MUI Lampung Imbau Umat Muslim Tak Ikut Imunisasi Campak-Rubella, Berikut Fakta Vaksin MR

Komentar

Imunisasi MR bagi anak sekolah dilakukan di Jakarta Pusat Agustus 2017, dilansir dari bbc.com.

Amankah vaksin MR untuk anak-anak? atau justru berbahaya?

Daripada bertanya-tanya, sebaiknya anda simak fakta-fakta berikut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengimbau warga muslim Kepri tak ikut serta imunisasi campak-rubella. Imbauan ini dikeluarkan karena vaksin tersebut belum mendapat sertifikat halal dari MUI pusat.

Dalam surat itu, MUI Kepri menyebutkan pengurus harian Dewan Pimpinan MUI Provinsi Kepri pada 28 Juli 2018 telah menggelar rapat di Batam terkait informasi imunisasi campak/MR. MUI Kepri menyampaikan empat pesan penting.

  • Pertama, sampai saat ini vaksin campak/MR belum mendapat fatwa halal dari MUI pusat.
  • Kedua, meminta instansi terkait (Dinas Kesehatan) menunda penyuntikan vaksin tersebut sampai diterbitkannya sertifikat halal oleh LP-POM MUI Pusat.
  • Ketiga, agar masyarakat muslim tidak ikut serta dalam proses penyuntikan vaksin campak/MR sampai adanya keputusan resmi dari LP-POM MUI Pusat.
  • Keempat, meminta MUI pusat segera melakukan pembahasan terkait campak/MR bersama DPR RI, Kementerian Kesehatan, serta instansi terkait dan menyampaikan hasil keputusan MUI di seluruh Indonesia untuk menjadi acuan dalam melakukan sosialisasi.
Hal ini menimbulkan polemik di masyarakat, banyak yang bertanya-tanya apakah vaksin ini aman untuk anak-anak mereka? atau justru berbahaya?

Berikut Fakta-fakta Vaksin Measles Rubella (MR)

1. Vaksin Measles Rubella (MR) kali ini adalah tahap ke dua.

Tahap ini berlangsung pada Agustus-September 2018 di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Tahap pertama telah selesai di Pulau Jawa, 2017 lalu.

Pemerintah pun menyediakan 4,3 juta botol vaksin MR beserta alat suntik dan logistik pendukungnya, buku Petunjuk Teknis pelaksanaan, serta media sosialisasi kepada masyarakat (iklan layanan masyarakat) baik di televisi, radio dan media sosial.

2. Vaksin MR efektif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella, aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia, termasuk negara-negara Islam. 

Vaksin MR yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan izin edar dari Badan POM.

3. Sertifikasi Halal Vaksin MR Dipertanyakan

Pemberian vaksinasi MR untuk masyarakat di Kabupaten Siak, Riau, ditunda. Penundaan dikarenakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat merasa bahwa  zat yang terkandung dalam vaksin tersebut belum mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kabar kehalalan vaksin MR tersebut menjadi perdebatan di media sosial. Beberapa setuju dengan penundaan pemberian vaksin MR hingga mendapat sertifikasi halal.

4. Meski menjadi perdebatan, pelaksanaan imunisasi tetap dilaksanakan.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek menyatakan, kabar vaksin MR mengandung unsur kandungan tak halal tidak mempengaruhi pelaksanaan imunisasi MR.

Vaksin itu harus diberikan segera kepada anak-anak Indonesia agar terhindar dari ancaman virus penyakit mematikan yang tidak diketahui persis karakteristiknya itu.

"Meski masih dalam proses dengan MUI, kita juga sudah menggandeng Kementerian Agama dan semuanya berjalan dengan baik. Pelaksanaan imunisasi ini penting untuk mencegah virus penyakit yang mematikan dan mudah menjangkiti anak-anak kita," jelas Nila, seperti dilansir dari liputan6.com.

