Pentingnya Vaksin MMR, Jika Ditinggalkan Bisa Berakibat Fatal

Komentar

vaksin mmr via radionz.co.nz

Vaksin MMR adalah vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari penyakit gondong, campak, dan rubella. Meski bertujuan untuk melindungi tubuh, vaksin ini tidak luput dari kontroversi. Kabarnya, vaksin MMR menyebabkan gangguan sistem percernaan dan penyerapan nutrisi sehingga mengganggu perkembangan otak anak dan mencetus autisme.

Vaksin MMR merupakan vaksin yang terdiri dari 3 komponen vaksin yaitu Mumps (gondongan), Measles (campak), dan Rubella. Vaksin ini direkomendasikan kepada seluruh anak. Meski terkesan hanya melindungi anak dari tiga penyakit, sejatinya vaksin ini melindungi dari berbagai risiko penyakit mengerikan yang mungkin muncul.

Di Indonesia, apabila sudah menerima imunisasi campak pada usia 9 bulan, vaksin ini diberikan kepada anak-anak berusia 15 bulan. Harus diberikan minimal interval 6 bulan antara imunisasi campak dengan MMR.

Vaksin campak kedua (usia 18 bulan) tidak perlu lagi diberikan jika sudah mendapatkan vaksin MMR. Pemberian vaksin akan diulangi lagi pada usia 5 tahun.

Namun, ternyata vaksin MMR memang hampir tidak ada di Indonesia selama 2 tahun belakangan ini. Pemerintah mengubah hanya menjadi vaksin MR (Measles dan Rubella). Sedangkan mumps tidak lagi masuk ke dalam bagian vaksin ini. Selidik punya selidik, ternyata alasan pemerintah untuk tidak memasukkan vaksin mumps atau gondongan ke dalam vaksin MR yang baru ini adalah karena penyakit gondongan dianggap bukanlah penyakit epidemi atau mewabah, seperti measles ataupun rubella. Selain itu, gondongan juga merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri (self-limiting disease). Itulah 2 alasan yang mengakibatkan pemerintah tidak memasukkan mumps ke dalam vaksin MR.

Apa Kegunaan Vaksin MMR?

Sesuai namanya, MMR berfungsi melindungi anak dari tiga penyakit utama, yaitu campak, gondongan, dan rubella (campak Jerman). Meski terkesan hanya melindungi anak dari tiga penyakit, sejatinya vaksin ini melindungi dari berbagai risiko penyakit mengerikan yang mungkin muncul.

Agar lebih memahami kegunaan dari vaksin ini, beberapa gejala dan komplikasi dari penyakit ini harus dipahami. Berikut pemahaman singkat yang sebaiknya diketahui:

1. Campak

ilustrasi campak via hellosehat.com

Penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya gejala ruam, batuk, pilek, demam, dan bintik-bintik putih di mulut. Meski terdengar umum, nyatanya komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini tidak bisa dianggap remeh.

Campak yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan penderita mengalami pneumonia, encephalitis (peradangan pada otak) sampai kerusakan otak.

2. Gondongan

ilustrasi gondongan via hellosehat.com

Penyakit kedua yang ditangkal oleh vaksin ini adalah penyakit gondongan. Gejala yang umumnya muncul ketika penyakit ini muncul adalah demam, sakit kepala, kelenjar ludah mengalami pembengkakan, dan sakit saat mengunyah atau menelan makanan.

Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit yang membuat pipi membengkak ini bisa menyebabkan tuli dan meningitis. Pada laki-laki, penyakit ini bisa menyebabkan orchitis dan mempengaruhi kesuburan.

3. Rubella

ilustrasi rubella via hellosehat.com

Rubella atau campak Jerman adalah penyakit ketiga yang ditangkal oleh vaksin ini. Penyakit ini memiliki gejala-gejala berupa ruam, demam ringan sampai sedang, mata merah dan mengalami peradangan, serta terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening yang terletak di belakang leher. Komplikasi dari penyakit ini dinilai sangat serius pada perempuan hamil. Rubella dapat menyebabkan keguguran atau bayi mengalami cacat lahir.

