Membiasakan Anak Mencium Mushaf Al-Quran, Apakah Hal Ini Dibenarkan?

Komentar

Gambar ilustrasi dilansir dari kodain.blogspot.com

Tidak ada dalil untuk mencium mushaf Al-Quran...

Namun banyak orang tua mengajarkan anak-anak mereka mencium Al-Quran setelah membacanya, atau bahkan ketika terjatuh.

Lantas apakah hal tersebut dibenarkan?

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Sholeh Al Munajjid di website beliau, “Apa hukum mencium mushaf yang jatuh dari tempat yang tinggi.

Jawab beliau sambil mengutarakan fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz yang menjadi guru beliau,

Memang tidak ada dalil untuk mencium mushaf seperti itu. Akan tetapi jika seseorang menciumnya, tidaklah mengapa. Ada riwayat dari ‘Ikrimah bin Abi Jahl -seorang sahabat yang mulia- radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwa beliau biasa mencium mushaf, lalu ia mengatakan, “Hadza kalamu robbiy (artinya: ini adalah kalam Rabbku).

Dilansir dari rumaysho.com, intinya mencium mushaf tidaklah masalah akan tetapi hal itu tidak disyariatkan dan tidak ada dalil yang mensyariatkannya.

Akan tetapi jika ada yang mencium mushaf dalam rangka mengagungkan dan menghormati Al Quran ketika jatuh dari tangannya atau jatuh dari tempat yang tinggi, seperti itu tidaklah masalah insya Allah.

Syaikh Dr. Kholid Al Mushlih ketika ditanya hal yang sama, beliau menerangkan bahwa yang terpenting adalah bagaimanakah kita mengagungkan mushaf dengan cara yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Pengagungan mereka adalah dengan membaca, mengamalkan dan tidak meninggalkannya.

Sementara ikutip dari islamidia.com, sebenarnya mencium mushaf Al-quran diperbolehkan karena mengagungkan Al-Qur`an yang berisi petunjuk dari Allah SWT.

Mencium Al-Quran sendiri menurut kitab al-Itqan fi ‘Ulumil Qur`an yang ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi adalah sunah.

Alasan yang dikemukakan beliau adalah bahwa sahabat Ikrimah bin Abu Jahl sering melakukan hal tersebut.

Di samping itu karena mushaf Al-Quran adalah anugerah dari Allah SWT. Karenanya, kita disunahkan untuk menciumnya sebagaimana kita disunahkan mencium anak kecil kita.

Alasan lain yang dikemukakan sebagian ulama sebagaimana dikemukakan Jalaluddin As-Suyuthi adalah bahwa kesunahan mencium mushaf itu dikiaskan atau dianalogikan dengan kesunahan mencium Hajar Aswad.

يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَفْعُلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الاَسْوَدِ ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَلِأَنَّهُ هَدْيُهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَشِرعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ

Disunahkan mencium mushaf karena Ikrimah bin Abu Jahl melakukaknnya, dan (dalil lain) adalah dengan dikiaskan dengan mencium Hajar Aswad sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, dan karena mushaf Al-Qur`an merupakan anugerah dari Allah swt. Karenanya disyariatkan menciumnya seperti disunahkannya mencium anak kecil.” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulumil Qur`an, Bairut-Dar al-Fikr, juz, II, h. 458).

Demikian, Wallahu A'lam.

Baca Juga:
Top