Tawadhu Adalah Sikap yang Mulia, Begini Cara Menjadikan Diri agar Tawadhu

Komentar

tawadhu adalah via sesawi.net


Kita sebagai manusia apalagi sebagai umat muslim tidak boleh berperilaku takabur atau sombong. Salah satu penyakit hati dalam diri manusia yang dapat menutup jalan hidayah Allah swt adalah sifat sombong atau takabur. Orang sombong dalam Islam adalah penyakit yang bisa melanda seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin, orang alim dan bodoh, yang muslim maupun non muslim, dan lain-lainnya.

Tawadhu adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”.

Beberapa contoh dari sikap tawadhu’ adalah seperti menghargai pihak lain, karena memang setiap manusia ingin dan berhak untuk dihargai keberadaannya, sehingga dengan sikap tawadhu’ ini akan meminimalisir perasaan terhina dan tidak dihargai.

Anjuran Bersikap Tawadhu

Banyak nash-nash baik Al-Qur’an yang menyuruh pada sikap tawadhu diantara firman Allah dalam surat Asyura ayat 215 :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين

Yang artinya : “Dan Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS Asy Ssuara: 215)

Adapun dari assunah yaitu sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh iyyadh bin khimar dia berbeda: Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri sehingga salah seorang dari kalian tidak saling membanggakan atau yang lain dan salah seorang dari kalian tidak mendzalimi yang lain (H.R muslim). Rasulullah menyuruh agar umatnya bersifat tawadhu’ dan agar disenangi oleh yang lain, beliau sering membuat perumpamaan dan contoh-contoh :

لاتطرونىكمااطوت النصارى ابن مريم انمااناعبد فقولواعبدالله ورسوله (المواهب الله نية )

Yang artinya : “Kamu jangan memuji aku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji putera maryam, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan utusannya.”

Jenis-Jenis Tawadhu

ilustrasi tawadhu via tongkronganislami.net

Tawadhu ada 2 jenis, yaitu tawadhu yang terpuji dan tawadhu yang dibenci. Berikut ini penjelasan mengenai 2 jenis tawadhu.

a. Tawadhu yang Terpuji

Tawadhu yang terpuji adalah ketawadhuan seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah swt. Contoh perilaku tawadhu ini, antara lain :
  1. Tidak berlebihan, baik dalam perhiasan, makanan, dan minuman;
  2. Sopan santun dalam bertindak dan bersikap;
  3. Merendahkan nada suaranya;
  4. Gemar menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

b. Tawadhu yang Dibenci

Tawadhu yang dibenci adalah tawadhunya seseorang kepada Allah karena menginginkan dunia ada di sisinya. Contoh perilaku tawa«u ini, antara lain :
  1. Bersikap sopan santun karena memiliki maksud yang tidak baik;
  2. Tidak berlebihan memakai harta karena takut dicuri atau dimintai zakat;
  3. Menolong orang yang membutuhkan pertolongan dengan maksud ada imbalan dari yang ditolongnya.
Adapun bersikap tawadhu pada semua makhluk, maka hukum asalnya bahwa perbuatan tersebut terpuji jika diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT, sabda nabi SAW :

“Tidak akan berkurang harta karena bersedekah dan tidaklah seorang hamba bersikap pemaaf kecuali akan ditambah kemuliaan oleh allah SWT dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu kecuali akan diangkat dari derajat oleh Allah SWT, sedangkan bersikap tawadhu pada ahli dunia dan orang Zalim maka hal tersebut bertentangan dengan sikap izzah."

Lima Tanda Orang Tawadhu’ Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad

Seseorang yang bersikap sebaliknya, takabur sangat dibenci oleh Allah SWT. Orang takabur diancam tidak akan masuk surga sampai ia bertobat dan tidak lagi menjadi orang takabur. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah, halaman 148-149, menjelaskan tanda-tanda orang tawadhu’ sebagai berikut :

فمن أمارات التواضع حبُّ الخمول وكراهية الشهرة وقبول الحق ممن جاء به من شريف أو وضيع. ومنها محبة الفقراء ومخالطتهم ومجالستهم. ومنها كمال القيام بحقوق الإخوان حسب الإمكان مع شكر من قام منهم بحقه وعذرمن قصَّر.

