Bahaya yang Dijelaskan dalam Hadits Memutuskan Silaturahmi

Komentar

hadits memutuskan silaturahmi via ceramah.org

Sebagai makhluk sosial, pastinya kita akan saling membutuhkan dan wajib saling membantu satu sama lain. Oleh sebab itu, penting sekali untuk tetap menjaga tali silaturahmi. Hal ini pun dibuktikan dengan adanya hadist memutuskan silaturahmi. 

Memutus tali silaturahm adalah salah satu perbuatan yang di benci oleh Allah. Akibat yang ditimbulkan bila silaturahmi diantara kita putus, sangatlah besar. Baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Silaturahmi merupakan wujud iman kita kepada Allah dan hari akhir. Dan juga dasar tegaknya Islam. Allah menyuruh kita untuk saling mengenal dan berbuat baik dengan sesama ( An-Nisa: 36).

Semua orang memliki karakter tersendiri. Dan tentunya tidak sama. Walaupun mereka kembar siam, tapi sifat dan kepribadian tetaplah berbeda. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar bila perselisihan bisa terjadi antar sesama kita. Apalagi tanpa dibentengi oleh iman yang kokoh. Perbedaan pendapat, mementingkan diri sendiri atau golongan, merupakan awal dari perpecahan.

Baca Juga : MasyaAllah, Betapa Dahsyatnya Keutamaan Sedekah di Hari Jumat

Dalil Qur’an dan Hadist Tentang Larangan Memutuskan Tali Silaturahmi

Dari Jubair bin Muth‘im Radiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaih).

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ” يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Hadits ini merupakan ancaman bagi orang yang memutuskan silaturahmi yaitu tidak masuk surga.

Ini menunjukkan bahwasanya permasalahan adab atau akhlak adalah permasalahan yang penting.

Sebagaimana keutamaan menyambung silaturahim yang diantaranya adalah bisa menyebabkan masuk surga sebagaimana yang Allāh sebutkan dalam surat Ar Ra’d.

Sebaliknya, Allāh juga menjelaskan bahwa memutuskan silaturahim merupakan salah satu sebab masuknya orang ke dalam neraka jahannam.

Allāh Subhanahu wa Ta’ala berfiman:


وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

Artinya:
“Orang-orang yang merusak janji Allāh setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (QS: Ar-Ra’d Ayat: 25)

Ini jelas ancaman, diantara yang menyebabkan mendapat laknat dan masuk neraka jahannam adalah memutuskan tali silaturahmi.

Demikan juga Allāh Subhanahu wa Ta’ala berfiman:


فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS: Muhammad Ayat: 22)

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَٰرَهُمْ

"Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allāh dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka." (QS: Muhammad Ayat: 23)

Ini ancaman yang keras juga, bahwasannya orang yang memutuskan silaturahmi akan dilaknat oleh Allāh dan dibutakan penglihatan mereka dan dibuat telinga mereka menjadi tuli sehingga tidak bermanfaat bagi mereka ayat-ayat Allāh  Subhanahu wa Ta’ala.

Tingkatan Derajat menyambung silaturahim

Tingkatan yang pertama adalah tingkatan yang paling afdhol, yang paling mulia, yaitu menyambung tali silaturahim terhadap kerabat yang memutuskan silaturahim.

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah penyambung silaturahmi adalah yang hanya menyambung kalau dibaikin, akan tetapi penyambung silaturahmi adalah yang tetap menyambung meskipun silaturahminya diputuskan (oleh kerabatnya).” (HR Al-Bukhari)

Artinya:
"Penyambung silaturahim yang sesungguhnya yaitu jika diputuskan silatrurami dia tetap menyambungnya."

Dalam Sahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,  ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahim kepada mereka namun mereka mumutuskan silaturahim kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang bururk.”

Maka kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas dimulut-mulut mereka dan senantiasa ada penolong dari Alllah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian.”

Yaitu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau masukkan debu yang  panas ke mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikkan.


ilustrasi silahturahmi via inspiradata.com

Ini adalah tingkat silaturahim yang tertinggi, karena menyambung silaturahim bukan untuk mendapatkan balasan kebaikkan dari kerabat tetapi karena Allāh Subhanhu wa Ta’ala dan berharap surga.

Tingkatan kedua adalah menyambung silaturahim jika kerabat berbuat baik sedangkan jika kerabat tidak berbuat baik maka dibalas dengan tidak baik juga.

Adapun tingkatan yang ketiga adalah tingkatan yang buruk dan haram yang menyebabkan masuk neraka yaitu memutus silaturahim, tidak menyambung silaturahim, cuek kepada kerabat, tidak menghubungi mereka, tidak berbuat baik kepada mereka bahkan berbuat kasar.

Maka ia telah melakukan perbuatan yang terancam dengan neraka jahannam.

Bahaya Memutuskan Silaturahmi

ilustrasi hadits memutuskan silaturahmi via ceramah.org

Tak sedikit orang yang memutuskan silaturahmi hanya karena masalah pribadi. Misalnya sakit hati, sibuk, berjauhan tempat tinggal dan sebagainya. Sebenarnya hal tersebut tidak boleh kita lakukan. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bahkan pernah bersabda bahwa tidak halal bagi umat muslimim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.

