Astagfirullah! Ketika Masjid Dijadikan Tempat Keributan Politik, Ini yang Akan Terjadi

Komentar

Massa pendukung dan penolak aksi #2019GantiPresiden di Surabaya terlibat bentrok di masjid Kemayoran, Surabaya. (foto: Jurnalpolitik.id)

Miris...

Ketika masjid sudah dijadikan tempat saling hujat dan adu kekuatan hanya karena masalah politik praktis.

Ketahuilah saudaraku, ini yang akan menimpa kita!

Baru-baru ini kubu massa deklarasi #2019GantiPresiden dan kelompok  penolak deklarasi terlibat aksi dorong di halaman masjid Kemayoran di Jalan Indrapura Surabaya, Jawa Timur, Minggu (26/8/2018).

Hal ini terjadi ketika massa Deklarasi Ganti Presiden awalnya berkumpul di sekitar Monumen Tugu Pahlawan. Namun, polisi kemudian membubarkan mereka.

Massa lalu bergerak ke Jalan Indrapura di depan kantor DPRD Jatim yang berjarak hanya 100 meter.

Ternyata di lokasi tersebut, sudah berkumpul massa kontra.

Polisi sempat memberi pagar betis agar kedua kubu tidak bersinggungan secara langsung. Polisi juga terus mengimbau agar massa kedua kubu membubarkan diri.

Namun, beberapa orang justru terlibat adu mulut dan saling dorong di halaman Masjid Kemayoran yang berada di seberang kantor DPRD Jatim, seperti dilansir dari kompas .com.

Melihat halaman masjid dipenuhi massa kedua kubu, seorang pengurus masjid dengan pengeras suara mengusir mereka.

"Ayo semuanya keluar, Ini masjid, jangan buat kerusuhan di dalam masjid. Ini belum waktunya Salat Dhuhur," kata pengurus masjid.

Sungguh miris, ketika masjid sudah dijadikan tempat keributan politik.

Memangnya tidak boleh politik masuk ke dalam masjid?

Tentu saja boleh, tapi politik yang seperti apa dulu?  Jika yang dimaksud adalah politik praktis yang memiliki potensi memecah belah umat maka tinjau lagi hukumnya.

Islam tidak pernah melarang umatnya berpolitik bahkan dianjurkan untuk kepentingan keadilan sosial dan pemenuhan hak dasar manusia.

Namun juga harus difahami, ketika hal tersebut sudah melenceng dari hakikat asal, maka hal tersebut tidak patut di benarkan.

BACA JUGA: Sungguh Ngeri Azab Bagi Orang yang Menjual Ayat Allah Demi Kepentingan Jabatan dan Dunia

Mari kita lihat kembali fungsi masjid dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Dalam Qur’an Surah An-Nurayat 36-37 Allah SWT berfirman yang artinya:

Di rumah-rumah yang disana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari  mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang.”

Pada ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa fungsi utama dari masjid adalah untuk beribadah, serta menjadi tempat untuk berdzikir dan bertasbih mensucikanNya.

Bukan untuk dijadikan sebagai tempat mempromosikan calon-calon yang sedang bertarung dalam kancah politik praktis.

Dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya:

Sesungguhnya, masjid-masjid ini hanyalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah ‘Azzawa Jalla, shalat, dan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 285).

Hadits di atas juga memiliki makna yang senada dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa fungsi masjid adalah tempat untuk beribadah, untuk kita shalat, berdzikir serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Jika politik praktis sudah memasuki masjid.

Tentunya akan sangat tidak pantas jika tempat suci yang fungsi utamanya untuk beribadah demi mendekatkan diri kepada Tuhan malah menjadi panggung-panggung kampanye dari golongan-golongan tertentu.

Jika hal itu terjadi maka umat islam akan mengalami hal ini:

1. Ancaman nyata yang pertama dari politisasi masjid ialah terbelahnya umat.

Tempat yang harusnya bisa menentramkan jiwa malah menjadi tempat untuk saling menjatuhkan antara Paslon yang sedang bertarung.

Orang yang harusnya beribadah malah terfokus untuk pemenangan, yang harusnya berdizikir dan bertasbih malah menjadi memaki.

BACA JUGA: Politik Dalam Islam Itu Perlu, Namun Jangan Sampai Anda Kebablasan

Lebih parah lagi, para politikus busuk yang ingin menjadikan masjid sebagai panggung kampanye juga biasanya dengan sesuka hati mengutip ayat-ayat dan hadits nabi untuk mendukung kepentingan mereka.

Padahal Allah telah mengingatkan tentang hal tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ} [البقرة: 41]

Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Dan bertaqwalah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2: 41).


2. Ancaman yang kedua ialah hilangnya kesucian dari masjid itu sendiri.

Politiasi masjid merupakan bentuk kejahatan dan penistaan yang nyata terhadap Islam.

Karena orang yang menggunakan masjid sebagai panggung kampanye berarti telah memanipulasi masjid demi kepentingan pribadi, berarti orang tersebut tidak lagi menganggap masjid sebagai tempat suci.

Rasulullah saw bersabda mengancam orang yang seperti ini.

Barang siapa yang mempelajari ilmu agama yang seharusnya ditujukan kepada Allah azawajallah, namun dia gunakan untuk mendapatkan kedudukan di dunia dan untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan pernah mencium wanginya surga di hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad, 2/No.338. Abu Dawud, No.3664 hadits sahih).

Demikian, Wallahu A'lam.
Top