Jangan Menceritakan "ini" Kepada Siapapun Bahkan Sampai Mati Sekalipun

Komentar

Gambar ilustrasi diolah dari nasional.harianterbit.com

Jangan Pernah menceritakan, bahkan mengumbar...

Setipa manusia memang tempatnya dosa, namun Rasulullah melarang menceritakan dosa "ini" kepada orang lain siapapun dia.

Bukan syarat taubat dari zina harus menceritakan dan melaporkan dosa zina itu kepada orang lain, siapapun dia.

Baik calon suaminya, orang tuanya, saudaranya, ustadnya, gurunya, bahkan termasuk pemimpin yang ada di negerinya.

Dilansir dari konsultasisyariah.com, Buraidah bin Hashib Radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

Suatu ketika Maiz bin Malik datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي

“Ya Rasulullah, sucikan aku…”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ

“Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”

Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan,

يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي

“Ya Rasulullah, sucikan aku…”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ

“Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”

Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan yang sama dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama sampai 3 kali. Hingga di kedatangan yang keempat, baru Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pengaduan Maiz. (HR. Muslim 1695 dan Nasai dalam al-Kubro 7125).

BACA JUGA: Seberapapun Buruknya Dirimu, Bertaubatlah. Karena Sebaik-baik Pendosa Adalah Mereka yang Hijrah dan Bertaubat


Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa bukan syarat taubat harus mengaku.

Karena inti dari taubat adalah memohon ampun kepada Allah karena menyesali perbuatannya.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan sebisa mungkin dirahasiakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

ويؤخذ من قضيته – أي : ماعز عندما أقرَّ بالزنى – أنه يستحب لمن وقع في مثل قضيته أن يتوب إلى الله تعالى ويستر نفسه ولا يذكر ذلك لأحدٍ . . .

Berdasarkan kasus ini Sahabat Maiz yang mengaku berzina, dan menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus ke dalam kasus zina untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan menutupi kesalahan dirinya, dan tidak menceritakannya kepada siapapun.

Lalu beliau mengatakan,

وبهذا جزم الشافعي رضي الله عنه فقال : أُحبُّ لمن أصاب ذنباً فستره الله عليه أن يستره على نفسه ويتوب..

Dan ini juga yang ditegaskan as-Syafii Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

Saya menyukai bagi orang yang pernah melakukan perbuata dosa, lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya dan serius bertaubat kepada Allah… (Fathul Bari, 12/124).

BACA JUGA: Pendosa Masuk Surga dan Ahli Ibadah yang Masuk Neraka

Orang lain tidak memiliki kepentingan dengan maksiat kita yang sifatnya pribadi.

Sehingga sekalipun dia tidak tahu, tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi kehidupannya.

Sebaliknya, ketika dia tahu, tidak akan semakin memperbaiki keadaan pelaku.

Karena itu, bertaubatlah mohon ampun pada Allah, dan jangan ceritakan dosa zina kepada siapapun sampai mati!!

Demikian. Allahu a’lam.
Top