak Dibawah 5 Tahun

Gejala-gejala alergi makanan

Alergi makanan dapat menyebabkan berbagai gejala. Gejala ini biasanya mulai hanya beberapa menit setelah makan makanan yang berpotensi. Kadang-kadang  gejala dapat muncul beberapa jam setelah makan.

Gejala alergi makanan termasuk:

  • ruam atau gatal-gatal
  • kulit merah atau gatal
  • hidung tersumbat atau gatal
  • bersin
  • mata gatal dan berair
  • muntah, kram perut, perut bergas, atau diare
  • pembengkakan bibir, lapisan mulut, atau daerah sekitar mata yang bisa gatal atau nyeri

Gejala darurat alergi makanan

Anda harus segera mencari perawatan darurat jika Anda maupun anak-anak mengalami salah satu gejala berikut:

  • suara serak, sesak tenggorokan, atau benjolan di tenggorokan
  • mengi atau kesulitan bernapas
  • sesak dada
  • kesemutan di tangan, kaki, bibir, atau kulit kepala
  • pusing, pingsan, atau penurunan secara tiba-tiba tekanan darah
  • detak nadi cepat
Mendapatkan perawatan dari ruang gawat darurat secepat mungkin setelah reaksi alergi dapat membantu mengurangi risiko komplikasi yang merugikan.

Jadi sangat penting bagi orangtua mengenali apakah anak memiliki alergi atau tidak sebelum memberikan makanan tertentu kepada mereka.

KOMENTAR