Belum Ditangkap Penyiram Air Keras Novel, Kini Giliran Rumah Pimpinan KPK Diteror Bom

Komentar

Teror bom dirumah petinggi KPK (Merdeka.com)

Selemah inikah nilai hukum Indonesia...

Belum tuntas satu kasus teror yang menimpa Novel Baswedan, rumah pimpinan KPK kini juga diteror bom.

Tak hanya itu, rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif juga dilempari 2 molotov...

Pada 11 April 2017 lalu, menjadi awal mula teror kepada KPK yang sungguh nyata.

Perbuatan keji berupa penyerangan dengan cara penyiraman air keras menimpa Novel Baswedan, salah satu penyidik KPK kala itu.


Novel baswedan, korban penyiraman air keras (tirto.co.id)

Namun, hingga kini detik ini pelaku dari tindakan teror tersebut belum terungkap.

Kini Teror Kembali Terjadi


Teror bom di rumah Ketua KPK Agus Raharjo (tribunnews.com)
Rabu 9 Januari 2019 pukul 06.30 pagi. Kediaman Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Agus Rahardjo, di Perumahan Graha Indah, Jatiasih Kota Bekasi diancam teror bom paralon.

Polri menyatakan benda mirip bom pipa di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo merupakan bom palsu (fake bomb).

"Hasil dari Puslabfor, benda mirip bom di kediaman pimpinan KPK di Bekasi, di rumah Pak Agus firm adalah fake bomb alias bom palsu. Ada memang paralon, paku, kabel, tapi tidak tersambung. Ditemukan juga serbuk putih, setelah kita periksa secara klinis, laboratoris, itu semen biasa," kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal kepada wartawan, Kamis (10/1/2019), seperti dikutip dari detik.com.

Iqbal menegaskan polisi terus melakukan penyelidikan ini untuk mengungkap pelaku teror. Selain meminta keterangan saksi, polisi mendapatkan rekaman CCTV dari area dekat rumah Agus Rahardjo.

Selain di rumah Agus, teror dialami Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Rumahnya di Kalibata, Jaksel, dilempari 2 molotov. Satu molotov meledak, tapi tidak ada korban.

9 Teror Horor Pada KPK


Konferensi pers WP KPK terkait aksi teror bom molotov yang menimpa dua Pimpinan KPK, Rabu (9/1/2019).

Wadah Pegawai (WP) KPK mengatakan, teror terhadap dua pimpinan KPK, yakni Agus Rahardjo dan Laode M Syarif merupakan teror yang kesembilan.

Ketua WP KPK, Yudi Purnomo Harahap menduga teror yang dialami KPK, baik pegawai, pejabat, maupun pimpinan, dilakukan dalam satu jaringan yang sama.

"Kami tegaskan teror ini adalah bagian dari jaringan teror sebelumnya. Ini adalah teror kesembilan yang dialami KPK, baik pegawai, pejabat, maupun pimpinan KPK," ujar Yudi, dikutip dari Tribunnews.com.

Yudi memaparkan, teror pertama yang diterima KPK adalah penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK.

Kedua, kata Yudi, adalah ancaman bom yang ditujukkan ke gedung KPK.

Selanjutnya, yang ketiga adalah teror bom ke rumah penyidik KPK.

Keempat, penyiraman air keras dan kendaraan milik penyidik dan pegawai KPK.

Kelima, papar Yudi, yaitu ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh orang tak dikenal terhadap pejabat dan pegawai KPK.

"Keenam, perampasan perlengkapan milik penyidik KPK. Ketujuh, penculikan terhadap petugas KPK yang sedang bertugas. Kedepalan, percobaan pembunuhan terhadap penyidik," papar Yudi.

"Terakhir, yaitu adanya teror bom dan molotov di rumah Pak Laode dan Pak Agus," imbuhnya.

Menurut Yudi, teror yang dilakukan oleh orang tak dikenal terhadap Laode dan Agus merupakan psywar.

"Karena rumah adalah tempatnya keluarga menemukan kehangatan keluarga. Ini harus dihentikan kalau tidak terungkap akan terus terulang," jelas Yudi.

Ia juga menjelaskan, bahwa terdapat kemiripan dalam pola teror yang dilancarkan.

"Di CCTV ini pelakunya dua orang, kemudian mempunyai korelasi yang sama dengan pelakunya Bang Novel (penyidik KPK Novel Baswedan), dua orang juga. Kemudian modus yang digunakan pakai bom, kemudian sekarang rumah Pak Agus juga diduga bom. Air keras, mobil dimiliki Bang Apip disiram air keras, mata Bang Novel air keras juga," ucap Yudi.

Yudi pun menyimpulkan jika orang dibalik teror ini semua adalah orang yang sama dan jaringan yang sama.

"Dari sini kami menarik kesimpulan hipotesis sementara, bisa jadi ini adalah orang yang sama dan jaringan yang sama. Tapi karena tidak terungkap, mereka terus melakukan tindakan untuk meneror," tandas Yudi.

Pertanyaannya, "SAMPAI KAPAN PELAKU DIBIARKAN BEBAS BERKELIARAN?"
Top