Mari Ciptakan Keluarga Pecinta Al-Qur'an Mulai Dari Sekarang

 22 Mar 2017  Cang Karna
Mari Ciptakan Keluarga Pecinta Al-Qur'an Mulai Dari Sekarang

Keluarga adalah unit terkecil sekaligus unsur utama pembentuk sebuah masyarakat. Jika ingin tercipta masyarakat yang baik, maka itu tentu harus dimulai dari keluarga.

“Tidak ada yang lebih surgawi dan penuh rahmat melainkan rumah yang Qur’ani,” ujar Dr Ahzami Samiun Jazuli, MA. Di Madinah, urainya, pada zaman Rasulullah saw, senantiasa terdengar lantunan Al-Qur’an dari setiap rumahnya. Dampaknya, kebaikanlah yang mendominasi kehidupan bermasyarakat saat itu.

Bandingkan dengan rumah-rumah kita di zaman sekarang, banyak dihiasi dengan hiburan lain yang bahkan jauh dari nilai-nilai agama. Dan pada suatu titik, tambah Ustadz Ahzami, keluarga yang Qur’ani dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan minoritas. Naudzubillahimindzalik.

PERAN PENTING ORANGTUA

Dalam pandangan Ustadz Ahzami, keluarga cinta Qur’an adalah keluarga yang memprioritaskan berinteraksi dengan Al-Qur’an; membaca, mengamalkan, mendakwahkan. “Bukan berarti keluarga Qur’ani itu tidak berbisnis, tidak berpolitik, dan lain-lain. Semua itu tetap dilakukan sebagai bagian dari aktivitas di dunia. Namun, mereka menjadikan Qur’an sebagai prioritas.”

BACA JUGA : Muslimah, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu !!!!

Untuk membentuk keluarga pencinta Qur’an, peranan orangtua amat penting. Ayah dan ibu bertanggung jawab memberi pendidikan Qur’ani kepada anak-anak, menciptakan atmosfer kecintaan kepada Qur’an di rumahnya, dan tentu saja memberi keteladanan. Idealnya, menurut Ustadzah Amirotun Nafisah, pengajar di STIU Al-Hikmah, Jakarta, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran dalam mengajarkan Qur’an, mengingatkan anak, dan ber-murajaah bersama anak.

Keteladanan orangtua jangan dianggap sepele, sebab, anak cenderung mengimitasi kebiasaan orangtuanya. Bila orangtua dekat dengan Al-Qur’an, akan terekam dalam memori anak sehingga interaksinya dengan Qur’an bisa optimal.

Bila dirunut lagi, proses pembentukan keluarga cinta Qur’an sesungguhnya dimulai dari sebelum menikah, saat memilih calon pendamping. Bahkan, merupakan hak anak untuk mendapatkan ibu yang baik. Mengapa? Sebab, ibu yang dekat dengan Qur’an mampu menjadikan anak-anaknya dekat pula dengan Qur’an.

Mengutip hasil sebuah penelitian, Ustadz Ahzami mengatakan, dari ayah yang hafal Qur’an, setidaknya 30 persen anak akan hafal. Tetapi bila ibunya penghafal Qur’an, maka 80 persen anak hafal Qur’an. “Itulah pentingnya peran seorang ibu dalam memulai rumah tangga cinta Qur’an,” ujar ayah yang 6 dari 10 anaknya hafiz/hafizah ini.

Pendidikan Qur’ani bisa dimulai sejak anak dalam kandungan. Sang ibu menanamkan tekad dalam hati kelak anaknya tumbuh dan mencintai Qur’an, lalu memperdengarkan ayat-ayat Qur’an kepada janin, baik dengan bantuan alat pemutar digital maupun tilawah yang dilakukan ibu dan ayah. “Jangan tunggu anak sampai bisa bicara dulu, karena pendengarannya sudah berfungsi,” kata Ustadzah Amirotun yang biasa disapa Amiroh.

Tanggung jawab pendidikan anak, termasuk di dalamnya pendidikan Al-Qur’an, memang terletak di pundak orangtua. Namun, dalam pelaksanaannya, orangtua bisa saja membagi peran tersebut kepada orang lain.

Misalnya, Ustadzah Amiroh mencontohkan, dalam hal hafalan Qur’an. “Belum tentu semua orangtua punya pengalaman menghafal. Maka orangtua bisa meminta bantuan kepada guru tahfiz untuk mengajarkan anak secara privat atau di lembaga tahfiz.”

Hal yang perlu dipahami, ungkap perempuan yang tengah menyelesaikan studi S2 ilmu Al-Qur’an, Institut Ilmu Al-Qur’an, Jakarta, ini, orangtua tetap menyadari bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawabnya, sedangkan guru sifatnya hanya membantu.

TANTANGAN DAN SOLUSI

Mendidik anak mencintai Qur’an di zaman globalisasi kini, tak sedikit kendala yang menghadang. Beragam hal, informasi, media, teknologi, masuk dengan mudah ke rumah kita seraya membawa dua sisi mata pisaunya; negatif dan positif. Bila tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin kita akan terjerat arus globalisasi yang negatif. Kalangan remajalah yang menjadi sasaran empuknya.

Di usia remaja, anak mudah terpengaruh teman dan lingkungannya. Namun, Ustadzah Amiroh mengingatkan, di usia remaja memang muncul gejolak-gejolak yang umumnya dibutuhkan dalam masa perkembangannya. “Tinggal bagaimana orangtua mengarahkan gejolak itu.”

Tugas orangtualah menanamkan pemahaman kepada anak agar tumbuh kesadaran pada diri anak untuk melibatkan Qur’an dalam kesehariannya, di samping mencarikan teman/lingkungan yang baik bagi anak. Salah satunya, dengan memilihkan sekolah atau pesantren yang bagus sehingga interaksi anak dengan Al-Qur’an dapat terjaga.

Tantangan lainnya, pemikiran, yang bahkan sudah masuk ke ranah akidah, melalui media cetak dan elektronik. Misalnya, tentang pacaran, sampai-sampai muncul ungkapan “Enggak keren kalau enggak pacaran”, atau Facebook yang bisa mengurangi interaksi anak dengan Al-Qur’an.

“Solusinya, kembali pada pribadi masing-masing, pada keluarga tersebut, bagaimana caranya agar bisa tetap menjaga kecintaan mereka akan Al-Qur’an,” ujar Ustadzah Amiroh. Karenanya, keteladanan orangtua adalah kunci kesuksesan dalam upaya ini.

Mengenai pendidikan Qur’an di lembaga pendidikan, bila orangtua merasa berat dengan biayanya, bisa mengupayakan belajar mandiri di rumah. Orangtua mengajarkan kepada anak, lalu anak yang besar mengajarkannya kepada adiknya. Atau, memanggil pengajar ke rumah sehingga dapat membantu memantau perkembangan belajar/hafalan Qur’an anak.

Tantangan akan selalu hadir dalam proses kita mencapai setiap tujuan. Kesamaan visi dan misi antara istri dan suami serta kerja sama keduanya diperlukan agar tujuan membentuk keluarga cinta Qur’an terwujud, dan tak kalah penting, senantiasa mengharapkan pertolongan Allah swt. Yang jelas, tak ada kata terlambat untuk memulai membentuk keluarga cinta Qur’an.

KOMENTAR