"Kita berdasar pada fatwa MUI yakni ayat 4 tahun 2016 yang menyatakan sesuatu dapat dilakukan jika sifatnya untuk pengobatan atau mencegah virus penyakit yang mematikan. Ini dibolehkan dan diperkenankan untuk digunakan," kata Nila.

5. Sertifikasi Halal masih diupayakan

Sertifikasi halal untuk vaksin MR pun masih terus diupayakan. PT Bio Farma (Persero) selaku distributor mendukung sertifikasi halal ini.

Proses sertifikasi bukanlah sesuatu yang mudah dan cepat didapatkan. Ada serangkaian tahapan yang harus dilalui. Demikian kata Corporate Secretary PT Bio Farma (Persero), Bambang Heriyanto saat menjelaskan, seluk-beluk sertifikasi halal vaksin MR.

"Sertifikasi halal vaksin ini kewajiban dari manufaktur. Manufaktur di sini adalah produsen vaksin dan sumber produksi vaksin dari India. Kami ini hanya distributor," jelas Bambang usai acara konferensi pers imunisasi MR di Kementerian Kesehatan, Jakarta, ditulis Rabu (1/8/2018).

6. Sejumlah orang tua mengaku tidak bersedia anak mereka diberi imunisasi campak dan rubella atau MR dengan alasan vaksin tersebut dikhawatirkan palsu atau tidak memiliki sertifikat halal.

Kekhawatiran orang tua ini muncul seiring dengan program imunisasi massal untuk wilayah luar Pulau Jawa yang dimulai hari Rabu (01/08).

Salah satu orang tua yang mengaku ragu-ragu untuk menyertakan anaknya mengikuti vaksin MR adalah Linda Sukmawati. Anak ketiganya yang berusia dua tahun belum mendapat imuninasi, tidak seperti kedua kakaknya.

"Saya malah berpikir, jangan-jangan yang selama ini masuk ke anak saya pun (vaksin) palsu. Jadi ya buat apa juga kalau yang dulu palsu, terus kenapa sekarang saya harus imunisasi?"ujar Linda

BACA JUGA: Telinga Lebam dan Berdarah, Gadis ini Ditemukan Meninggal Diduga Karena Memakai Headset

Sejumlah orang tua lain mengaku mengkhawatirkan aspek halal tidaknya vaksin MR.

Ini mendorong Majelis Ulama Indonesian (MUI) Provinsi Kepulauan Riau mengimbau warga Muslim untuk tidak ikut serta imunisasi campak dan rubella (MR) yang kembali digelar pemerintah.

7. Terlepas dari pro dan kontra yang beredar tentang Vaksin MR,  anak-anak butuh imunisasi.

Dokter spesialis anak dan penulis buku Pro Kontra Imunisasi, dr. Arifianto SPA, menyebutkan asupan makanan bergizi, suplemen, serta ASI (air susu ibu) bagi anak penting tetapi harus dibarengi dengan vaksinasi yang memberikan kekebalan spesifik pada anak-anak.

"Vaksin itu memberikan kekebalan spesifik terhadap penyakit tertentu seperti campak dan polio. Kenapa vaksin diberikan pada usia sangat dini, bahkan bayi baru lahir pun langsung diberi imunisasi, karena pertama kekebalan tubuh belum sempurna," jelas Arifianto.

"Kedua, (tubuh) mereka belum mengenali kuman-kuman yang bisa membuat penyakit itu, (tubuh) mereka sudah dikenalkan sejak dini untuk membentuk kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tadi," imbuhnya.

Imunisasi ini memiliki manfaat yang lebih besar karena dapat mencegah kematian akibat komplikasi akibat penyakit campak.

Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Sementara Rubella jika dialami perempuan yang hamil trimester pertama akan menyerang janin dan dapat lahir dengan kebutaan atau kecacatan, gangguan jantung dan pertumbuhan, yang disebut rubella congenital.

Data juga menunjukkan campak masih merupakan penyebab kematian 134.200 anak-anak di seluruh dunia setiap tahunnya, termasuk 54.500 anak di Asia Tenggara.
Top