Berikut ini Contoh Khutbah Jumat yang Singkat, Padat, dan Jelas

Komentar

contoh khutbah jumat via republika.co.id

Diwajibkannya shalat jum'at pada setiap hari jum'at sebagai pengganti shalat dzuhur secara tidak langsung bahwa hari tersebut memiliki keunggulan lebih dibanding enam hari lainnya.

Khutbah jumat merupakan bagain rukun penting dan tidak dipisahkan satu sama lain dengan tata cara pelaksanaan sholat jumat itu sendiri.

Meskipun pada dasarnya, isi materi dari khutbah jumat tidak di tentukan harus mengambil apa, dalam arti boleh apa saja sesuai dengan kemampuan khatib.

Selain kelengkapan materi khutbah, diperlukan juga persiapan mental, hingga wawasan seputar pelaksanaan sholat jumat. Materi yang bagus tidak serta merta menjadikan proses khutbah akan berlangsung dengan lancar, bisa saja seorang khatib akan lalai terhadap rukun-rukun khutbah yang semestinya menjadi rangkaian sholat jumat.

Di dalam madzhab Syafi’i ada 5 rukun khutbah yang harus dipenuhi agar khutbah yang disampaikan seorang khatib sah. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa hendaklah rukun khutbah diucapkan dengan bahasa Arab.

Berikut ini adalah Rukun Khutbah Jumat:


ilustrasi rukun khutbah Jumat via iyakan.com
  • Mengucapkan Alhamdulillah; puji-pujian bagi Allah swt. dalam bentuk kalimat apapun (bahasa Arab). Seperti misalkan, “Alhamdulillaahirabbil ‘alamin wabihi nasta’in …” boleh juga, “Innalhamdalillah nahmaduhu …” dan kalimat kesyukuran lainnya.
  • Mengucap shalawat kepada Nabi Muhammad saw. sebagai bentuk rasa syukur, peneladanan, dan kecintaan kita sebagai ummatnya yang berkat jasa beliau saw. bisa menikmati indahnya iman dan Islam. Shalawat yang utama adalah dengan ucapan, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in” atau juga bisa dengan menggunakan lafadz shalawat yang lain.  (menggunakan bahasa Arab).
  • Wasiat atau nasehat untuk bertaqwa kepada Allah swt. Maksudnya, khatib menyeru jamaah shalat Jumat untuk bertaqwa kepada Allah dengan lafadz apapun. Diutamakan dengan ayat-ayat Al-Qur’an seperti, “Yaa Ayyuhalladzina Aamanuttaqullaha haqqa tuqaatih.” (QS. Al-Imran: 102)
  • Membaca petikan ayat Al-Qur’an di salah satu dari dua khutbah. Ayat yang dibacakan haruslah ayat yang mempunyai arti jelas, bukan ayat-ayat mutasyabih seperti Alif Laam Miim. Dalam artian, ayat-ayat Al-Qur’an yang bisa ditafsirkan.
  • Berdoa untuk kaum muslimin. Doa yang dipanjatkan adalah doa-doa yang sudah makruf, atau umum. Seperti doa sapu jagat, doa selamat, atau doa yang lainnya.

Inilah Contoh Khutbah Jumat

Jika wawasan seputar sholat jumat sudah kita pahami, lalu kesiapan mental telah kita persiapkan dengan bijak, tentu materi yang matang merupakan kunci dalam menyampaikan khutbah jumat. Berikut ini contoh khutbah jumat.


ilustrasi contoh khutbah Jumat via news.okezone.com

Judul: Menjadi Pribadi Muslim yang Ideal

Rukun Khutbah 1 
Alhamdulillahirabbil ‘alamin wabihi nasta’in wa’alaa umuriddunya waddin …

Rukun Khutbah 2
Asyhadu an-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa’ala aalihi washahbihi ajma’in.

Rukun Khutbah 3
Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

Rukun Khutbah ke 4 
A’udzubillahiminasy syaithaanirrajiim. Bismillaahirrahmaanirrahiim. “Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim” (QS. At-Tiin: 4)

Isi Khutbah 

Khutbah ke-1

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia, puji dan syukur telah kita panjatkan kepada Allah swt., pemilik kerajaan langit dan bumi. Shalawat dan salam telah juga terlimpah curah kepada kekasihNya, yakni nabi kita semua Muhammad saw.

