Cara Mendidik Anak Agar Berkarakter Lewat Metode Ki Hajar Dewantara

Komentar
Merubah mindset pola asuh anak seiring berkembangnya zaman

Zaman sekarang kebanyakan orang tua terlalu sibuk mencari pola pikir yang terlalu ke barat baratan karena persepsi canggih buat kita adalah ilmu-ilmu dari luar negri.

Ternyata di negeri kita sendiri, sejak dulu, ada pola asuh didik yang luar biasa. Yang sesungguhnya sudah kita kenal sejak lama. Yaitu pola asuh didik dari bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.


Image from google.com

Menjadi orang tua di jaman milenial seperti sekarang ini harus bisa lebih prepare dan tanggap dalam hal pola mengasuh anak-anak. Perkembangan teknologi yang tidak bisa dibendung lagi sangat besar mempengaruhi pola hidup sehari-hari, baik kita sendiri sebagai orang tua maupun untuk anak-anak.

Lingkungan pun ikut andil dalam merubah mindset pola asuh kita selama ini. Hal semacam ini bisa menjadi manfaat yang baik sekaligus bumerang yang sangat berbahaya untuk kita yang menjalankannya, seperti yang dilansir oleh kaskus.com

Menuntut kita untuk lebih selektif dan lebih cerewet yang (mungkin) sangat berseberangan dengan sifat asli kita sendiri.

Berdasarkan dari peristiwa diatas maka dibutuhkan semacam ilmu tentang mengasuh anak atau ilmu parenting. Ilmu Parenting memang sangat dibutuhkan untuk saat ini.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara menganut dan menyadur dari sumber manapun dan menerapkannya. Baik untuk anak kita sendiri maupun ketika saling share dengan teman dan kerabat.

Baca juga : Allah Sangat Benci, Orang yang Melarang Anak Tanpa Mencontohkan Perbuatan

Banyak sekali ilmu parenting yang didasarkan dari pengalaman pribadi tapi sekali lagi kita harus lebih selektif, karena hal tersebut tidak semuanya pas untuk diterapkan pada anak-anak.

Sejak duduk dibangku Sekolah Dasar, kita sudah sering mendengar istilah “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Mungkin sebagian dari kita memang sangat hafal terkait kalimat yang sederhana ini, tapi banyak yang belum paham apa arti sebenarnya dan apa manfaatnya untuk kita sendiri.

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya didepan memberi tauladan atau contoh. Untuk Balita, pelajaran yang diproses pertama kali adalah meniru perilaku orang disekitarnya.

Suka liat kan anak-anak senang berdandan meniru orang tuanya atau bertingkah laku selayaknya orang dewasa?  Nah apa yang kita lakukan di depan anak-anak akan sangat mudah diingat oleh anak-anak.

Jadi berikanlah contoh yang baik-baik didepan anak-anak sehingga apa yang dilakukan sama seperti yang kita inginkan. Oleh sebab itu, proses mendidik anak adalah proses pendewasaan diri bagi orang tua itu sendiri.

Karena apabila kita ingin anak kita berperilaku baik, maka yang lebih dahulu kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri.

Ing Madyo Mangun karso artinya ditengah memberikan semangat. Pada usia anak 6-12 tahun, mereka sedang asik-asiknya berteman. Berbincang seru dan bergaul dengan temannya adalah aktifitas yang paling disukai anak-anak diusia ini. Gampangnya, jadilah teman yang asik untuk anak-anak.

Kenapa jadi teman yang asik? Karena anak-anak susah bersahabat sama orang tua yang suka marah, cerewet, suka nyuruh2, dan menyebalkan. Terus kenapa juga harus bersahabat sama anak? Agar anak nyaman untuk bercerita dan meminta pendapat kepada orang tuanya.

Kalau anak nggak nyaman curhat sama orang tuanya, lalu kepada siapa anak akan meminta pendapat? Kepada siapa anak akan mempertanyakan hal-hal yang sensisitif? Bukankah orang tua adalah tempat paling aman untuk bertanya? Masalahnya, apakah orang tua sanggup jadi tempat paling nyaman untuk bercerita?

Tut Wuri Handayani artinya dibelakang memberi dorongan. Saat usia anak sudah diatas 12 tahun, anak sudah memiliki kewenangan atas dirinya sendiri. Segala tindakan yang dilakukan adalah berdasarkan keputusannya sendiri.

Untuk itu, penting menjadi seorang “konsultan hidup” dalam membimbing anak untuk belajar mengambil keputusan secara mandiri dan rasional.

Turunkan ego kita dan dengarkan terlebih dahulu keluh kesah mereka dan berikan masukan serta dorongan agar mampu memecahkan masalahnya sendiri terlebih dahulu sebelum bala bantuan datang dari kita sebagai orang tua.

Selain menjaga kenyamanan hubungan dengan anak, ini juga membantu anak belajar menghadapi resiko dari tiap keputusan yang dibuat. Untuk itulah, menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup.

Baca juga : Pantas Saja Anak Zaman Sekarang Bandel-Bandel, Orangtuanya Malas Membacakan Doa Ini

Dari tiga metode diatas bisa kita simpulkan bahwa, pola mengasuh anak memang harus kita terapkan dari pengalaman pribadi kita sendiri selama ini.

Tanpa harus menyamakan dengan pola asuh dari orang tua kita terdahulu. Karena jamannya sudah berbeda maka kita harus lebih pintar-pintar dalam hal mencari-cari pola asuh anak. Agar tidak ada penyesalan dikemudian hari untuk anak-anak kita.

Semoga bermanfaat.
Top