Fakta, Ngerokok Budaya Miskin dan Pendidikan Rendah

Komentar

Fakta rokok penyumbang kemiskinan diolah dari tirto.id

Bukan asal ngomong, ini menurut fakta penelitian...

Mengapa merokok itu biang kerok kemiskinan dan tingkat pendidikan masyarakat yang rendah? simak penjelasannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan beberapa kali laporan soal tingkat konsumsi masyarakat miskin terhadap kebutuhan mereka.

Lagi-lagi rokok di posisi teratas bersama beras yang dianggap sebagai penyumbang kemiskinan.

BPS mencatat komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan di perdesaan dan perkotaan di antaranya beras, rokok, telur ayam ras, gula pasir, mie instan, bawang merah, dan roti.

Data Maret 2016, sumbangan rokok kretek filter terhadap garis kemiskinan tercatat 9,08 persen di perkotaan dan 7,96 persen di perdesaan, terbesar kedua setelah beras. Secara total sumbangan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 73,07 persen. .

"Rokok tidak menyumbang kalori, tapi tetap harus dihitung sebagai pengeluaran," kata Kepala BPS Suryamin dikutip dari Antara.com. 

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) punya pandangan.

Berbekal data BPS, mereka punya anggapan harga rokok yang tinggi akan menurunkan tingkat konsumsi rokok di rumah tangga miskin.

Sebanyak 70 persen konsumsi rokok justru menjerat rumah tangga miskin di Indonesia.

Bila konsumsi rokok rumah tangga miskin turun maka, di atas kertas efeknya positif. Teorinya, uang yang selama ini membeli rokok bisa dikonversi untuk membeli bahan pangan.

“Efek ekonomi dari rokok adalah makin memperdalam kemiskinan. Industri rokok telah membuat pelanggannya kecanduan yang berimbas kepada yang miskin,” jelas laporan yang dibuat WHO berjudul the global tobacco crisis.

Hasil survei PKJS-UI

Sementara itu, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) merilis hasil survei mengenai dukungan publik terhadap kenaikan harga rokok.

Dari hasil survei menunjukan bahwa masyarakat Indonesia mendukung harga rokok dinaikan agar tidak ada lagi membeli rokok.

Anggota Tim Peneliti PKJS-UI Renny Nurhasanah mengungkapkan, dukungan harga rokok mahal ternyata tidak hanya muncul dari masyarakkat non perokok, namun juga dari para perokok itu sendiri. Hal ini dibuktikan dalam survei yang dilakukan PKJS-UI selama bulan Mei 2018 pada 1.000 responden.

Renny mengatakan, survei ini ditujukan untuk mengukur seberapa besar dukungan masyarakat terhadap kenaikan harga rokok dan mengetahui sikap perokok terhadap dampak kenaikan harga rokok.

BACA JUGA: Tubuh Anak Denada Digerogoti Leukimia! Dear Orangtua, Kenali Gejala dan Penyebabnya

"Bahwa 88 persen responden mendukung kenaikan harga rokok agar anak-anak tidak membeli rokok. Jika dikelompokan pada perilaku merokok 80,45 persen perokok, 93,01 persen non perokok, dan 92,63 persen yang sudah berhenti merokok setuju harga rokok dinaikin lagi," kata Henny, di Jakarta, Selasa (17/6).

Renny melanjutkan, hasil survei juga menunjukan sebanyak 66 persen dari 404 responden perokok akan berhenti membeli rokok apabila harga rokok naik menjadi Rp 60.000 per bungkus dan sebanyak 74 persen dari 404 responden perokok mengatakan akan berhenti merokok apabila rokok naik menjadi Rp 70.00 per bungkus.

Dalam survei ini, ditemukan juga bahwa prevelensi perokok aktif pada responden dengan penghasilan keluarga kurang dari Rp 2,9 juta dan Rp 3 - 6,9 juta berturut-turut 44,61 persen dan 41,88 persen, lebih tinggi dibandingkan responden dengan penghasilan keluarga lebih dari Rp 7 juta yang memiliki prevelensi sebesar 30,91 persen.

"Hal ini membuktikan, bahwa keluarga berpendapatan dan berpendidikan rendah cenderung merokok. Tidak mengherankan Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa rokok penyumbang kemiskininan," pungkasnya.
Top