Benarkah ? Orangtua Lebih Perhatikan Nilai Sekolah Dari Pada Anak Berperilaku Baik ?

Penulis Penulis | Ditayangkan 08 Dec 2016
Benarkah ? Orangtua Lebih Perhatikan Nilai Sekolah Dari Pada Anak Berperilaku Baik ?

Kebanyakan orangtua memberikan hadiah ketika anak mendapatkan nilai akhir semester yang cemerlang. Lalu, tak sedikit juga orangtua yang merasa bangga ketika si kecil berhasil juara dalam kompetisi olahraga.

Namun, apakah orangtua juga memberikan pujian dan hadiah pada anak ketika mereka membantu temannya belajar, menolong seorang nenek menyebrang jalan, atau menemani sang adik menyelesaikan pekerjaan rumah?

Ternyata, berdasarkan hasil survei terbaru sebanyak 80 persen anak di Amerika Serikat mengatakan bahwa orangtua mereka lebih peduli pada pencapaian akademis dan kebahagiaan ketimbang mereka memiliki perilaku baik pada sesama.

“Banyak orangtua begitu memperhatikan kebahagiaan dan kecerdasan anak,” jelas Rick Weissbourd, seorang ketua penelitian dari Harvard Graduate School of Education.

“Aku sama sekali tidak terkejut ketika kebahagiaan berada di peringkat pertama prioritas orangtua. Namun, aku juga tidak kaget ketika pencapaian akademis berada di peringkat kedua,” imbuhnya.

Hasil survei ini dilakukan terhadap 10.000 responden anak dari 30 sekolah di wilayah yang berbeda.

Para peneliti menanyakan pada responden anak-anak untuk mengurutkan hal-hal yang membuat mereka mendapatkan pujian dan hadiah dari orangtua.

Ternyata, peduli pada sesama dan berbuat baik tidak berada di peringkat lima teratas.

“Orangtuaku lebih bangga ketika aku mendapatkan nilai tinggi di kelas ketimbang aktivitasku di komunitas sosial di sekolah,” ujar salah satu responden anak.

Alhasil, para peneliti pun melihat kecenderungan anak-anak usia sekolah dasar zaman sekarang lebih kompetitif dalam mendapatkan prestasi akademis terbaik ketimbang nilai-nilai menolong dan berbuat baik di lingkungan sosial.

“Tekanan pada anak untuk menjadi yang terbaik di sekolah bisa memberikan beban yang berdampak negatif,” ungkap Weissbourd.

Dia (Weisbourd) menuliskan pada hasil studi bahwa beban akademis yang tinggi menyebabkan stres dan depresi pada anak.

Kondisi itu pun memberikan peluang besar untuk anak melakukan hal-hal buruk, seperti misalnya menyontek, kasar, dan kurang peka pada nilai-nilai sosial di lingkungan.
Sebab, studi juga menemukan bahwa 50 hingga 75 persen anak mengaku, pernah menyontek saat ujian di sekolah.

Parahnya, mereka tidak merasa bahwa menyontek itu salah karena kebiasaan itu membuat nilai mereka tinggi sehingga orangtua pun akan memberikan apa yang anak inginkan.


“Ironisnya, ketika anak memiliki perilaku baik, penolong, dan peduli pada etika justru bisa membuat mereka berkembang dengan positif sehingga mendorong mereka untuk bertanggung jawab untuk menjalani hidup dengan bahagia sekaligus sukses di masa depan,” pungkasnya.
SHARE ARTIKEL