7 Hal yang Harus Segera Dilakukan Saat Dampingi Orang Sakaratul Maut

Komentar
Jangan takut dan jangan bingung!!!

Lakukan 7 hal berikut saat dampingi orang sakaratul maut..

Mati adalah pasti. Setiap yang hidup akan mengalami kemusnahan, cepat atau lambat, saat tua atau masih muda, bahkan saat masih bayi. Saat akan mati, manusia tentu mengalami satu fase yang disebut fase sakaratul maut. 

Image from kajianlagi.blogspot

Sakaratul maut bisa menimpa siapa saja tanpa peduli usia, bahkan tidak pula menimpa orang yang sakit saja karena orang yang sehat sekalipun bisa tiba-tiba mengalaminya.

Sakaratul maut merupakan satu kondisi dimana seseorang tengah menghadapi kematian. Sakaratul maut biasa disebut sekarat, menjelang ajal atau dalam bahasa Jawa disebut najal, seperti yang dilansir oleh kajianlagi.blogspot

Dalam islam, ada aturan agar kita mendampingi orang yang sakaratul maut atau jika tidak bisa, Anda boleh mendatangkan orang shaleh, seperti ustad, kyai atau yang lainnya. Tujuannya tentu untuk mengingatkan kepada Allah serta mendoakan agar kematiannya dimudahkan.

Mungkin ada diantara Anda yang ingin mendampingi keluarga yang sakaratul maut, namun tidak tahu bagaimana caranya.

Baca juga : Sebuah Anugrah Allah SWT, Inilah Keistimewaan Orang yang Meninggal Dunia di Makkah

Berikut beberapa cara yang harus dilakukan saat dampingi orang sakaratul maut :

1.    Mentalqinkannya

Bagi orang yang mendampingi, dianjurkan mentalqinkan atau mengajari/menuntun di telinga pasien untuk membaca " La ilaha illallah." 

Dari Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Ajarkanlah orang-orangmu yang akan meninggal membaca La ilaha illallah!" Dan diriwaytkan pula oelh Abu Daud dari Mu'adz bin Jabal r.a. yang dinyatakan sah oleh Hakim, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Siapa-siapa yang ucapan terakhirnya berbunyi La ilaha illallah, pastilah ia masuk surga!". (Muslim, Abu Daud dan Turmudzi)

2.    Menghadapkannya ke arah kiblat, dalam kondisi berbaring pada sisi badan yang kanan.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abu Qatadah, juga oleh Hakim yang menyatakan sahnya. "Bahwa tatkala Nabi saw. tiba di Madinah, ia menanyakan Barra'bin Ma'rar, Ujar mereka: 'Ia sudah wafat dan mewasiatkan sepertiga hartanya buat Anda, juga agar ia dihadapkan ke arah kiblat sewaktu hendak meninggal.' Maka sabda Nabi saw.: "Tepat menurut ajaran Agama Islam! Mengenai hartanya yang sepertiga itu telah saya kembalikan kepada anaknya".


3.    Membacakan Surah Yasin

Bagi anggota keluarga yang lainnya, bisa membacakan surah yasin dengan harapan agar sakaratul maut orang tersebut dimudahkan. Hal itu sebagaimana dalam riwayat, yang artinya :

"Yasin adalah jantung Al-Qur'an, dan tidak seorang pun yang membacanya dengan mengharapkan keridhaan Allah dan pahala akhirat, kecuali ia kan diampuni-Nya. Dan bacakanlah ia kepada manusia, yakni orang yag hendak meninggal diantaramu!" (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, juga oleh Hakim dan Ibnu Hibban)

4.    Menutup kedua matanya bila telah meninggal.

Ketika seseorang sudha meninggal, segera tutupkan kedua matanya. Selain itu, Anda juga bisa membetulkan posisinya, misalnya : tangan bersedekap, kaki lurus dan mulut menutup.

"Bahwa Nabi saw. datang melawat Abu Salamah. Didapatinya matanya terbuka, maka ditutupkannya, lalu katanya: 'Jika nyawa seseorang dicabut, akan diikuti oleh pandangan matanya'." (HR. Muslim)

Baca juga : Politik Dalam Islam Itu Perlu, Namun Jangan Sampai Anda Kebablasan

5.    Menutup mayat dengan kain

Menutup mayat dengan kain bertujuan untuk menutup aurat serta aibnya.
Dari 'Aisyah r.a.: "Bahwa Nabi saw. ketika beliau wafat, jasadnya ditutupi dengan selimut Yaman." 

Dan dibolehkan mencium mayat menurut ijma'. Rasulullah saw. telah mencium mayat Usman bin Mazh'un, sedang Abu Bakar r.a. menelungkup dan meratapi tubuh Nabi saw. sewaktu ia wafat, lalu menciumnya diantara kedua matanya, serta katanya: "Wahai Nabiku, wahai junjunganku yang kucinta...!


6.    Menyegerakan pemakaman

Setelah dilakukan beberapa prosesi dari mulai memandikan, mengkafani dan menyolatkan, segera dilakukan pemakaman sebelum terjadi perubahan.

Dari Hushein bin Wahwah tanpa penjelasan lebih lanjut, Nabi saw. pergi menjenguk ketika Thalhal bin Barra' jatuh sakit, maka katanya: "Tak sempat lagi saya melihat Thalhah kecuali setelah ia menjadi mayat! Dari itu hendaklah kamu cepat memberitahukan padaku, dan mengenai jenazah, hendaklah segera pemakamannya, karena tidak layak bila jenazah Muslim  itu ditahan lama-lam diantara keluarganya!" (HR. Abu Daud)

7.    Membayar hutang si mayit

Jika seseorang memiliki hutang, maka diwajibkan bagi ahli waris untuk segera membayarnya atau setidaknya menjadi penjamin atasnya.


Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. oleh Ahmad dan Ibnu Majah, juga oleh Turmudzi yang menyatakan sebagai hadits hasan, bahwa Nabi saw. bersabda: "Nyawa seorang mukmin itu tergantung kepada utangnya sampai dibayar lebih dulu."

Semoga bermanfaat...
Top