BMKG Sebut Mamasa Alami Fenomena Gempa Swarm, Warga Dihimbau Waspada Pada Hal Ini

Komentar

Gempa yang terus melanda Mamasa, Sulawesi Barat (Foto: Twitter BMKG)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...

BMKG menyatakan Mamasa Sulawesi Barat sedang mengalami fenomena gempa Swarm.

Gempa jenis ini bisa berlangsung dalam durasi waktu yan cukup lama, yaiutu bisa sampai 2 bulan.

Mengenai keadaan tersebut, ini himbauan BMKG!

BMKG menyebut gempa yang terjadi di Mamasa itu merupakan gempa Swarm. Penjelasan tentang gempa Swarm ini disampaikan melalui akun twitter @infoBMKG.

Fenomena Gempa Swarm sendiri merupakan rangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi dalam waktu relatif lama di suatu kawasan. Selain itu, gempa jenis swarm tidak memiliki gempa utama.


Durasi Fenomena Gempa Swarm Cukup Lama

Dilansir dari Inews.co.id, Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Abdul Rosid mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum bisa memastikan kapan rentetan gempa di Mamasa akan berakhir.

Bahkan menurutnya, Fenomena Gempa Bumi Swarm yang pernah terjadi di daerah lain biasanya berdurasi cukup lama yakni satu hingga dua bulan. Hal ini pernah terjadi di Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.

Sejak Dua Pekan Terakhir Kabupaten Mamasa dan Sekitarnya Terus di Guncang Gempa Tektonik.

Gempa bahkan tercatat telah terjadi hingga ratusan kali. Meski tidak menimbulkan likuifaksi seperti di Palu.

Berdasarkan data BMKG mengenai distribusi Gempa Mamasa dan sekitarnya tertanggal 3-20 November, gempa yang teranalisa sudah terjadi 713 kali dan yang dirasakan 235 kali.

Untuk potensi likuifaksi sangat kecil sekali kemungkinan terjadi bahkan tidak ada. Karena kondisi tanah di Mamasa sangat keras dan padat serta bebatuan sangat berbeda dengan kondisi tanah yang ada di Palu,” katanya, Rabu (21/11/2018).

Himbauan Pada Warga


Sejak dua pekan terakhir pengungsi dan anak-anak di Mamasa Sulawesi Barat memilih masih bertahan di tenda darurat karena alasan lebih aman tinggal di bawah tenda daripada di rumah dalam situasi gempa masih terus terjadi.(KOMPAS.com)

Warga diimbau tetap waspada terutama yang tinggal di rumah dengan kondisi bangunan retak.

Warga diimbau agar tidak panik namun tetap waspada dan menghindari bangunan tembok jika gempa kembali terjadi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa,” ucap Rosid.

Untuk diketahui, dalam dua pekan terakhir ribuan warga termasuk anak-anak di Mamasa, Sulawesi Barat, memilih bertahan di tenda darurat, Rabu (21/11/2018).

Alasannya, warga merasa lebih aman berada di bawah tenda-tenda daripada tinggal di rumah karena rawan tertimpa reruntuhan. Seperti diketahui, akibat gempa, banyak rumah warga yang rusak dan retak-retak, sehingga dikhawatirkan ambruk saat diguncang gempa.

Meski tidur beralas tanah dan penerangan seadanya, mereka tetap bertahan di tenda pengungsian dengan kondisi apa adanya.

Dilansir dari kompas.com, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BNPB Mamasa Ian Lebok mengatakan, 8.000 orang pengungsi itu tersebar di beberapa titik di wilayah Mamasa, termasuk Kecamatan Tanduk Kalua, Sumarorong, dan Balla.

Jumlah pengungsi yang panik dan ketakutan sempat mencapai belasan ribu warga, termasuk anak-anak, namun sekarang tinggal sekitar 8.000-an yang tersebar di Sumarorong, Tanduk Kalua, Mamasa, dan beberapa lokasi lainnya,” kata Ian.

Kita doakan saja semoga bencana ini segera berahir.

Semoga saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana di berikan ketabahan serta kesehatan. Aamiin...
Top