Arti Alhamdulillah yang Bukan Sekedar Sebagai Ucapan Terimakasih kepada Allah

Komentar

arti alhamdulillah via tiaaprilya.wordpress.com

Seringkali kita mengucap "Alhamdulillah". Namun, apakah kamu sudah mengetahui artinya? Atau jangan-jangan kamu mengucap begitu saja tanpa tahu artinya. Nah, baiknya kamu tahu arti alhamdulillah terlebih dahulu. Simak yuk penjelasannya. 

Alhamdulillah. Ucapan ini sering kita ucapkan ketika mendapat nikmat dari Allah. Dan merupakan tanda syukur kita pada-Nya.

Namun, apakah ucapan ini hanya sebatas ungkapan rasa syukur? Coba sejenak kita tanyakan kepada diri kita sendiri.

Setiap kali kita mendapat pujian atau ucapan selamat dari teman-teman kita, kita mengucapkan “Alhamdulillah”, sambil merasa BANGGA dengan pujian itu. Kita lupa akan arti alhamdulillah yang sebenarnya.

Baca Juga : Allahumma Yassir Walaa Tu’assir Doa Pendek Tapi Maknanya Sangat Mendalam

Ucapan “Alhamdulillah” ialah mengembalikan segala pujian hanya kepada Allah dan menetralisir perasaan bangga ataupun sombong yang dalam hati kita.

Seharusnya kita merasa malu ketika kita dipuji. Mengapa?

Karena pujian bukan milik kita. Sesunguhnya pujian itu ialah milik Allah Yang Maha Terpuji.


ilustrasi arti alhamdulillah via ahadi.id

Lantas, apa perbedaan hamd dengan syukur? Mengapa manusia harus memuji Allah?

Alhamdulillah artinya segala puji bagi Allah. Kalimat ini terdiri dari 3 kata, yaitu: alhamdu, li, dan Allah.

Hamd artinya pujian, penambahan al bermakna untuk semua hal sehingga alhamdu diartikan segala puji dan li bermakna pengkhususan bagi Allah. Kalimat alhamdulillah disebut sebanyak 22 kali di dalam al Qur’an, beberapa diantaranya terdapat dalam surat : Al Fatihah/1:1, Al An’am/6:45, dan Yunus/10:10.

Kata hamd (pujian) berbeda dengan syukr(terima kasih), pujian diberikan karena sesuatu memang memiliki kelayakan untuk dipuji. Sementara terimakasih disampaikan karena ada sesuatu yang diterima oleh orang yang mengucapkan terima kasih.

Berikut ini beberapa konteks penggunaan kata alhamdulillah dalam Al Qur’an :


ilustrasi alhamdulillah via abimuda.com


Al Fatihah/1:1

Segala puji bagi Allah rabb (Tuhan) semesta alam. Redaksi seperti ini kita dapati pula ketika Allah menjelaskan bahwa orang-orang dzalim dimusnahkan sampai ke akar-akarnya (Al An’am/6:45), sebagai penutup doa ahli surga (Yunus/10:10), dan sebagai akhir pernyataan tentang keselamatan/kemenangan rasul dan orang yang mengikutinya (Ash Shaffat/37:182).

Walaupun redaksi ayat di atas merupakan pernyataan, namun kalimat itu mengandung makna keharusan memuji Allah sebagai rabb alam semesta.

Al An’am/6:1

Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.

Pada ayat ini Allah mengungkapkan karunianya yang berupa fasilitas kehidupan beserta potensi yang ada di dalamnya. Jika manusia pernah memuji manusia lain karena kedermawanannya, maka seharusnya manusia itu memuji Allah karena Allah-lah dzat memberi fasilitas manusia berdasar kehendak-Nya sendiri.

Pujian ini seharusnya juga kita ucapkan ketika kita merasa terlepas dari bahaya (Al Mukminun/23:28), ketika sesuatu yang kita inginkan terjadi (Ibrahim/14:39) atau ketika kita memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya (An Naml/27:15)

Al Isra’/17:111

Dan katakanlah : Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

Jika ada manusia yang memuji seorang raja karena kekuasaan yang dimiliki raja itu, maka seharusnya dia lebih memuji Allah swt karena kekuasaan Allah tidak ada yang menyerupainya. Berbeda dengan kekuasaan raja yang berada dalam serba kerelatifan.

Al Kahfi/18:1

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Kitab dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang karunia yang berupa petunjuk kehidupan.

Jika kita pernah memuji penuntun orang buta sebagai orang yang baik, maka seharusnya kita memuji Allah yang telah menerangi kehidupan tanpa adanya paksaan. Pujian kepada Allah karena adanya petunjuk ini juga diungkapkan oleh penghuni surga (Al A’raf/7:43)

Saba’/34:1

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagiNya pula segala puja di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa karunia Allah swt tidak hanya terbatas di dunia, namun juga terus berlanjut sampai hari akhirat kelak. Allah telah mengatur seluruhnya, dan menciptakan segala kelengkapan yang diperlukan untuk tegaknya sistem yang dikehendakiNya baik di dunia maupun akhirat (Fathir/35:1)

Andaikata tidak ada perintah untuk memuji Allah, namun selayaknya manusia memuji Allah. Karena apapun bentuk kekaguman manusia pada sesuatu, maka selayaknya manusia terlebih dahulu mengagumi Allah Yang Maha Sempurna.

Intinya, segala puji, baik dari Tuhan kepada Tuhan, dari Tuhan kepada makhluknya, dari makhluk kepada Tuhan, ataupun dari makhluk kepada sesama makhluk pada dasarnya adalah milik Allah. Karena semua makhluk adalah ciptaan Allah.

Baca Juga : Apa Arti dari Innamal A Malu Binniyat? Simak Penjelasan Lengkap dari Hadits Ini

Itulah penjelasan tentang arti alhamdulillah. Diharapkan kamu bisa mudah memahaminya ya. Semoga bermanfaat dan bisa kamu amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Top