Heboh Warga Kabupaten Batang Minta Disuntik Mati, Begini Hukumnya Dalam Islam

Komentar

Gambar ilustrasi (ISTIMEWA)

Na'udzubillah...

Heboh warga Kabupaten Batang menderita sakit maag kronis menahun yang tak kunjung sembuh.

Karena putus asa, ia mengirimkan surat ke kejaksaan untuk meminta diperbolehkan suntik mati.

Perlu diketahui, begini hukumnya dalam islam.

Afandi (48) warga Kabupaten Batang menderita sakit menahun yang tak kunjung sembuh. Karena alasan tersebutlah Afandi nekat mengirimkan surat ke kejaksaan agar diperbolehkan disuntik mati.

Dari hasil pemeriksaan, ia menderita sakit maag kronis yang sudah 4 tahun tidak pernah berobat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Dr Hidayah Basbeth bersama Bupati Batang Wihaji telah mendatangi rumah Afandi di Desa Timbang RT 5 /RW 2, Kecamatan Banyuputih.

Wihaji menjelaskan pihaknya telah memberikan motivasi pada Afandi untuk kembali bersemangat dan ada keinginan untuk sembuh. Salah satu caranya adalah mau berobat ke rumah sakit.

"Bukan persoalan apa, kita ini manusia sudah ditakdirkan Tuhan untuk lahir di dunia, jangan melawan takdir. Makanya tadi kita kasih motivasi agar lebih bersemangat kembali," kata Wihaji.

Setelah diperiksa tim kesehatan Puskesmas Banyuputih dan diberi semangat oleh Wihaji agar membatalkan niatnya dan mau berobat, ia kemudian dibawa ke rumah sakit.

Afandi yang didampingi oleh istrinya, Salehati kemudian dibawa ke RSUD Kalisari Batang, seperti dilansir dari detik.com.

Hukum Meminta Suntik Mati dalam Islam

Panjang umur dengan amal yang shalih lebih baik bagi seorang mukmin, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:

Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzy, di shahihkan oleh Albani).

Beliau juga bersabda:

Beruntunglah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.“ (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim, dishahihkan oleh Albani).

Ada banyak hadits yang melarang kita mengharapkan kematian, diantaranya:

Janganlah mengharapkan kematian, dan jangan pula berdoa memohon kematian sebelum datang waktunya! Karena amalnya akan terputus jika ajal menjemputnya, dan karena umur seorang mukmin tidak akan menambah keculi kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2682).

Janganlah mengharapkan kematian, karena bisa jadi, ia adalah seorang yang baik, dan diharapkan kebaikannya akan bertambah. Dan bisa jadi, ia adalah seorang yang jelek, dan diharapkan ia berubah mengharapkan ridho Alloh (dengan taubat dan istighfar).” (HR. Bukhari, no. 7235)

Janganlah mengharapkan kematian karena tertimpa musibah duniawi, jika terpaksa, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Alloh panjangkan hidupku, jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku’!” (HR. Bukhari, no. 5671, An-Nasa’i, no. 1820, dishahihkan oleh Albani).

Anas bin Malik radhiallahu’anhu mengatakan: “Seandainya aku tidak mendengar Nabi –shollallohu alaihi wasallam pernah bersabda ‘Janganlah mengharapkan kematian’, tentunya aku sudah mengharapkannya.” (HR. Bukhari, no. 7233).

Baca Juga:

Para ulama membedakan antara mengharapkan kematian karena fitnah (cobaan) duniawi, dengan mengharapkan kematian karena fitnah ukhrowi (agama).

Yang pertama hukumnya makruh, yang kedua hukumnya boleh (Lihat Syarh Muslim, hadits no 2680, karya Imam An Nawawi).

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah doanya, mengatakan: “Jika Engkau berkehendak memberikan fitnah (cobaan dalam agama) kepada hambamu, maka cabutlah (nyawa)ku dalam keadaan tidak tertimpa fitnah (cobaan) itu!

Lajnah Da’imah (25/399) yang diketuai Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Mengharapkan kematian karena cobaan duniawi seperti sakit, miskin dsb, hukumnya makruh.“

Lajnah Da’imah (2/323) juga mengatakan: “Mengharapkan kematian tidak diperbolehkan, kecuali jika takut dengan fitnah (cobaan) dalam agamanya“, seperti dilansir dari rumaysho.com.

Sementara mengahiri kematian sebelum waktunya atau bunuh diri, dosanya sangat besar.

Bahkan ada ancaman khusus baginya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda;

Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka di neraka jahanam nanti besi itu selalu di tangannya, ia menusuk-nusukkannya ke perutnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka di neraka jahanam nanti ia akan terus meminumnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka di neraka jahanam nanti, ia akan menjatuhkan (dirinya) selama-lamanya.” (HR. Muslim, 109).

Apakah dosa orang bunuh diri tidak diampuni? Jika Allah berkehendak, dosa bunuh diri bisa diampuni, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki.” (Qs. An-Nisa: 48).

Demikian, Wallahu a’lam.
Top