Jika memang kita merasa bersalah maka sudah seharusnya kita meminta maaf. Namun apabila kesalahan terletak pada pihak lain, tak ada salahnya kita menyapa terlebih dahulu. Perbuatan tersebut tidaklah hina di mata Allah Ta’ala. Justru kita mendapatkan pahala karena telah berbesar hati untuk memaafkan dan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Dari Abi Ayub al-Anshariy berkat, bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Muslim).

Berikut ini beberapa bahaya memutuskan silaturahmi dalam Islam:

1. Dilaknat oleh Allah Ta’ala

“Maka apa kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan silaturahmi, Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan mata mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)

2. Seolah-olah memakan bara api

Semisal ada orang yang berbuat salah terhadap kita. Orang tersebut sudah berusaha meminta maaf, namun kita tidak menerimanya dan terus menyimpan dendam. Bahkan kita memutuskan silaturahmi. Maka perbuatan kita ini dibenci Allah Ta’ala. Dalam hadist shahih dijelaskan bahwa seseorang yang selalu menolak silaturahmi dari kerabatnya, maka ia bagaikan memakan bara api yang panas.

Abu Hurairah RA, beliau berkata: “Ada seorang laki-laki yang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, aku mempunyai keluarga dan ketika aku berbuat baik kepada mereka, mereka berbuat jelek terhadapku. Mereka acuh terhadapku, padahal aku telah bermurah hati kepada mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Jika demikian, maka seolah-olah kamu memberi makan mereka dengan bara api. Dan pertolongan Allah akan selalu senantiasa menyertaimu selama kamu begitu (berusaha bersilaturahmi).” (HR. Muslim)

3. Dibenci oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diriwayatkan oleh Abdullah bin  Auf, beliau berkata:  “Pada suatu sore pada hari Arafah, saat kami (para sahabat) duduk mengelilingi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila di dalam majlis ini ada yang memutuskan tali silaturahmi, maka berdirilah, jangan duduk bersama kami.”

4. Tidak terkabulnya Doa

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata,” Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian”.” (HR. Ahmad)

5. Mendapatkan siksa dunia dan akhirat

“Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi” (HR Tirmidzi)

6. Dijauhkan dari surga

Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)” (HR Bukhari dan Muslim).

7. Memutus kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya (kata) rahmi diambil dari (nama Allah) ar-Rahman. Allah berkata, “Barangsiapa menyambungmu (rahmi/kerabat), Aku akan menyambungnya; dan barangsiapa memutuskanmu, Aku akan memutuskannya.” (HR. al-Bukhari).

8. Tidak akan memperoleh rahmat dari Allah Ta’ala

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR Muslim)

Keutamaan Menjaga Silaturahmi

ilustrasi keutamaan silaturahmi via domyadhu.org

Setelah mengetahui bahaya dan hukum memutuskan tali silaturahmi dalam islam, tentu kita bisa lebih berhati-hati saat ini. Sekarang kita tahu bahwa menjaga silaturahmi antar kerabat, sana keluarga atau teman itu sangatlah penting. Tidak hanya untuk menjaga hubungan sosial tapi juga menjadikan tanda bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.

Nah, berikut ini beberapa keutamaan menjaga silaturahmi dalam islam yang sangat luar biasa.

1. Diluaskan rezeki dan diperpanjang umurnya

Keutamaan yang pertama dari menjaga tali silaturahmi adalah diperluaskannya rezeki. Bagaimanapun juga rezeki tidak bisa diperoleh hanya dari usaha sendiri. Kita tetap butuh Allah Ta’ala untuk memudahkan jalan kita mencari rezeki. Maka itu, salah satu cara yang bisa kita lakukan lewat menyambung hubungan kekeluargaan. Selain itu, bersilaturahmi juga dapat memperpanjang usia kita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”  (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Bentuk perbuatan taqwa kepada Allah Ta’ala

“Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.  Dan orang-orang yang menyambung apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan,dan mereka takut kepada Tuhan-nya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. ar-Ra’du: 19-21)

3. Amalan utama yang mendatangkan pahala

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra aku berkata: Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang utama, maka beliau bersabda: “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.” (HR Ahmad)

4. Menghindari sikap sombong dan egois

Silaturahmi dapat menjauhkan kita dari sifat sombong. Seseorang yang sanggup menjaga silaturahmi walaupun kekerabatannya telah diputus maka posisinya di mata Allah akan sangat mulia

“Orang yang menghubungkan silaturahmi bukanlah orang yang membalas hubungan baik. Akan tetapi, orang yang menghubungkan silaturahmi adalah orang yang ketika kekerabatannya diputus, ia menghubungkannya.” (HR Bukhari).

5. Mempererat persaudaraan

Keutamaan menjaga silaturahmi yang terakhir adalah dapat mempererat hubungan persaudaraan. Pergaulan juga lebih luas. Hal ini tentu akan membantu kita dalam kehidupan, karena pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendirian.

Baca Juga : Mengapa Kita Dianjurkan Membaca Surat Al Kahfi Ayat 29? Ini Keutamannya

Dengan demikian, umat Islam sangat diwajibkan untuk menjaga tali silaturahmi baik dengan kerabat ataupun tetangga. Tali silaturahmi dapat membuka pintu rezeki dan membuat seseorang masuk dalam surga. Semoga artikel tentang hadist memutuskan silaturahmi bermanfaat dan mohon maaf jika ada kekurangan.
Top