Artinya : 
“Tanda-tanda orang tawadhu’, antara lain, adalah lebih senang tidak dikenal dari pada menjadi orang terkenal; bersedia menerima kebenaran dari siapapun asalnya baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya; mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka; bersedia mengurusi dan menuanikan kepentingan orang lain dengan sebaik mungkin; berterima kasih kepada orang-orang yang telah menunaikan hak yang dibebankan atas mereka, sementara memaafkan mereka yang melalaikannya.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan bahwa tanda-tanda orang tawadhu’ adalah sebagai berikut :

Pertama,  tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal. Orang seperti ini menghindari penonjolan diri atau mencari muka demi meraih popularitas. Artinya orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang ikhlas bekerja tanpa pamrih mendapatkan kemasyhuran di tengah-tengah masyarakat, apalagi mencari pujian.

Kedua, menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial, dari orang yang menyatakannya. Hal ini sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi, “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla (Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya)." Jadi orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang sportif atau jujur.

Ketiga, tidak segan-segan untuk bergaul dengan fakir miskin, dan bahkan secara tulus mencintai mereka. Hal ini persis seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut : “Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i.... yuhibbul  fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum.” (Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’... beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.)

Keempat, ringan tangan dalam membantu orang-orang yang memerlukan bantuan sehingga bersedia bertindak atas nama mereka.  Ia tidak merasa turun derajat jika yang ia bantu ternyata dari kalangan yang lebih rendah atau orang-orang biasa. Dengan kata lain orang tawadhu’ tidak suka bersikap diskriminatif sehingga hanya bersedia membantu orang-orang yang sederajat atau lebih tinggi saja.

Kelima, tidak merasa berat untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah membantu menunaikan kewajibannya, karena suatu alasan, tanpa memandang status sosialnya. Ketika ternyata ada yang lalai dalam membatu, ia tidak keberatan untuk memaafkannya. Dengan kata lain orang tawadhu’ tentu  berterima kasih atas kebaikan orang lain dan tidak keberatan untuk memaafkan mereka yang telah berbuat salah.

Keutamaan Sifat Tawadhu dalam Islam

ilustrasi tawadhu via tarekatqodiriyah.wordpress.com

1. Sikap Tawadhu’ akan memberikan kemuliaan di dunia dan akhirat

Sebuah hadis menjelaskan tentang keutamaan dari sifat tawadhu’ salah satunya adalah dapat meninggikan derajat manusia di mata Allah sang penciptanya, baik kemuliaannya di dunia maupun di akhirat. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

2. Tawadhu’ merupakan tauladan dari akhlak mulia yang dimiliki oleh para Nabi

Sifat tawadhu’ telah dimiliki oleh para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam pada masanya. Contohnya adalah pada Nabi Musa ‘alaihis salam yang rela melakukan pekerjaan rendahan asalkan halal, membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta, Nabi Daud ‘alaihis salam yang juga lebih memilih makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri, Nabi Zakariya yang dahulunya berprofesi sebagai seorang tukang kayu, serta sifat tawadhu’nya Nabi Isa yang diceritakan dalam Firman Allah bahwa nabi Isa pernah berkata :

وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا ٣٢

Artinya :
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

3. Tawadhu’ membuat kita lebih adil, disayangi, dicintai di tengah manusia

Pada dasarnya sikap tawadhu’ adalah sikap yang tak hanya mulia di hadapan Allah tapi juga disukai oleh banyak manusia. Seperti sifat tawadhu’ yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akhirnya memberi keberhasilan baginya untuk dicintai banyak manusia dan mempermudah proses penyebaran agama Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadis riwayat Muslim, bahwa :

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim).

4. Sikap Tawadhu’ merupakan tauladan langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 21 bahwa :

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

Artinya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban juga menceritakan tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap memberi salam pada anak kecil walaupun kedudukan yang dimiliki oleh anak kecil tersebut jauh lebih rendah dari pada kedudukan yang dimiliki oleh beliau. Hal ini sangat jarang terjadi dimana seseorang rela memberi ucapan salam pada orang lain yang dirasa kedudukannya jauh berada di bawah derajat dirinya. Padahal belum tentu ia memiliki derajat yang lebih tinggi di mata Allah.

Dalam hadis tersebut dikisahkan oleh Anas yang berkata :

“Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban)

Selain itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki kebiasaan mulia lain di rumahnya. Mulai dari membantu istrinya, hingga menjahit dan memperbaiki sendiri sandal maupun bajunya yang sobek. Walaupun di hadapan umatnya ia begitu diagungkan dan dicintai.

Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Urwah bertanya kepada ‘Aisyah :

“Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?”

Kemudian Aisyah menjawab :

“Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain juga pernah menceritakan tentang betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membantu untuk meringankan pekerjaan istrinya tanpa merasa malu ataupun gengsi walaupun ia adalah seorang suami sekaligus seorang Nabi. Dalam hadis ini ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa saja yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah menjawab :

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari).

Contoh Tawadhu dalam Kehidupan Sehari-hari

ilustrasi sikap tawadhu via nu.or.id

Perilaku tawadhu harus dimiliki oleh setiap muslim. Kita bisa mempraktekan sikap tawadhu dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, kantor, dan bermasyarakat. Berikut contohnya :
  1. Menghormati orang tua di rumah, tidak berani menyela atau tidak membentaknya
  2. Menaati perintah orang tua
  3. Tidak sombong atau iri dengan kakak atau adik di rumah
  4. Memberikan bantuan kepada teman di sekolah dengan ikhlas dan tidak mengharapkan pujian dari teman.
  5. Menerima saran maupun kritik dari orang lain
  6. Meminta ijin jika ingin mendahului orang yang lebih tua
  7. Menyayangi dan membimbing ke arah yang baik kepada yang lebih muda
  8. Menyapa orang lain atau kerabat jika bertemu dengan mengucapkan salam
  9. Menampakan muka yang gembira ketika berjumpa dengan teman
  10. Tidak sombong ketika memperoleh suatu prestasi atau penghargaan karena semata-mata pertolongan dari Allah.

Manfaat Punya Sifat Tawadhu

ilustrasi manfaat tawadhu via mulqannuralfaruq.blogspot.com

Tawadhu’ adalah sifat terpuji yang selain disukai Allah tapi juga memberi banyak manfaat bagi yang menerapkan. Sikap rendah hati dan tidak pernah menyombongkan kemampuan yang diri ini memberi manfaat positif seperti:

1. Mendapat Simpatik dari bayak orang

Sikap tawadhu’ lebih disukai dari pada sikap yang sombong dan jumawa oleh karena itu seseorang yang menerapkan sikap tawadhu’ akan mendapat banyak simpati dari orang-orang di sekitarnya.

2. Mempunyai Banyak Teman

Kemajuan teknologi dan modernisasi yang terus berkembang dengan pesatnya ini membuat kita harus pintar-pintar memilih teman untuk menghindari pengaruh-pengaruh negative yang diakibatkan dari tuntutan-tuntutan kemajuan teknologi tersebut.

Dengan memiliki sikap tawadhu’, akan membuat orang lain jadi lebih nyaman berteman dan bergaul dengan kita. Karena sifat tawadhu’ memberi banyak manfaat dan pengaruh baik bagi orang-orang di sekitarnya sehingga akan mendapat penilaian positif dari orang-orang untuk dijadikan teman.

3. Dihormati Orang

Sikap rendah hati dan tidak pernah menyombongkan diri ri hadapan orang lain terhadap ilmu-ilmu yang dimiliki akan secara otomatis mendapatkan nilai plus dan rasa hormat dari orang lain.

4. Hatinya Selalu Tentram dan Tenang

Dengan sikap tawadhu’ akan dapat membuat hati dan pikiran jadi lebih terasa tenang serta tentram. Tidak perlu merasa khawatir tentang kemampuannya yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain ataupun merasa tidak dihargai ilmunya. Karena ia sadar bahwa kemampuan dan keilmuan yang dimiliki bukan untuk diumbar apalagi dipuji-puji oleh orang lain.

5. Terhindar Dari Sifat Sombong Atau Takabur

Tawadhu’ akan menghindarkan kita dari sifat sombong dan takabur karena arti dari sifat tawadhu’ sendiri menunjuk pada sifat rendah hati dan menyadari bahwa manusia saling membutuhkan manusia lainnya meski apapun harta dan kasta yang dimilikinya.

Demikianlah artikel mengenai tawadhu adalah. Secara keseluruhan sifat tawadhu akan memberi banyak manfaat bagi orang yang menerapkan dan bagi orang-orang lain di sekitarnya. Semoga artikel ini bermanfaat dan mon maaf jika ada kekurangannya.
Top