MasyaAllah, Keajaiban Mahalul Qiyam, Nabi Juga Ikut Bersholawat Tapi Tak Terlihat

Komentar

mahalul qiyam via nu.or.id

Kenapa kita harus berdiri saat Mahallul Qiyam? Benarkah Nabi ikut bersholawat saat itu? Berikut ini catatan tentang Mahallul Qiyam.

Mahallul Qiyam adalah aktifitas yang ada dalam kegiatan rutin mayoritas umat Islam Ahlussunnah dalam pembacaan kitab-kitab maulid nabi Muhammad  , seperti maulid Ad-Dhiba’, maulid, Al-Barzanji, maulid Simtuddhurar, maulid Adh-Dhiya’ullaami’, dll.

Yuk kita bersama-sama memahami tentang mahalul qiyam tersebut.

Apa makna mahalul qiyam ?

Apa makna mahalul qiyam bagi umat islam. Berikut ini kami jelaskan.

Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul SAW adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa'ad bin Mu'adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : "Berdirilah untuk tuan kalian" (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka'b bin Malik ra.

Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

Itulah apa akna mahalul qiyam bagi umat islam. Kenapa berdiri saat mahallul qiyam ? Beriktu penjelasannya.

Kenapa berdiri saat mahallul qiyam ?

mahalul qiyam berdiri via bisakali.net

Berikut ini adalah catatan mahalul qiyam yang mewajibkan kita untuk berdiri.

Memang kita tidak menemukan dalil baik Al-Quran maupun hadits secara spesifik yang memerintahkan atau melarang kita untuk berdiri di tengah pembacaan rawi. Hanya saja hal ini lebih didorong oleh rasa hormat dan takzim yang begitu besar dari umat kepada rasul yang mereka cintai.

Sementara berdiri yang dilakukan oleh orang tua dan para guru kita lebih karena akhlak mereka terhadap Rasulullah SAW. Para orang tua kita jelas meneladani akhlak para ulama sebagai pewaris para nabi terhadap rasulnya. Ada baiknya kita telaah uraian Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin sebagai berikut.

فائدة) جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد فعل ذلك كثير من علماء الامة الذين يقتدى بهم. قال الحلبي في السيرة فقد حكى بعضهم أن الامام السبكي اجتمع عنده كثير من علماء عصره فأنشد منشده قول الصرصري في مدحه صلى الله عليه وسلم: قليل لمدح المصطفى الخط بالذهب على ورق من خط أحسن من كتب وأن تنهض الاشراف عند سماعه قياما صفوفا أو جثيا على الركب فعند ذلك قام الامام السبكي وجميع من بالمجلس، فحصل أنس كبير في ذلك المجلس وعمل المولد. واجتماع الناس له كذلك مستحسن.

Artinya, “Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. Berdiri seperti itu didasarkan pada istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam.

Al-Halabi dalam Sirah-nya mengutip sejumlah ulama yang menceritakan bahwa ketika majelis Imam As-Subki dihadiri para ulama di zamannya,  Imam As-Subki membaca syair pujian untuk Rasulullah SAW dengan suara lantang,

‘Sedikit pujian untuk Rasulullah SAW oleh tinta emas//di atas mata uang dibanding goresan indah di buku-buku
Orang-orang mulia terkemuka bangkit saat mendengar namanya//berdiri berbaris atau bersimpuh di atas lutut’

Selesai membaca syair Imam As-Subki berdiri yang kemudian diikuti oleh para ulama yang hadir. Kebahagiaan muncul di majelis tersebut dan maulid Rasulullah SAW diperingati di dalamnya.

Pertemuan umat Islam demi kelahiran Rasulullah SAW juga didasarkan pada istihsan,” (Lihat Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Darul Fikr, Beirut, Libanon, tahun 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414).

Dari keterangan di atas kita dapat menarik simpulan bahwa berdiri saat pembacaan rawi berlangsung bukan dilatarbelakangi oleh sebuah perintah wajib di dalam Al-Quran atau hadits. Aktivitas berdiri ketika itu lebih didorong oleh akhlak umat terhadap nabinya. Para ulama memandang bahwa berdiri untuk menghormati Rasulullah SAW adalah sesuatu yang baik (istihsan).

Jadi sudah tau ya kenapa berdiri saat mahallul qiyam itu. Setelah ini kita akan membahas cerita mahalul qiyam dengan kehadiran rasulullah.

Cerita mahalul qiyam

Berikut ini adalah sejarah cerita mahalul qiyam bagi umat islam.

Asal Mula Dan Sejarah Mahallul Qiyaam (Berdiri Di Dalam Acara Pembacaan Maulid). Pembacaan kitab-kitab maulid nabi Muhammad Saw, seperti maulid Ad-Dhiba’, maulid, Al-Barzanji, maulid Simtuddhurar, maulid Adh-Dhiya’ullaami’, dll. telah menjadi kegiatan rutin mayoritas umat Islam Ahlussunnah di seluruh penjuru dunia.

