Menguak Fakta Dari Beredarnya Berita Makam Mbah Priok yang Mengeluarkan Cahaya

Komentar

Makam mbah priok via megapolitan.kompas.com

Woow!!! Benarkah makam mbah priok mengeluarkan cahaya? Simak penjelasannya disini. Mbah priok merupakan salah satu tokoh atau legenda yang ikut menyebarkan agama islam di Indonesia.

Bagi rakyat Indonesia pada umumnya, Mbah Priok bukanlah nama yang sangat dikenal. Tetapi, berbeda bagi warga Jakarta, Mbah Priok adalah tokoh legenda mereka. Diantaranya makam Mbah Priok yang memancarkan cahaya hingga menembus angkasa. Mbah Priok adalah seorang ulama yang berjasa. Dari makam laki-laki yang masih memiliki keturunan Habib ini terlihat semburat cahaya hingga menembus angkasa. Banyak kisah beredar dari keluarnya cahaya dari makam mbah priok ini.

Ketua Yayasan Makam Mbah Priok, Wahyu menyampaikan, pihaknya juga mengizinkan acara "Malam 1000 Cahaya", untuk penjelasan lebih lanjut tentang makam mbah priok yang mengeluarkan cahaya ini yuk simak kisahnya dibawah ini.

MAKAM MBAH PRIOK MEMANCARKAN CAHAYA SAMPAI ANGKASA

Bagi rakyat Indonesia pada umumnya, Mbah Priok bukanlah nama yang sangat dikenal. Tetapi, berbeda bagi warga Jakarta, Mbah Priok merupakan tokoh legenda yang namanya tetap harum hingga kini. Mungkin orang lebih mengenal Priok sebagai pelabuhan atau sebagai kawasan di daerah Jakarta Utara, daripada Mbah Priok sendiri sebagai seorang tokoh manusia yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di masa penjajahan Belanda.

Sosok Mbah Priok adalah sosok yang melegenda, setidaknya bagi masyarakat Jakarta. Keteguhan dan tekadnya yang besar dalam menyebarkan agama Islam di masa lalu menjadi alasan kuat bagi masyarakat setempat menjunjung tinggi namanya, termasuk ketika tokoh kelahiran Sumatera ini telah tiada.

Bagi masyarakat Jakarta, Khususnya masyarakat Betawi, Mbah Priok adalah tokoh sejarah yang layak dijadikan panutan. Sekalipun bukan lahir di Betawi, tetapi mereka menganggapnya sebagai leluhur sendiri. Saat ini, Mbah Priok sudah tiada. Meski demikian, disekitar makamnya, tumbuh komunitas masjid taklim yang secara rutin mengadakan pengajian agama Islam dan ilmu-ilmu agama. Dalam hal ini, makam Mbah Priok menjadi berkah dan pelecut semangat tersendiri bagi para warga sekitar agar semakin giat belajar agama.

Bagi sebgai umat Islam di Jakarta, utamanya yang aktif dalam sebuah pengajian atau majelis taklim, bisa jadi telah mengetahui asal-usul makam tersebut. Karena, sejarah makam tersebut erat kaitannya dengan nama tokoh ulama besar yang juga penyebar agama Islam di DKI Jakarta dan Pulau Jawa pada abad ke-18.

Mbah Priok adalah seorang ulama. Masyarakat menyebutnya Habib. Ia dilahirkan di Ulu, Palembang pada tahun 1727 dengan nama Imam al'arif Billah Sayyidina al-Habib  bin Muhammad al-haddad Ra. Menurut catatan, pada tahun 1756, dalam usia 29 tahun, ia pergi ke Pulau Jawa. Imam al'-Arif Billah tak sendirian. Ia pergi bersama Al-Arif Billah al Habib Ali al-Haddad dan tiga orang lainnya menggunakan perahu. Mereka berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Aneka rintangan pun datang menghadang.

