Awas!!! Fenomena Edit Foto Jadi Video Esek-Esek Sedang Marak, Peringatan Bagi Kaum Wanita

Komentar

Gambar ilustrasi dilansir dari tribunnews.com

Nauzdubillah, fenomena "Deepfake" telah memakan banyak korban...

Sedang marak kejahatan pada foto wajah seseorang yang "ditempel" ke tubuh orang lain ala modifikasi foto, tapi diterapkan pada video panas atau esek-esek.

Kaum perempuan kudu waspada dengan tindakan keji ini, dan bijaklah jika ingin upload foto...

Perkembangan teknologi tak pernah lepas dari mudarat meski mulanya selalu diciptakan untuk mendatangkan manfaat. Sama halnya dengan teknologi kecerdasan buatan ( AI) yang sejatinya dirancang untuk mempermudah kehidupan sehari-hari di berbagai sektor.

Belakangan, AI dimanfaatkan oknum tertentu untuk mengembangkan video palsu atau  “ deepfake”.

Istilah yang merupakan gabungan dari proses AI deep learning dan fake alias palsu ini mengacu pada wajah seseorang yang "ditempel" ke tubuh orang lain ala modifikasi foto, tapi diterapkan pada video.

Hasilnya bisa sangat halus dan realistis dengan penggunaan AI, termasuk segala macam ekspresi wajah dan pencahayaan, sehingga tampak meyakinkan.

Dalam konteks video esek-esek, oknum pembuat video "deepfake" mencaplok wajah perempuan di internet, lalu memasangnya pada video yang memperlihatkan badan orang lain tanpa busana.

Hal itu dilakukan sewenang-wenang, tanpa meminta izin pemilik. Alhasil, korban tampak seakan-akan memainkan aksi panas yang tak pernah ia lakukan sama sekali.

Sejumlah selebriti Hollywood menjadi sasaran video deepfake, tapi video palsu ini bisa menyasar siapa saja.

Proses pembuatan video palsu

Dilansir dari kompas.com, proses pembuatan deepfakedi yang sungguh keji tersebut di jelaskan TheVerge melalui video pendek di akun Twitter-nya.


Jadi, deepfake tak cuma bisa memanipulasi video esek-esek, tetapi juga tokoh politik dan hal-hal lainnya yang mendatangkan kontroversi.

Kembali lagi dalam konteks industri video esek-esek, seorang perempuan yang tak mau identitasnya diumbar mengaku telah menjadi korban.

Ia tanpa sengaja melihat sebuah video yang mencantumkan wajahnya, tetapi bukan badannya.

Di video tersebut, ia berbalut baju pink yang memamerkan bagian bahu, berbaring di atas kasur, dan melempar senyum menggoda. Hal yang paling ditakutkan sang korban adalah ketika rekan kerja, keluarga, kerabat, dan pasangannya melihat video tersebut.

Saya merasa dizalimi. Saya ingin merobek semua hal di internet, tetapi saya tahu itu tak mungkin,” kata sang korban, seorang perempuan berusia 40 tahun, sebagaimana dikutip dari Washington Post, Kamis (3/1/2018).

Artis kawakan Scarlett Johansson juga menjadi korban tren deepfake ini.


Scarlett Johansson

Scarlett Johansson sendiri merupakan selebritas yang cukup sering menjadi korban konten esek-esek palsu.

Dulu, Photoshop menjadi andalan bagi para oknum untuk memanipulasi fotonya.

Baru-baru ini muncul pula satu video panas palsu yang menampakkan wajah Scarlett Johansson dan telah ditonton 1,5 juta kali.

Ia meminta kejahatan semacam ini cepat ditindak, jangan sampai terlambat untuk melindungi perempuan lain dan anak-anak kecil.

Tak ada yang bisa menghentikan seseorang memotong dan menempelkan foto wajah saya ke tubuh orang lain dan membuatnya realistis,” kata Scarlett Johansson.

Faktanya, upaya melindungi diri di internet tak ada gunanya. Internet adalah lubang kegelapan yang dalam dan akan memakan dirinya sendiri,” ia menambahkan.

Bukan cuma untuk memuaskan imajinasi visual liar lelaki, deepfake juga menjadi bentuk balas dendam kaum adam ke perempuan tertentu.


Gambar ilustrasi kejahatan siber (convesia.com)

Misalnya saja pada kasus aktivis feminisme, Anita Sarkeesian. Ia telah lama dikucilkan dari internet karena kritik feminisnya terkait budaya populer dan video games.

Belakangan beredar deepfake yang memperlihatkan wajahnya tengah beradegan panas di situs dewasa.

Lebih dari 30.000 kali video itu ditonton. Dalam forum deepfake, poster soal video itu tersebar dan dijadikan meme.

Belum ada solusi

September lalu, Google menambahkan “citra foto pornografi yang tak disengaja” ke daftar konten yang dilarang (ban list).

Artinya, para korban deepfake bisa meminta mesin pencari untuk memblokir hasil penelusuran yang secara keliru menggambarkan mereka sedang beradegan tak senonoh atau dalam situasi video panas.

Namun, solusi ini belum benar-benar menyelesaikan masalah. Jumlah deepfake sudah terlalu banyak dan menargetkan perempuan-perempuan biasa yang tak dikenal publik.

Korban deepfake kerap tak sadar telah menjadi korban, sebab video mereka tak menjadi viral dan hanya dikonsumsi segelintir orang tertentu.

Baca Juga:

Bijaklah dalam upload foto

Bagi wanita, Anda perlu berhati-hati lagi. Seperti dijelaskan diatas, dalam konteks video esek-esek. Oknum pembuat video "deepfake" mencaplok wajah perempuan di internet, siapa saja bukan cuma artis.

Oleh karena itu, agar terhindar dari kejahatan ini adalah tergantung dari diri Anda sendiri.

Demikian, semoga informasi ini bermanfaat.
Top