Kisah Nyata Dibalik Cerita Hantu Jepang ‘Sadako’

Penulis Unknown | Ditayangkan 15 Dec 2015


Pernah dengar tentang Hantu Sadako? Yap, Hantu Sadako adalah salah satu nama hantu di Jepang yang terkenal dengan sosok wanita berambut panjang menutupi muka dan begitu menyeramkan. Hantu Sadako menampakkan diri dengan cara merangkak, karena menurut cerita hantu ini ia bunuh diri dengan terjun ke sumur tua dan keluar dari sumur tersebut lalu merangkak. Tetapi faktanya Hantu Sadako tidak mati dengan bunuh diri, berikut ceritanya.

Kisah Nyata Dibalik Cerita Hantu Jepang ‘Sadako’

Kisah Nyata Hantu Sadako di Jepang



Sadako Sasaki adalah seorang gadis yang lahir pada 7 Januari 1943, saat ia menginjak usia 2 tahun dia menjadi korban radiasi akibat serangan bom atom oleh Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang. Dan akhirnya dia meninggal saat menginjak usia 12 tahun yang tepatnya pada 25 Oktober 1955.

Sadako didiagnosa terkena penyakit leukimia karena dampak bom atom (an atomic bomb disease). Awalnya tumbuh cacar pada bagian leher dan belakang telinganya, kemudian muncul titik berrwarna ungu di kakinya. Sehingga Sadako harus dirawat dirumah sakit dan doter telah memvonis bahwa dirinya hanya dapat hidup paling lama satu tahun.

Saat sakit dan dirawat dirumah sakit, Sadako meyakini tentang cerita untuk membuat seribu bangau kertas, karena berdasarkan kisah klasik Jepang, jika seseorang membuat seribu bangau kertas, maka permintaannya akan dikabulkan. Sayangnya Sadako hanya mampu menyelesaikan 644 bangau kertas. Sejak saat itu Sadako mulai membuat paper crane untuk meminta kesembuhan bagi dirinya. Untaian bangau kertas digantung di atas tempat tidurnya dengan seutas benang.

Kisah Nyata Dibalik Cerita Hantu Jepang ‘Sadako’

Hari demi hari berlalu, dan kesehatan Sadako tak kunjung sembuh malah terus memburuk. Ibunya membuatkan sebuah kimono bercorak bunga sakura supaya dapat dipakainya sebelum ia meninggal. Setelah keluarganya memaksanya untuk makan sesuatu, Sadako meminta teh hijau dan berkomentar Its good. Kalimat itu adalah kalimat terakhirnya. Dikelilingi oleh keluarganya, Sadako meninggal dunia pada tanggal 25 Oktober 1955 pada usia 12 tahun. Teman-temannya menyelesaikan pembuatan bangau kertas sisanya hingga genap terkumpul 1000 bangau dan menguburkannya bersama jasad Sadako.

Sepeninggal Sadako, teman-temannya menerbitkan suatu koleksi surat-surat untuk menggalang dana yang akan digunakan untuk membangun sebuah monumen peringatan bagi Sadako dan semua anak yang meninggal akibat efek bom atom. Pada tahun 1958 sebuah patung Sadako memegang bangau emas berdiri di Hiroshima Peace Memorial Park, bangsa Jepang menyebutnya dengan nama Genbaku Dome.

SHARE ARTIKEL