Legenda yang terbesar dari mulut ke mulut, konon salah satu rintangan yang menghadang di jalan adalah armada Belanda dengan persenjataan lengkap. Tanpa peringatan, perahu Habib dihujani meriam. Namun, tak satu pun meriam itu mengenai kapalnya.

Lolos dari kejaran perahu Belanda, kapal Habib digulung ombak  besar. Semua perlengkapan di dalam kapal hanyut dibawa ombak. Yang  tersisa hanya alat memasak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan. Selanjutnya, ombak lebih besar datang menghantam lebih keras dan membuat kapal terbalik. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, kedua ulama itu tersesat hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama.

Suatu saat di tengah laut, rombongan ini kehabisan kayu bakar, bahkan dayung pun habis dibakar. Saat itu, Mbah Priok memasukkan periuk berisi beras je Jubahnya. Dengan doa, beras dalam periuk berubah menjadi nasi.

Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad al-Huddad sudah tewas, sedangkan Muhammad al-Haddad masih hidup. Di samping keduanya, terdapat periuk dan sebuah dayung. Warga memakamkan jenasah Habib Hasan tak jauh dari temannya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya, sedangkan priuk diletakkan di sisi makam. Dayung yang sudah pendek ditancapkan sebagai nisan. Di bagian kaki ditancapkan kayu sebesar lengan anak kecil.


Cahaya di makam via suaraanas.wordpress.com

Konon, dayung yang dijadikan nisan tumbuh menjadi pohon tanjung. Sementara periuk yang semula diletakkan di sisi makam terseret arus ombak hingga ke tengah laut. Menurut cerita, selama tiga hingga empat tahun setelah pemakaman itu, warga beberapa kali melihat periuk yang terbawa ombak kembali menghampiri makam Habib.

Diyakini, kisah priuk inilah yang melatarbelakangi sebutan Priok untuk kawasan di utara Jakarta ini. Sebutan "Mbah" disematkan kepada Habib Hassan kiranya merupakan penghormatan terhadapnya. Kisah periuk nasi dan dayung yang menjadi pohon tanjung lantas dipercaya sebagai asal-muasal Tanjung Priok bagi kawasan tersebut. Setelah peristiwa ini, sejumlah keluarga Habib Hassan ikut pindah ke Batavia menebarkan Islam dan mengurus makamnya.

Sementara itu, Habib al-Haddad, rekan seperjalanan Habib Hassan, yang selamat sempat menetap di daerah tersebut. Ia menyebarkan agama Islam hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menetap di Sumbawa dan wafat di sana.

Kisah perjuangan syiar Habib Hassan terus disampaikan dari mulut ke mulut. Sebab, perjuangan hidupnya dianggap suci. Karenanya, penghormatan terhadap makamnya berlangsung hingga kini. Selama sekian abad, makam itu dijadikan tempat berziarah.

Salah satu karamah Habib Hassan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hassan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.

Memang banyak versi cerita yang berkembang, ada yang mengatakan bahwa kisah Habib Hassan dan prioknya bukanlah asal muasal kawasan penyebut Tanjung Priok berasal dari abad 1 Masehi. Ketika itu, masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal perahu layar yang besar menyebut perahu China dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa.

Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tanjung Priok, yang artinya Tanah Tempat Periuk Besar. Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak pengrajin periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai. Tetapi, terlepas dari penamaan Tanjung Priok, Mbah Priok lebih memikat warga daripada siapa sebenarnya yang memberi nama kawasan pelabuhan tersebut.

Ada juga versi lain tentang Mbah Priok memang benar-benar penyebar Islam, tetapi bukan penyebar Islam seperti Wali Sanga. Mbah Priok awalnya berniat untuk melakukan syiar agama di Pulau Jawa. Namun, demi mendengar kisah Faletehan dan para wali, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa. Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta). Tetapi, di tengah perjalanan kapalnya karam dan ia pun selamat karena tertolong periuk yang dipakainya buat menopang sampai ke pantai. Setidaknya di Pantai, ia ditolong masyarakat.

