Keputihan Coklat?! Apasih Penyebab dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Komentar

keptihan coklat via tanya.asmaraku.com

Keputihan coklat biasanya terjadi pada akhir periode menstruasi atau bisa juga terjadi pada masa kehamilan. Namun, Keputihan coklat, baik coklat muda maupun coklat gelap, bisa menjadi pertanda kepada kondisi tubuh tertentu.

Keputihan merupakan sesuatu yang normal terjadi pada wanita. Tetapi tidak semua keputihan menjadi hal yang normal.

Sebab, keputihan terkadang tidak hanya mengeluarkan lendiri berwarna putih saja. Tetapi jika keputihan memiliki warna yang berbeda itu bisa menjadi masalah, seperti keputihan coklat.

Meskipun pada dasarnya keputihan sangat wajar terjadi pada wanita, karena cairan lendir yang keluar dari organ intim wanita tersebut sangat berguna untuk menjaga vagina dari virus dan juga sebagai zat pertahanan vagina.

Terkadang beberapa wanita akan mengalami keputihan yang tidak wajar. Sehingga mereka merasa panik ketika keputihan coklat.

Keputihan dengan perubahan warna, termasuk warna coklat, bisa jadi pertanda adanya gangguan kesehatan.

Apalagi jika keputihan disertai dengan bau, volume berlebih dan terasa gatal. Mengetahui penyebab keputihan coklat, penting agar bisa menanganinya dengan tepat.


Keputihan coklat biasanya terjadi pada akhir periode menstruasi atau bisa juga terjadi pada masa kehamilan.

Jika keputihan Anda tidak hanya berwarna, tapi juga berbau, disertai gatal, atau gejala lainnya, maka bisa jadi itu merupakan tanda-tanda adanya gangguan kesehatan.

Baca Juga : Cara Mengobati Keputihan yang Sudah Berlebihan Cukup Dengan Bahan Alami

Penyebab Keputihan Berwarna Coklat

Normalnya, keputihan coklat terjadi pada akhir periode menstruasi atau pada masa kehamilan. Selain terjadi pada akhir menstruasi dan pada kehamilan, keputihan coklat juga bisa terjadi pada kondisi tertentu, seperti:

1. Pendarahan yang disebabkan implantasi janin

Proses pelekatan telur yang telah dibuahi pada dinding rahim dapat menyebabkan keluarnya bercak darah yang dikenal sebagai bercak implantasi. Bercak perdarahan implantasi janin bisa berwarna merah, merah muda, atau coklat muda, dan merupakan tanda-tanda awal kehamilan. Keputihan yang tergolong normal ini  bisa terjadi 10-14 hari setelah pembuahan.

2. Atrofi vagina

Kondisi yang juga dikenal sebagai vaginitis atrofi ini terjadi karena kekurangan hormon estrogen, dan paling sering terjadi setelah wanita memasuki masa menopause. Pada vaginitis atrofi, vagina mengalami peradangan dan produksi cairan lubrikasi menurun. Keluhan yang mungkin muncul, berupa sakit pada saat melakukan hubungan intim, vagina terasa kering, perih, dan mengeluarkan keputihan coklat.

3. Polip rahim

Polip rahim juga bisa menjadi penyebab kemunculan keputihan coklat. Tidak hanya keputihan, gejala-gejala lain seperti perdarahan setelah melakukan hubungan intim atau perdarahan menstruasi yang banyak, juga bisa terjadi jika Anda mengalami polip rahim.

4. Servisitis

Meski mayoritas penderita servisitis (radang leher rahim) tidak merasakan gejala atau tanda apapun, beberapa penderita servisitis mungkin akan mengalami keputihan coklat atau keputihan mengandung darah. Gejala lain berupa frekuensi buang air kecil menjadi sering, buang air kecil terasa menyakitkan, hingga perdarahan dan nyeri saat berhubungan intim. Jika penyakit ini menyebar ke rahim atau indung telur, dapat menyebabkan radang panggul (PID).

5. Kanker serviks

Keputihan coklat dapat menjadi tanda adanya kanker serviks. Tanda lain kanker serviks yaitu nyeri di bagian bawah perut atau panggul, nyeri saat berhubungan seksual, perdarahan dari vagina di luar periode menstruasi atau setelah menopause, dan saat berhubungan seksual.

Keputihan Coklat dan Cara Mengatasinya

Keputihan normal dapat berubah menjadi keputihan yang abnormal. Jika warna, bau, atau aroma dari keputihan yang Anda alami berbeda dari biasanya  dan disertai dengan rasa gatal atau perih, maka bisa saja keputihan yang Anda alami adalah keputihan abnormal.

Beberapa hal yang dapat menimbulkan keputihan abnormal di antaranya obat antibiotik atau kortikosteroid, mengonsumsi pil KB, kanker serviks, infeksi klamidia atau gonore, diabetes, sabun wangi atau losion, penyakit radang panggul, vaginitis, infeksi jamur, dan lainnya.

Oleh karena itu, sebagai wanita, Anda harus cermat dan teliti dalam menjaga kesehatan organ reproduksi Anda. Untuk mencegah infeksi pada vagina Anda, beberapa cara ini dapat Anda lakukan, di antaranya:
  • Gunakan celana dalam yang berbahan katun, karena dapat menyerap keringat dan tidak membuat area kewanitaan menjadi lembap.
  • Jangan menggunakan produk douching (pembersih vagina) yang dapat mengganggu keseimbangan bakteri di vagina Anda, dan membuang bakteri baik yang seharusnya ada di dalam vagina untuk melawan infeksi.
  • Perhatikan pakaian Anda, hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat, seperti celana jeans, celana ketat, celana yoga, rok, dan lainnya.
  • Jangan gunakan produk untuk area kewanitaan Anda (produk feminin), terutama yang beraroma atau mengandung pewangi.
  • Hindari berendam di bak air panas atau sangat panas.
  • Segera ganti pakaian yang basah. Hindari duduk dengan menggunakan pakaian yang basah, misalnya setelah berenang atau berolahraga di gym.
  • Selalu bersihkan area vagina Anda dari depan ke belakang, untuk menghindari bakteri berpindah dari anus ke vagina.
  • Saat menstruasi atau haid, gantilah pembalut Anda sesering mungkin.Gunakan kondom saat berhubungan intim dan tidak berganti pasangan seksual untuk mencegah infeksi pada vagina.

Setelah mengetahui bagaimana keputihan normal dan cara menjaga area kewanitaan, Anda tetap disarankan untuk konsultasikan kesehatan organ reproduksi Anda jika keputihan normal telah berubah menjadi keputihan abnormal, yang ditandai dengan perubahan warna keputihan menjadi berwarna kuning atau hijau, berbau busuk, serta muncul rasa gatal dan perih.

Keputihan coklat umumnya tak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun apabila disertai dengan gejala lain, sebaiknya periksa ke dokter guna mengetahui penyebab dan cara mengatasinya dengan tepat.
Top