Miris, Cuma Karena Hal Sepele Bocah SD ini Harus Meregang Nyawa

Komentar

Bocah SD harus meregang nyawa di tangan temannya sendiri, dilansir dari merdeka.com

Apa sih sebenarnya yang salah dengan anak-anak masa kini...

Hingga dengan mudahnya mereka melakukan tindakan-tindakan konyol, bahkan sampai merenggut nyawa.

Kematian FNM (12), siswa kelas VI SDN Cikandang 1 Cikajang, Garut, Jawa Barat, korban duel maut dengan rekannya, masih menyisakan pilu bagi keluarga hingga kini.

Peristiwa tersebut terjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cikandang 1, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Dua siswa itu berkelahi hanya gara-gara salah satunya kehilangan buku. Salah satu anak yang bernama FDL (12) harus meregang nyawa usai tertusuk gunting.

Yang lebih memprihatinkan, siswa yang menusuk MH (12) dengan korban ini masih memiliki hubungan keluarga seperti dilansir dari liputan6.com.

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian bagi para orang tua, sudah banyak kasus serupa yang terjadi di sekitar kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah ada apa dengan generasi sekarang?

Apakah mereka yang salah, atau pola didik orang tua yang tidak benar?

Pada dasarnya karakter anak semuanya baik, hanya saja pola didik dan lingkungan merubah mereka menjadi seperti itu.

Setiap orangtua tentu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Tapi, terkadang kita sebagai orangtua tidak menyadari pola pengasuhan yang kita lakukan sebenarnya keliru dan berdampak negatif bagi anak.

Berikut kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak hingga menjadi tidak toleran dan arogan;

1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis.

Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak.

Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar.

2. Banyak Mengancam

“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!”

“Jangan ganggu adik,nanti MAma/Papa marah!”

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman.

Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!” Hal ini membuat mereka tertekan dan lebih mudah marah pada sesuatu.

3. Menakuti Anak

Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya.

BACA JUGA: Awas! Anak Suka Berbohong, Coba Lihat Kaca Dirumah Anda Ada Apa

Kita juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.

4. Terlalu dimanjakan

Berusaha memenuhi setiap permintaan anak dipercaya orangtua akan membuat anak bahagia. Padahal, pola asuh seperti ini akan membuat anak sulit merasa puas dan membuat mereka suka memaksa.

5. Membuat anak sibuk

Orangtua kebanyakan mengira bahwa "aktivitas" akan menjauhkan anak dari masalah.

Faktanya, anak yang terlalu sibuk selain kelelahan juga bisa membuatnya stres dan menjadi arogan.

6. Kepintaran dianggap paling penting

Membangga-banggakan prestasi akademik anak dapat membuat anak menjadi arogan dan merasa orang lain lebih bodoh. Kondisi ini justru membuat anak dijauhi teman-temannya.

8. Terlalu sering mengkritik

Anak yang orangtuanya terlalu sering mengritik akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri atau menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Saat ia melakukan kesalahan, mereka merasa tidak berguna dan marah.

9. Membebaskan anak nonton tv atau main gadget

Membiarkan anak terus menatap layar elektronik, entah itu televisi, ponsel, atau gadget lain adalah tindakan yang salah.

Apalagi konten-konten di semua media tersebut banyak yang mendidik tentang keburukan dan kekerasan.

10. Terlalu melindungi anak

Naluri orangtua adalah melindungi anak, tetapi bukan berarti anak harus "dipagari" dari kesusahan. Pola asuh seperti ini dapat membuat anak kurang bersyukur dan menghargai sesuatu. Terkadang anak juga perlu belajar menghadapi kehilangan atau masalah.

Oleh karena itu sebagai orang tua, kita perlu berhati-hati dalam pengasuhan anak pada masa perkembangannya karena setiap didikan kita dapat berpengaruh besar bagi kehidupan sang anak di masa depan.
Top