Ia pun mengakui bahwa ia keturunana Sultan Palembang yang ingin melakukan syiar di Jawa. Mendengar hal itu, masyarakat setempat menjadi senang. Kebetulan mereka membutuhkan seorang habib untuk mendampingi para habib priok. Ia sendiri tidak pernah melakukan syiar agama ke mana-mana seperti yang dilakukan Wali Sanga. Ia hanya menjadi penceramah agama di daerah Tanjung Priok sampai meninggal setahun setelah selamat dari peristiwa tenggelam itu.

Terlepas dari kontroversi tersebut, bisa disimpulkan jika Mbah Priok memang terbukti sebagai pribadi yang berdedikasi terhadap ilmu agama. Tujuan mulianya datang ke Tanah Jawa dari Sumatera menggambarkan kecintaan dan keinginan menyebarkan Islam amatlah tinggi. Namanya dikenang, makamnya dirawat dan dipertahankan.

Begitu cintanya masyarakat terhadap Mbah Priok. Mereka rela bentrok dengan Satpol PP. Yang mencoba menggusur atau membongkar makan tersebut pada tahun 2010 silam. Peristiwa ini menewaskan beberapa orang dan sempat menghebohkan Jakarta saat itu.

Sebuah kisah keajaiban sering terdengar dari makam Mbah Priok ini. Pada tahun 2000, salah seorang pengurus makam menuturkan bahwa ia dikunjungi oleh beberapa ilmuwan dari luar negeri untuk melihat dari dekat makam Mbah Priok. Para ilmuwan tersebut bercerita bahwa mereka telah melihat sinar yang memancar dari makam hingga keluar angkasa.

Pengurus makam itu menyebutkan, pada 14 Maret 2000 lalu, beberapa orang asing mendatangi ahli waris. Para ilmuwan ini, kepada ahli waris menuturkan, mereka melihat dari satelit terdapat sinar yang memancar dari Indonesia. Mereka menduga sinar tersebut merupakan senjata laser. Kemudian, orang-orang asing itu mendatangi lokasi untuk mencari sinar laser yang menurut mereka itu adalah senjata laser. Ketika dilihatnya berasal dari makam keramat ini.


Kisah mbah priok via antarafoto.com

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Mbah Priok sudah dianggap sebagai tokoh masyarakat yang dihormati, baik selama hidupnya yang singkat di Betawi maupun di saat beliau sudah meninggal dan dimakamkan di sana. Letak makam Mbah Priok tidak sulit dijangkau, baik oleh kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Sebab, lokasi makam itu berada di daerah Ibu Kota Jakarta. Tepatnya di Jalan Timur Raya, Kola, Jakarta Utara. Di dekat pintu  masuk Terminal Peti Kemas Koja.

Dari peta terlihat bahwa lokasi makam Mbah Priok terletak di daerah seputaran pelabuhan Peti Kemas, Jakarta Utara. Rute menuju kesana tidak sulit. Penduduk sekitar juga akan langsung mengerti makam ini.

Mbah Priok sudah menjadi salah satu leluhur Jakarta, terutama masyarakat Betawi, yang dari dulu rindu akan sosok seorang yang besar dan jujur, rendah hati, dan bekerja untuk masyarakatnya. Dalam hal ini, ia ikut adil mengajari masyarakat tentang ilmu agama.

Sekalipun banyak kontrovesri tentang keberadaan tokoh yang satu ini, tetapi tidak satu pun yang menyangsikan keberadaannya sebagai salah satu pemuka agama Islam, khususnya di tanah Betawi. Karena itulah, namanya tetap harum sampai saat ini dan makamnya tetap dikunjungi banyak peziarah.

Itulah penjelasan mengenai makam mbah priok yang mengeluarkan cahaya dan sejarahnya, semoga bisa menambah wawasan Anda dan bermanfaat.
Top