Bayi Bermata Satu Lahir di Mandailing Natal, Diduga Ini Penyebabnya!

Komentar

Kasus kelahiran langka bayi bermata satu terjadi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. (Reza Efendi/ Liputan6.com)

Subhanallah...

Seorang bayi bermata satu berjenis kelamin perempuan lahir di RSUD Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis 13 September 2018 sore.

Sementara itu, dokter menduga hal ini sebagai penyebabnya!

Bayi berjenis kelamin perempuan ini diketahui lahir melalui operasi cesar.

Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina, Syarifuddin Nasution, mengatakan bayi tersebut lahir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan, pada Kamis, 13 September 2018, sekitar pukul 15.25 WIB.

Syarifuddin ketika melihat langsung kondisi anak tersebut mengatakan, bayi ini hanya memiliki satu mata dan mulut. Dia tidak memiliki hidung.

Menurut dia, bayi bermata satuseperti itu tergolong langka dan merupakan kasus ke-7 yang terjadi di seluruh dunia. Sebelum kejadian di Panyabungan, kasus yang sama terakhir kali terjadi di Mesir.

Penyebab bayi hanya bermata satu dan mulut ini masih belum diketahui secara pasti.



Dokter menduga, salah satu kemungkinan, disebabkan virus rubella. Bisa juga karena obat-obatan atau merkuri.

"Jika dikaitkan dengan pekerjaan ayah sang bayi sebagai penambang, bisa jadi. Kami masih kesulitan mendapat informasi karena keluarganya masih tertutup," kata Syarifuddin seperti dilansir Antara.

Baca Juga: 

Saat ini kondisi bayi sangat memprihatinkan.

Bayi bermata satu ini direncanakan dirujuk ke Medan. Namun, melihat kondisi bayi, dokter memprediksinya hanya bertahan satu hingga tiga hari. Oleh karena itu, tim dokter masih membuat pertimbangan.

"Kami takut di jalan karena dari keterangan dokter kondisi bayi kemungkinan hanya bertahan hidup satu sampai tiga hari," kata Syarifuddin, seperti dilansir dari liputan6.com.

Keluarga bayi masih tertutup dan syok.

"Kita sudah melakukan pengecekan. Tapi, belum sempat menemui orangtuanya, karena masih syok," kata Syarifuddin.

Syarifuddin menyebut, dari keterangan dokter yang melakukan penanganan terhadap bayi, harapan hidup bayi bermata satu sangat kecil.

Sampai saat ini pihak rumah sakit masih melakukan perawatan intensif. Setiap 15 menit sekali, bayi dicek kondisinya.
Top