Mengapa Bobo Kini tak Lagi Digemari Anak-anak?

 20 Mar 2015  Unknown

Bobo merupakan majalah yang sangat populer di kalangan anak-anak. Anda yang lahir di tahun 90-an tentu saja pernah membaca majalah ini. Atau bahkan mengidolakan tokoh-tokoh dalam cerita majalah ini seperti, Nirmala sang penyihir cantik, atau Oki kurcaci yang nakal.

Mengapa Bobo Kini tak Lagi Digemari Anak-anak?

Maskot Bobo

Tokoh utama dalam majalah ini adalah seekor kelinci berwarna biru dengan baju merah yang bertuliskan huruf ‘B’ dan celana panjang biru, namanya Bobo yang gambarnya selalu dijadikan sebagai cover majalah. Slogan dari majalah ini adalah “Teman Bermain dan Belajar”. Tentu saja majalah ini memiliki cerita-cerita yang mendidik dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Selain menyajikan cerita-cerita yang menarik, majalah ini juga menyajikan artikel-artikel dengan informasi yang bermanfaat. Tidak hanya itu, majalah ini juga mengajarkan anak-anak untuk berkreasi, sehingga bisa melatih kreatifitas anak.

Kehadiran majalah Bobo dikalangan anak-anak tentunya sangat bermanfaat. Dengan majalah ini, anak-anak bisa belajar dengan gembira sambil berkreatifitas. Namun, seiring perkembangan jaman, majalah ini mulai kurang diminati oleh anak-anak. Para orang tua juga lebih memilih membelikan gadget untuk anaknya agar anaknya betah di rumah ketimbang membelikan buku bacaan yang bermanfaat. Sehingga pada era sekarang, anak-anak lebih suka bermain game di gadget dan perangkat komputer ketimbang membaca cerita. Bahkan anak-anak jaman sekarang lebih memilih berjam-jam bermain game sendiri di dalam rumah daripada bermain di luar bersama teman-teman seusianya. Hal ini sungguh mengkhawatirkan.

Ketergantungan Anak terhadap Gadget

Perkembangan teknologi memang sangat membantu pekerjaan manusia. Tapi, penggunaannya juga harus tepat dan sesuai sasaran. Anak-anak usia dini sebaiknya tidak perlu dibiasakan untuk tergantung dengan teknologi, seperti televisi, tablet, komputer, psp, dan play station. Biarkan mereka bermain dan tumbuh normal selayaknya anak-anak pada umumnya. Jangan biarkan mereka memiliki ketergantungan terhadap benda berteknologi canggih yang justru meracuni otak mereka.

Anak Asyik sendiri bermain gadget

Pernahkah anda mendengar tentang kekerasan seorang anak yang dilakukan terhadap teman bermainnya akibat meniru adegan-adegan dari sebuah permainan video game? Ini hanya salah satu contoh dampak buruk dari kemajuan teknologi yang kurang tepat sasaran. Karena seorang anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dan mempraktekannya. Maka dari itu, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak-anak mereka saat sedang menonton televisi atau bermain game. Pilihkan tontonan yang berkualitas atau game yang memicu kecerdasan otak.

Hmm… Jadi ingat masa kecil saya dulu, saat saya masih SD, dimana buku dongeng dan majalah anak-anak menjadi benda yang sangat berharga dan selalu disimpan rapi karena pada saat itu masih belum mengenal yang namanya gadget. Hiburan saat itu hanya televisi dan radio yang saluran/chanelnya juga masih sangat sedikit. Dan banyak acara-acara menarik untuk anak-anak, seperti Tralala Trilili, Keluarga Cemara, Cilukba, dll. Tokoh idola anak-anak pada saat itu mungkin Maissy, Trio Kwek-kwek, Tasya, dll. Sedangkan anak-anak sekarang lebih tertarik dengan lagu-lagu cinta dewasa dan mengidolakan artis-artis dewasa. Sungguh menyedihkan memang. Oleh karena itu, disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi dewasa sebelum waktunya dan kehilangan masa kanak-kanak. Karena masa-masa itu tak akan pernah terulang kembali. Tanamkan gemar membaca sejak dini. Perkenalkan anak-anak anda dengan tokoh-tokoh heroik, tokoh Agama, serta tokoh pejuang Nasional agar nantinya mereka bisa tumbuh dan menjadi orang yang berguna bagi Agama dan Negara saat mereka dewasa nanti.

Semoga artikel ini bisa menjadi renungan untuk para ibu dan dan bermanfaat untuk kita semua. Jangan lupa untuk selalu mampir di wajibbaca.com karena kami akan selalu memberikan artkel-artikel yang menarik, unik, dan bermanfaat untuk anda. Bagilah ilmu, karena ilmu tak akan pernah habis meski telah dibagi kepada banyak orang.