Mengetahui Mengapa Anak Suka Berbohong Dan 4 Langkah Untuk Menghadapinya

 24 Mar 2017  Cang Karna
Mengetahui Mengapa Anak Suka Berbohong Dan 4 Langkah Untuk Menghadapinya

Sekali waktu, wajar sekali bila anak berbohong kepada orangtuanya. Cobalah ingat-ingat masa kecil kita dulu, berapa banyak kebohongan yang pernah kita buat. Namun, tentu saja perilaku buruk ini tak boleh dibiarkan hingga terbawa sampai dewasa.

“Kebohongan anak atau kids lying sebenarnya normal muncul pada anak. Pada umumnya terjadi saat anak mulai tahu bahwa jika mereka berkata atau berbuat salah pasti ada hukumannya dan sebaliknya, bila berkata atau berbuat baik itu ada hadiahnya,” jelas Ratih Zulhaqqi, M.Psi, psikolog pada Sentra Tumbuh Kembang “Kancil”, Jakarta.

Perilaku ini biasanya mulai muncul pada usia 7 – 8 tahun. Namun, pada kondisi tertentu bisa sudah muncul pada usia 5 tahun. Misalnya, si anak mengatakan sesuatu yang bukan miliknya, seperti mainan atau benda tertentu, sebagai miliknya sendiri. Ini wajar terjadi dan biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah moral anak terbentuk lebih baik.

Kesadaran bahwa kesalahan yang diperbuat akan berakibat pada hukuman bagi dirinya inilah yang antara lain menjadi sebab anak berbohong. Potensi berbohong anak akan semakin tinggi ketika orangtua justru memarahinya saat ia berkata jujur tentang kesalahan yang sudah diperbuatnya. Misal, mereka mengaku telah memukul teman, tapi orangtua serta merta memarahi, bahkan menghukumnya. Akhirnya, bagi mereka lebih baik berbohong daripada kena marah.

“Tiap manusia memiliki naluri untuk menyelamatkan diri. Saat menghadapi situasi terjepit, otomatis dia akan memanipulasi data. Tanpa diajarkan, setiap anak punya potensi berbohong,” terang lulusan Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia ini.

BACA JUGA : Ayah, Datangilah Anakmu Pada 7 Waktu Ini Jika Ingin Hubungan Ayah Dan Anak Semakin Erat

Karena itulah, menjadi tugas setiap orangtua untuk menanamkan nilai kejujuran pada anak-anaknya hingga moral anak terbentuk baik. “Itu pembelajaran seumur hidup, dan contoh orangtua juga diperlukan agar anak tahu bahwa berbohong itu tidak baik,” tegas Ratih.

MENGHADAPI KEBOHONGAN ANAK

Sebagai sosok yang paling mengetahui pribadi anak, orangtua sesungguhnya tahu apakah anak berbohong atau tidak. Tanda paling umum anak berbohong, terutama yang belum terbiasa, adalah kata-katanya yang terbata-bata, badannya gemetar, wajah terlihat agak ketakutan. Sebenarnya anak menyadari bahwa berbohong itu tidak baik hingga terlihat perubahan sikapnya saat berbohong. Berikut tips jika anak ketahuan berbohong:

1. Tidak memaksa mereka mengakui kebohongannya

Walau tahu anak berbohong, terlebih sudah didukung bukti, orangtua sebaiknya tak memaksa anak mengakui kebohongannya. Apalagi sampai mengancam, “Awas ya kalau kamu bohong. Mama tahu kamu bohong!” Alih-alih jujur, mereka malah semakin kukuh dalam kebohongannya. Pun tak ada jalan keluar atas masalah yang dihadapi anak.

2. Bikin mereka nyaman dan mau bercerita

Yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah memberi rasa aman kepada anak. “Intinya, supaya dia percaya untuk menceritakan rahasia itu kepada kita,” kata Ratih Zulhaqqi, M.Psi, psikolog pada Sentra Tumbuh Kembang “Kancil”, Jakarta. Kenyamanan ini akan mempermudah anak terbuka kepada orangtua.

3. Berikan konsekuensi pada anak

Lalu, berikan konsekuensi atas setiap perkataan anak. “Saya lebih setuju dengan konsep ‘konsekuensi’ dibandingkan ‘hukuman’. Karena ‘hukuman’ sering kali tidak nyambung dengan kesalahan,” tuturnya.

Kalau anak berkata begini, ada konsekuensinya. Berkata begitu, juga ada konsekuensinya. Jadi, kalaupun anak belum berkata jujur sepenuhnya, tetap ada konsekuensi yang diterimanya. Namun, tetap tekankan bahwa kita memercayainya.

Konsekuensi yang diberikan pun jangan berlebihan dan harus sesuai konteks masalah. Misal, anak meminta izin belajar kelompok, tapi ternyata dia pergi bermain. Konsekuensi yang sesuai adalah mengurangi waktu bermainnya. Itu lebih fair buat anak ketimbang hukuman lainnya.

4. Mengajarkan melalui buku/film/dongeng bahwa berbohong itu amat buruk

Pengajaran nilai ini bisa didukung pula dengan memberikan buku atau bacaan lainnya tentang betapa buruknya berbohong. Tujuannya agar mereka semakin menyadari ruginya berbohong. Untuk anak yang sudah duduk di kelas 5 SD, orangtua bisa meminta anak membuat jurnal atau catatan harian yang mencatat, misalnya, apakah hari ini dia sudah berkata jujur atau banyak berbohong.

“Bila usaha-usaha ini sudah dilakukan, tapi anak masih terus-terusan berbohong dengan alasan yang tidak rasional dan orangtua pun sudah tidak bisa menangani itu, sebaiknya anak dibawa berkonsultasi pada psikolog,” tutup Ratih.