Rahasia Dibalik Ringannya Pengucapan Kalimat Tauhid

Komentar

kalimat tauhid via haloislam.com

Kalimat Tauhid sangat ringan untuk diucapkan. Hanya berlafadz laa ilaaha illallah semua orang bisa mengucapkan. Namun dibalik kalimat tauhid ternyata ada rahasia lho! Yuk simak!

Tak diragukan lagi bahwa kalimat laa ilaaha illallah merupakan pondasi agama Islam. Kalimat tauhid adalah kalimat yang ringan di lisan. Saking ringannya, orang-orang kafir, munafiq dan atheis pun mampu mengucapkannya.

Kalimat tauhid menjadi unsur yang sakral bila diperdebatkan. Karena menyangkut keimanan seseorang. Banyak sekali rahasia yang terkandung dalam kalimat thaiyibah ini.

Kalimat tauhid adalah kalimat yang ringan di lisan. Saking ringannya, orang-orang kafir, munafiq dan atheis pun mampu mengucapkannya.

Tapi kalimat itu tidaklah membuat mereka masuk ke dalam Islam, agama yang suci ini, sebab mereka tidak memahami makna kalimat tauhid alias kalimat syahadat. Mungkin sebagian mereka ada yang memahami, tapi enggan mengakui maknanya, dan konsekuensinya.

Kalimat tauhid menjadi unsur yang sakral bila diperdebatkan. Karena menyangkut keimanan seseorang. Esensi dari kalimat tauhid tentunya menjadi bahasan yang berpatok pada Keesaan Allah.

Kalimat  tauhid Lâ Ilâha Illâ Allâh bukan hanya sekadar ucapan zikir yang terus menerus diucapkan seorang muslim. Jika ditelaah lebih mendalam, kalimat ini memiliki keistimewaan tersendiri.

Realita seperti ini mendorong kaum muslimin untuk mengerahkan tenaga dan pikiran dalam mempelajari makna kalimat tauhid alias kalimat syahadat, sebab jika ia tidak memahaminya dengan baik, maka boleh jadi ia mengaku sebagai “muslim”, tapi ternyata ia dicap dengan label “kafir” di sisi Allah -Azza wa Jalla-, akibat kelalaian dan keteledorannya dalam mempelajari kalimat tauhid yang menjadi kunci utama seorang masuk dalam bangunan Islam.

Baca Juga : Allahumma Yassir Walaa Tu’assir Doa Pendek Tapi Maknanya Sangat Mendalam

Makna Kalimat Tauhid

Makna Kalimat tauhid la ilaha illallah adalah لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله (tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah).

Inilah makna sebenarnya yang telah didefinisikan oleh para ulama ahlisunnah waljama’ah, makna ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al-Haj, ayat 62, yang artinya:

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) yang Hak (benar) dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil.“

Akan tetapi ada beberapa penafsiran yang keliru tentang kalimat la ilaha illallah yang telah tersebar luas di dunia Islam di antaranya:

1. Menafsirkan kalimat la ilaha illallah dengan (لاَ مَعْبُوْدَ إِلَّا الله): “Tidak ada yang diibadahi selain Allah”.

Padahal makna tersebut rancu, ini berarti setiap yang diibadahi baik benar maupun salah adalah Allah subhanahu wata’ala. Karena Allah subhanahu wata’ala menamakan semua yang disembah di muka bumi sebagai إله (Tuhan).

Ketika Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada orang-orang musyrik: La ilaha illallah maka meraka mengatakan

أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلهًا وَاحِدًا إِنَّ هذَا لَشَيْءٌ عُحَابٌ
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini menjadi Tuhan yang satu saja? sesungguhnya ini sesuatu yang mengharankan.” [QS. Shood: 5]

2. Menafsirkan kalimat la ilaha illallah dengan (لاَ خَالِقَ إِلاَّ الله) “Tidak ada pencipta kecuali Allah”.

Padahal makna tersebut adalah sebagian makna dari kalimat la ilaha illallah dan ini masih berupa Tauhid Rububiyah (tauhid yang mengakui keesaan Allah saja), sehinga belum cukup.

