Jangan Ucapkan 13 Hal "Merusak Mental" ini ke Anak Kecil, Dampak Negatifnya Sangat Besar

Komentar
Mungkin orangtua anggap biasa, tapi tidak buat anak...

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Sayangnya, mereka nggak langsung lahir sebagai manusia-manusia yang bisa mengurusi dirinya sendiri. Terkadang kita nggak sadar bahwa dalam berinteraksi dengan mereka, bukannya membangun kita malah merusak mereka dengan kata-kata.


Image from idntimes.com

Anak-anak merupakan harta paling berharga bagi orang tua serta menjadi aset paling penting bagi sebuah bangsa. Sebelum memasuki usia dewasa, anak-anak tumbuh melalui banyak fase kehidupan.

Nah dalam fase-fase inilah peran orang tua dan orang-orang disekitarnya sangat diperlukan. Sebab apa yang didapatkan seorang anak selama fase pertumbuhan, hal itulah yang kemudian akan dia bawa hingga dewasa, seperti yang dilansir oleh idntimes.com

Kamu harus sadar benar, anak-anak memiliki mental yang rentan. Tak seperti orang dewasa yang mentalnya sudah terbentuk sempurna, anak-anak masih harus dibimbing dan diarahkan agar pertumbuhan mental tak terganggu.

Baca juga : Tak Salah Apa-apa, Murid di Daycare ini Dipukul Gurunya Hingga Terjengkal

Tapi terkadang masih saja ada orang dewasa yang justru “merusak mental” anak dengan melakukan hal-hal berikut ini.

1. “Nakal!”



Tidak bisa dipungkiri, kadang-kadang ada anak-anak yang kita nilai “lebih aktif” dari anak lainnya atau melakukan hal-hal yang menurut kita kurang baik. Kata yang paling sering kita lontarkan sekaligus paling berbahaya untuk mereka adalah “nakal”. Dengan mengucapkan kata ini, kita memberi label di alam bawah sadar mereka. Bukannya akan merubah diri, mereka malah akan mempercayai dan menghidupi bahwa dirinya memang nakal.

2. “Cengeng kamu.”



Bayangin kamu mau mengekspresikan rasa senang, tapi dikatain “berlebihan kamu”. Nggak enak kan? Memang kita nggak ingin mereka jadi anak manja, tapi dengan selalu menyuruh mereka berhenti menangis, secara tidak langsung kita mengajari mereka bahwa mengekspresikan emosi itu nggak boleh. Sedih itu salah. Akibatnya? Jadi anak-anak zombie deh. Susah berperasaan.

Baca juga : Sungguh Tragis,...Bocah ini Alami Kanker Darah Akibat Seringnya Bermain Ponsel

3. “Lihat aja ya sampai mama atau papamu pulang nanti.”



Ini nih, kebiasaan kita apalagi kalo kita jagain anak orang. Sebenarnya, ucapan seperti ini menunjukkan bahwa kita nggak punya otoritas, yang berarti anak tersebut masih berhak melakukan apapun sesuai keinginannya. Selain itu, ketika orang tuanya benar-benar pulang nanti, ia sudah akan lupa dengan perbuatannya, dan hukuman yang diberikan pun menjadi nggak valid.

4. “Kamu kenapa sih?!”



Ketika kita mengucapkan hal ini, kita seakan-akan mengimplikasikan bahwa dia anak yang nggak beres. Seharusnya kita memfokuskan pertanyaan kita pada perbuatannya, bukan dirinya sebagai manusia.

5. “Kamu bikin orang stres!”



Kita memaksanya untuk merasa bersalah. Pernyataan ini akan membuat anak itu merasa bertanggung jawab akan perasaan buruk yang dialami orang lain. Hal ini bisa membuatnya memiliki rasa percaya diri yang rendah dan susah berosialisasi di masa depan.

6.  “Gitu aja kok marah sih?”



Ini namanya kamu mengatakan bahwa cara pikirnya salah.

7. “Heh, kamu ___ sekarang, kalo nggak ___!!”



Ancaman, menggunakan rasa takut untuk ngintimidasi mereka. Intimidasi adalah bentuk agresivitas. Ancaman ini nggak hanya akan menumbuhkan rasa takut dalam dirinya, namun juga membuatnya mempelajari agresivitas.

Baca juga : Sering Diabaikan Ibu, 8 Gejala ini Dapat Menimbulkan Penyakit Berbahaya Bagi Bayi

8. “Pergi sana!”



Biasanya kita mengucapkan hal ini ketika kita merasa teranggu dalam aktivitas kita. Kata-kata seperti ini hanya akan membuat mereka mengerti bahwa tidak ada gunanya berbicara denganmu.

9. “Kenapa kamu nggak bisa kayak kakakmu?” atau mungkin “Kamu sama aja sama kakakmu”.



Ingat, kita pun memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Termasuk anak-anak. Kita nggak bisa mengekspektasikan atau menyatakan bahwa mereka semua berperilaku sama. Kalau ada kesalahan pun, mereka memang masih dalam tahap belajar. Kata-kata seperti ini sangat nggak relevan dalam konteks apa pun.

10. “Gitu aja nggak bisa.”



Sekali tepuk, dua lalat kena. Selamat, kamu mematikan potensi dan kepercayaan diri mereka.

11. “Kamu harusnya bisa lebih baik dari itu.”



Lebih baik kamu menghargai usahanya dengan mengatakan “wah, itu sudah bagus lho. Nanti kayaknya bisa baik lagi kalau..”. Dengan begitu, kamu menunjukkan bahwa usahanya tidak sia-sia; yang akan memicunya untuk berusaha lebih baik lagi.

12. “Wah, pinternya!”


Berkebalikan sama yang atas? Sebenarnya kata-kata semacam ini sangat sah kita ucapkan, namun bila diucapkan setiap saat malah bisa jadi berbahaya. Jangan ucapkan hal ini setiap saat kalau kamu nggak mau dia merasa apa pun yang ia lakukan pasti benar. Selain itu, bedakanlah pujianmu terhadap hal-hal simpel yang ia lakukan, dengan hal-hal yang benar-benar membutuhkan usaha.

13. “Aku benci kamu.”


Seakan-akan kamu mengatakan bahwa keberadaannya tidak diinginkan.

Kita yang lebih dewasa, kita yang lebih bisa menjaga sikap dan perkataan kita. Kadang kita memang niat balas dendam karena pengalaman masa kecil kita, tapi akan jauh lebih keren bila kita berusaha bantu mereka untuk jadi generasi yang lebih baik dari kita.
Top