Bagaimana dengan Kondisi yang Membuat Bayi Tidak Boleh Menerima Vaksin MMR?

ilustrasi kondisi bayi yang tidak boleh menerima vaksin mmr via unmondodibimbo.it

Meski semua bayi dan anak-anak sesuai kriteria umum di atas diwajibkan mendapatkan vaksin MMR, ada beberapa kondisi yang membuat mereka harus menunda mendapatkan vaksinasi. Kondisi-kondisi yang membuat anak tidak bisa divaksin adalah:
  • Sedang menjalani pengobatan steroid dosis tinggi atau dalam dosis rendah bersama dengan obat-obatan lainnya dalam waktu lama. Agar lebih meyakinkan, sebaiknya konsultasikan hal ini dengan dokter.
  • Anak memiliki reaksi alergi yang parah terhadap vaksin ini atau komponen di dalamnya. Biasanya hal ini bisa diketahui setelah anak mendapatkan vaksin sejenisnya di masa lalu.
  • Sedang menjalani perawatan kanker, baik kemoterapi maupun radioterapi. Anak juga tidak boleh diberikan vaksin ini jika pernah menjalani perawatan ini pada 6 bulan terakhir.
  • Mereka yang menjalani transplantasi organ dan mengonsumsi obat-obatan untuk menghentikan sistem kekebalan tubuh alias imunosupresan juga tidak boleh diberikan vaksin ini.
  • Vaksin ini juga tidak boleh diberikan kepada anak yang telah melakukan transplantasi sumsum tulang dan menyelesaikan semua terapi imunosupresif dalam 12 bulan atau setahun terakhir.
  • Sistem kekebalan anak menurun. Hal ini umumnya harus dipastikan dengan pemeriksaan oleh dokter.

Apakah Vaksin MMR memiliki Risiko Efek Samping?

ilustrasi efek samping vaksin mmr via nakita.grid.id

Umumnya vaksin MMR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping ringan yang mungkin dirasakan adalah kemerahan di bagian tubuh yang disuntik atau demam.

Efek samping yang juga mungkin muncul antara lain:
  • Pembengakakan kelenjar
  • Kejang-kejang
  • Demam
  • Sendi kaku atau nyeri sendi
  • Ensefalitis atau radang otak
  • Perdarahan atau jumlah trombosit rendah
  • Munculnya penyakit gondong yang tidak menular, hanya berlangsung sekitar dua hari
  • Munculnya campak ringan yang tidak menular dan hanya berlangsung sekitar tiga hari

Kejang-kejang akibat demam juga bisa terjadi, tapi kasus ini jarang terjadi. Guna menghindari meningkatnya risiko ini, anak-anak disarankan untuk mendapatkan vaksin MMR sedini mungkin. Karena seiring bertambahnya usia, risiko anak terkena efek samping ini dapat meningkat.

Selain efek samping di atas, terdapat pula beberapa anak yang alergi terhadap vaksin MMR atau obat yang terkandung di dalamnya. Tapi, kasus ini jarang sekali terjadi. Jika memang anak Anda alergi terhadap kandungan yang terdapat di dalam vaksin MMR, maka hindari pemberian vaksin ini karena bisa membahayakan tubuh..

Menguak Mitos tentang Vaksin MMR



ilustrasi autisme via celcas.com

Ada banyak rumor yang menyebutkan bahwa vasin MMR terkait dengan autisme. Bagi pihak yang percaya, vaksin ini dapat menyebabkan anak yang menerimanya mengalami autisme. Sayangnya hal tersebut memiliki dasar yang lemah.

Makin meningkatnya penderita autisme pada dasarnya tidak terkaitan dengan pemberian vaksin ini. Penderita autisme makin banyak karena kesadaran masyarakat dan cara mendiagnosis telah mengalami kemajuan daripada sebelumnya. Jika di masa lalu penderita susah diketahui, saat ini autisme bukan sesuatu yang aneh di dalam dunia kedokteran.

Untuk membuktikan bahwa autisme dan vaksin MMR tidak ada hubungannya, berbagai pihak telah melakukan penelitian. Semua pihak yang melakukan penelitian tersebut kemudian membuat kesimpulan yang seragam. Kesimpulan tersebut adalah tidak ada bukti yang memadai bahwa pemberian vaksin untuk menangkal campak, gondongan, dan rubella bisa menyebabkan autisme.

Artikel ini menjelaskan seputar vaksin MMR baik manfaatnya, efek samping, dan bahkan mitos yang terkait. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
Top