Karena orang-orang kafir jahiliyah dahulu telah meyakini Allah adalah Tuhan pencipta alam, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Qur’an

وَلِئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقَوْلُنَّ اللهُ
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, sipakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah.” (QS. Az – Zuhkruf: 87)

3. Ada juga yang menafsirkan la ilaha illallah dengan (لاَ حَاكِمَ إِلاَّ الله ): “Tidak ada hakim/penguasa kecuali Allah”.

Pengertian ini pun tidak mencukupi makna kalimat tersebut karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum dikatakan (telah menjalankan makna kalimat tersebut, yaitu bertauhid kepada Allah-red).

Rukun Kalimat Tauhid 

Bila anda meneliti dan memandang kalimat tauhid, maka ia terdiri dari dua potong kalimat. Potongan pertama: ( لا إله ), maknanya: “Sama sekali tak ada sembahan yang haq (benar)”. Potongan kedua: ( إلا الله ), artinya: “kecuali Allah”.

Potongan pertama meniadakan seluruh jenis peribadahan yang haq (benar) dari seluruh makhluk. Potongan Kedua memberikan pembatasan bahwa sembahan ( إله ) yang haq hanyalah Allah -Azza wa Jalla-. [Lihat At-Tamhid (hal. 74) karya Al-Allamah Sholih Alusy Syaikh]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata, “Kalimat ( لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ) mencakup peniadaan, dan penetapan. Adapun peniadaan, yaitu kalimat ( لا إله ). Adapun penetapan, yaitu kalimat ( إلا الله )”. [Lihat Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal. 71)]

Dari sini para ahli ilmu menyebutkan bahwa kalimat tauhid memiliki dua rukun (pilar): rukun negatif (peniadaan), dan rukun positif (penetapan). Jadi, rukun negatif ( النفي ) akan meniadakan seluruh jenis sembahan-sembahan yang haq (benar), lalu dengan rukun positif ( الإثبات ) seseorang menetapkan bahwa hanya Allah yang terkecualikan dari peniadaan tersebut. Seorang yang muslim tak disebut “bertauhid” ( مُوَحِّدٌ ) jika tidak melaksanakan dua rukun tersebut.

Tak boleh seorang hanya menyatakan bahwa tak ada ilah (sembahan) yang haq, sebab jika ia hanya menyatakan demikian, maka ia tergolong atheis. Demikian pula tak cukup seseorang menyatakan bahwa Allah adalah ilah (sembahan) yang haq (benar), lalu ia tak mengingkari sembahan-sembahan lain.

Jika ia tak mengingkarinya, maka ia tergolong musyrik seperti orang-orang Quraisy. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid fi Adillah At-Tauhid (hal. 34), cet. Dar Ibn Hazm, 1427 H]

Jika salah satu diantara rukun ini hilang karena tidak diakui dan diyakini oleh seseorang, maka ia adalah kafir, walaupun mengucapkannya 100 kali dalam sehari. Jika salah satunya hilang, maka kalimat tauhid tidak akan bermanfaat bagi pengucapnya.

Oleh karena itu, seorang tidak boleh hanya berdzikir dengan mengucapkan ( لا إله ) sebanyak enam ratus kali secara terpisah dari kalimat ( إلا الله ) yang diulangi sebanyak empat ratus kali sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi. [Lihat Al-Qoul Al-Baligh fir Rodd ala Jama’ah At-Tabligh (hal. 159) karya Hamud At-Tuwaijiriy]

Rahasia Kalimat Tauhid Lâ Ilâha Illâ Allâh

1. Huruf yang terdapat dalam kalimat tauhid tersebut semunya huruf jaufiyah (huruf yang keluar dari rongga) tidak ada huruf syafawi (huruf bibir).

Hal ini mengindikasikan bahwa mengucapkan kalimat ini mesti benar-benar dari dalam rongga. Rongga yang dimaksud disini adalah hati. Hal sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah SAW:

اسعد الناس بشفاعتي يوم القيمة من قال لا اله ال الله خالصا مخلصا من قلبه

“Manusia yang paling bahagia dihari kiamat dengan mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan kalimat La llaaha illAllah dengan penuh keikhlasan dari hati.”

Hadist ini jelas menerangkan bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid La llaaha illAllah dengan penuh keikhlasan dalam lubuk hatinya, maka ia akan menjadi orang yang paling bahagia di akhirat dengan mendapatkan syafaat Rasulullah.

2. Dalam kalimat tauhid Laa ilaaha illAllah semua hurufnya sunyi dari titik, tidak ada satu huruf pun yang bertitik (huruf mu’jam).

