Ibu Harus Tahu 4 Hal ini Sebelum Memberikan Donoran ASI ke Anaknya

Komentar
Ada Ibu yang tak bisa keluar ASI setelah melahirkan

Kemudian meminta donor ASI ke Ibu lain...

Bu, perhatikan 4 hal agar Anak Tak Sampai Terjangkit Penyakit...

Seorang ibu yang tak bisa memberikan ASI kepada anaknya,  lebih banyak meminta donoran ASI dari orang lain. Namun, lebih baik dan tak ingin terkena penyakit pada anaknya, seorang ibu harus tahu 4 hal ini...

Image from haibunda.com

Ketika ibu nggak bisa memberi si kecil ASI, beberapa orang tua memilih memberi bayi mereka ASI donor. Namun ingat, pemberian ASI donor pun nggak bisa sembarangan, seperti yang dikutip dari haibunda.com.

Supaya ASI donor yang diberi ke bayi aman, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar kita bisa memastikan donor ASI tetap aman dilakukan dan si kecil tetap bisa menerima asupan nutrisi dengan nyaman.

Baca juga : Orang Tua Perlu Tau!! Begini Cara Merawat Gigi Balita yang Benar

Berikut langkah langkah yang harus dilakukan sebelum memberi donoran ASI ke anak kita:

1. Informed Choice

Ini adalah komponen utama di mana ada berbagai informasi dan poin yang disepakati pihak pendonor dan penerima donor ASI demi menjamin keamanan proses donor ASI.

2. Skrining Donor

Seseorang yang nggak bisa jadi donor ASI yakni yang memiliki masalah kesehatan umum yang buruk, gangguan psikiatri berat, positif terkena HIV atau HTLTV, berisiko terkena HIV, wabah herpes atau lesi sifilis disertai luka terbuka, lecet atau berdarah pada kulit.

"Termasuk orang yang sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi, menjalani terapi radiasi atau scan tiroid dengan menggunakan iodine radioaktif. Dalam pengobatan yang kontraindikasi untuk menyusui dan sedang demam cacar air atau zooster nggak bisa jadi donor ASI," papar dr Bintari Puspasari, SpOG, IBCLC dalam seminar dan workshop 'Kupas Tuntas Relaktasi' di Auditorium RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Ibu yang menggunakan narkoba atau alkohol juga nggak boleh jadi donor ASI. Khusus donor ASI untuk bayi prematur, si ibu donor nggak boleh mengonsumsi alkohol, merokok, meminum suplemen herbal atau megavitamin. Jika jadi donor ASI, ibu pun tak boleh terpaksa.

Calon donor ASI harus mengikuti serangkaian tes rutin termasuk HIV I dan II, Human T-lymphotropic Virus (HTLV), Hepatitis B, Hepatitis C, sifilis dan rubella. Adapun tes cytomegalovirus dan TB dapat dimasukkan sebagai tambahan. Semua ini dilakukan tiap 3-6 bulan.

Baca juga : Disiplinkan Murid Tak Harus Pakai Kekerasan, Ini Contoh Mendidik Murid yang Baik

3. Penanganan ASI Perah yang Aman

Untuk menghindari kontaminasi yang bisa terjadi jika ada lesi atau luka terbuka di kulit, cuci tangan sebelum memerah dan menyimpan ASI. Pastikan juga tempat ASI perah bersih.

4. Pasteurisasi

Untuk pasteurisasi ada 2 metode, Bun. Pertama, metode Holder yang sering dikerjakan di RS atau bank ASI. Keuntungannya sebagian virus dan bakteri mati. Sedangkan kerugiannya, zat nutrisi dalam ASI rusak atau berkurang dan dapat mengaktifkan spora jamur.

Kedua, flash heating. Metode ini bisa dikerjakan di rumah. Keuntungannya sebagian besar zat nutrisi di ASI masih baik. Tapi kerugiannya, efektivitas membunuh kuman nggak sebaik metode holder.

Semoga bermanfaat.
Top