Dan kegiatan ini lebih semarak di bulan Rabi’ul awwal, bulan dimana nabi Muhammad Saw. dilahirkan. Namun ada sebagian kecil umat Islam yang menganggap bahwa kegiatan maulid ini bid’ah yang sesat, karena tidak dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Ketahuilah bahwa tidak semua yang tidak dilakukan oleh nabi itu dilarang. Yang dilarang adalah apabila kegiatan itu selaras dengan kaidah-kaidah hukum haram, yaitu yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akan tetapi apabila kegiatan itu selaras dengan kaidah-kaidah hukum sunnah atau mubah, maka kegiatan itu boleh dilakukan karena tidak bertentangn dengan ajaran agama Islam.

Bahkan bisa jadi yang tidak ada di zaman nabi itu termasuk perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan, karena di dalamnya mengandung pengamalan perintah-perintah Allah dan sunnah-sunnah Rasulillah Saw.

Di akhir pembacaan kitab-kitab maulid, sebelum doa dibacakan semua jama’ah berdiri untuk membaca qasidah (syair-syair pujian kepada baginda nabi Muhammad Saw.) dengan dipimpin oleh salah seorang anggota jama’ah yang memiliki suara paling bagus. Dengan harapan agar makna yang terkandung di daam qasidah itu bisa diresapi, hingga membekas di dalam hati. Banyak air-air mata yang tumpah ketika acaramahallul qiyam sedang berlangsung.

Hal ini karena kekhusu’an, ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang mereka rasakan, seakan-akan menyambut kedatangan baginda Rasulullah Saw.

Timbul pertanyaan dibenak kita, siapakah yang bertama kali melakukan mahallul qiyaam pada acara pembacaan kitab maulid?. Ia adalah Tajuddin As-Subki, seorang ulama ahli hadits yang telah mencapai derajathujjatul islaam (orang yang telah hafal lebih dari tiga ratus ribu hadis, dengan seluruh sanad dan matannya). Beliau adalah guru yang yang sangat alim dan terkenal di zamannya di seluruh penjuru dunia. Beliau memiliki banyak murid yang kebanyakan mereka telah mencapai derajat huffaazh (orang yang telah hafal lebih dari seratus ribu hadis, lengkap dengan sanad dan matannya).

Pada suatu hari beliau mengajak murid-muridnya dan beberapa ulama teman-teman beliau untuk mengadakan pembacaan qasidah. Ketika qasidah sedang dibacakan, tiba-tiba Syaikh Tajuddin As-Subki memegang tongkatnya dan berdiri. Ketika beliau berdiri seluruh jama’ah ikut berdiri.

Ketika berdiri itulah mereka merasakan kedamaian, kenyamanan, dan kekhusyuan yang dahsyat. Air mata mereka mengalir merindukan nabi Muhammad Saw.

Jadi, yang pertama kali melakukanmahallul qiyaam adalah ulama besar, Hujjatul Islaam Syaikh Tajuddin As-Subki. Beliau adalah ulama yang sederajat dengan Imam An-Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan imam-imam besar yang lain.

Itulah sejarah cerita mahalul qiyam bagi umat islam. Selanjutnya kita akan menyajikan lirik mahalul qiyam lengkap dari Habib Syech.

Mahalul Qiyam

Ya nabi sallam alaika
Ya rossul sallam alaika
Ya habib sallam alaika
Sholawatullah alaika

Asyroqol badru alaina
Fah tafat minhul buduuru
Mitsla husni maa roaina
Qothu ya wajhas sururi

Anta syamsun anta badrun
Anta nuurun fauqo nuri
Anta iksirun wa gholil
Anta misbahus suduri

Ya habibi ya muhammad
Ya arusal khofiqoini
Ya muayyad ya mumajad
ya imamal qiblataini

Man roa wajhaka yas ad
Ya karimal walidaini
Haudluka shofil mubarod
Wirduna yaumannusuri

Marhaban ya waliyyal hasanati
Marhaban ya rofiad darojati

Marhaban marhaban ya nurol aini
Marhaban marhaban jaddal husaini

Marhaban kaffir anni sayadzunuba
Marhaban waghfir ani sayyiati

Marhaban marhaban ya nurol aini
Marhaban marhaban jaddal husaini

Anta ghoffarul khotoya (Ya Allah)
Wadz dzunubil mubiqoti (Ya Allah)

Robbi faghfirli dzunubi (Ya Allah)
Bibarkatil hadi muhammad (Ya Allah)

Anta sattarul masawi (Ya Allah)
Wa muqilu atsrati (Ya Allah)

Alimus sirri wa akhfa
Mustajibud da awati
Robbi farhamna jami a
Bi jami is sholihati

Tho la al badru alaina
Min tsaniyyadil wada
Wajabas syukru alaina
Maa da alillahi da

Marhaban ya marhaban ya nurol aini
Marhaban jaddal husaini
Marhaban marhaban 2x

Sholallahu ala muhammad
Sholallahu alaihi wasalam
Sholallahu ala muhammad
Ya robbi sholli wasalim

Itulah artikel tentang mahalul qiyam bagi umat islam. Semoga bermanfaat dan dapat menambah keimanan.
Top