Hal ini mengisyaratkan bahwa yang benar-benar disembah hanyalah Allah, lepas dari semua sembahan lain selain Allah. Rasulullah SAW bersabda:

اتانى جبريل فبشرنى ان من مات من امتك لا يشارك بالله شيأ دخل الجنة قلت وان زنى وان سرق قال وان زنى وان سرق

“Malaikat Jibril mendatangiku, ia membawa khabar gembira bagku “bahwa siapa saja dari kalangan umatmu yang meninggal dunia dengan tanpa menyekutukan Allah maka ia masuk surga”. Saya bertanya “walaupun ia berzina atau mencuri?” jibril menjawabnya “ya, walaupun ia penzina atau pencuri”.

Hadist ini mengisyaratkan bahwa setiap mukmin yang meninggal dunia dengan tanpa menyekutukan Allah maka ia pada akhirnya tetap akan Allah masukkan ke dalam surga, walaupun ia harus menjalani siksaan terlebih dahulu atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan di dunia ini.

Sedangkan orang yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah, maka dosanya tidak akan Allah ampuni, ia kekal dalam neraka selama-lamanya. Sebagaimana firman Allah;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sungguh Allah tidak akan mengampunkan dosa menyekutukanNya dan Dia akan mengampunkan dosa yang lainnya bagi orang yang Dia kehendaki (Q.S. an-Nisa ayat 48)

3. Pada kalimat tauhid Laa ilaaha illAllah terdiri dari 12 (dua belas). Hal ini mengisyarahkan bahwa dalam setahun terdiri dari 12 bulan. Empat bulan diantaranya merupakan bulan haram yang memiliki kelebihan dari bulan-bulan yang lain.

Pada kalimat Laa laaha illAllah terdapat satu kalimat yang terdiri dari empat huruf yaitu lafadh Jalallah (lafadh Allah), satu hurufnya terpisah (huruf alif pafa awal kalimat Allah) dan tiga lainnya terangkai.

Hal ini merupakan isyarah kepada empat bulan haram yang lebih mulia dari bulan lain, sebagaimana lafadh jalalah lebih mulia dari kalimat yang lain dalam kalimat Laa ilaaha illAllah tersebut, dan juga mengisyarahkan bahwa empat diantara bulan haram letaknya terpisah, yaitu bulan Rajab, terpisah dari tiga bulan haram lainnya yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram.

4. Siang dan malam terdiri dari 24 jam dan kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله juga terdiri dari 24 huruf.

Setiap huruf dari kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله dapat menghapus dosa satu jam. Sedangkan dua kalimat tersebut bisa menghapuskan dosa sehari semalam (24 jam).

Imam Sufyan bin Uyainah telah berkata: tidak ada nikmat yang paling afdhal yang diberikan oleh Allah kecuali nikmat mengenal serta memahami kalimat Laa liaaha illAllah dan kalimat Laa ilaaha illAllah di akhirat kelak bagi manusia bagaikan air didalam dunia.”

Sufyan Tsuri pernah berkata: “ Kelezatan pengucapan لا اله الا الله di akhirat laksana kelezatan meminum air segar didalam dunia.

Imam Mujahid menafsirkan firman Allah;

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Allah telah menyempurnakan nikmat kepadamu lahir dan batin (Q.S. Luqman 20)

Menurut beliau maksud dari nikmat lahir batin tersebut adalah kalimat tauhid La llaaha illAllah.

5. Sesungguhnya setiap amalan perbuatan taat akan diangkat kelangit oleh para malaikat sedangkan amalan mengucapkan لا اله الا الله akan naik sendiri tanpa perantaraan para malaikat. Hal ini sebagaimana firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kalam yang mulia akan terangkat dengan sendirinya sedangkan amal shaleh yang lainnya diangkat (oleh para malaikat). (Q.S. Fathir 10).
Penjelasan demikian sebagaimana dihikayahkan oleh Imam ar-Razi.

6. Laa ilaaha illAllah Muhammad Rasulullah terdiri dari tujuh kalimat (kosa kata), demikian juga manusia punya tujuh anggota utama dan pintu neraka juga berjumlah tujuh. Maka setiap kata dari dua kalimat ini bisa menjadi penutup pintu neraka yang tujuh.
Top