Sebagaimana ayat yang telah saya sampaikan tadi, Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim, manusia telah diciptakan oleh Allah swt. dengan bentuk yang paling sempurna, lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-mahkluk lain yang pernah hidup di dunia ini.

Kelebihan atau kesempurnaan yang diberikan Allah pada kita, manusia, adalah sebuah kehendak bebas untuk memilih sesuatu berdasarkan akal kita. Kita bisa memilih untuk menjadi seseorang yang baik, atau seseorang yang jahat. Tidak seperti malaikat yang senantiasa baik dan iblis yang sampai hari kiamat akan berbuat tercela.

Tetapi kehendak bebas yang Allah berikan kepada kita tersebut tetap berada pada bingkai qodo-qodarnya; tetap sudah tertulis di Lauh Mahfudznya sejak zaman ajali.

Sidang Jumat yang berbahagia, 

Sebagai seorang muslim tentulah kita harus terus berusaha menjadi pribadi yang baik, pribadi yang mencontoh suri tauladan terbaik, ummat terbaik. Oleh karena itu pantang bagi kita semua untuk berdiam bermalas-malasan dengan keburukan.

Imam Hasan Al-Banna pernah sekali merumuskan tentang ciri-ciri pribadi muslim sejati yang bisa kita buat sebagai acuan kehidupan kita, apakah sudah sesuai dengan ciri-ciri tersebut atau belum. Tentu, ciri-ciri yang disebutkan oleh Imam Hasan Al-Banna ini juga berada pada diri Rasulullah Muhammad saw., hanya saja beliau memperinci agar mudah kita ikuti.

Ciri-ciri pribadi muslim yang pertama adalah salimul aqidah; akidah yang lurus.

Sebagai seorang muslim sejati, hal paling dasar yang harus kita miliki adalah akidah yang lurus mentauhidkan Allah; menyucikan Allah dari segala bentuk keburukan dan sifat-sifat makhluk seperti Allah membutuhkan makan, Allah membutuhkan tempat, dll.

Ciri kedua, shahihul ibadah; ibadah yang benar.

Dalam beribadah, seorang muslim harus mendasarkan semuanya pada nash-nash yang jelas baik itu Al-Qur’an maupun hadits. Tidak boleh kita melakukan ibadah tanpa dasar sama sekali atau bahkan melenceng dari apa yang Rasulullah saw. ajarkan pada kita semua.

Ciri ketiga, matinul khuluk; akhlak yang kokoh

Rasulullah saw. diciptakan ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak. Maka, sebagaimana seharusnya –seorang muslim mengikuti suri tauladan terbaik- kita pun harus mempunyai akhlak yang terpuji selayaknya Nabi; menolong orang-orang yang lemah di antara kita, murah senyum pada sesama muslim, menebar kebaikan pada seluruh ummat manusia.

Karena sejatinya, menjadi seorang muslim juga berarti orang lain yang merasa aman dari tangan, mulut, dan perangai kita saat berada bersisian-bersamaan.

Ciri keempat, mutsaqaful fikr; intelek dalam berpikir

Seperti yang telah kita ketahui bersama, salah satu sifat wajib bagi rasul adalah fatonah yang artinya cerdas. Lagipula, Rasulullah saw. juga pernah bersabda bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib, maka kita sebagai muslim idealnya juga cerdas dalam berpikir. Karena wahai sidang jumat yang diberkahi Allah, kita hari ini sedang berada pada perang pemikiran yang mengerikan sekali.

Ciri kelima, mjahadatul linafsihi; berjuang melawan hawa nafsu

Manusia memiliki hawa nafsu. Sifatnya memang menggebu-gebu, kalau kita tidak bisa menahannya. Perjuangan melawan hawa nafsu ini dikabarkan nabi sebagai perang besar karena memang berat sekali. Sebagai seorang muslim yang menginginkan bentuk ideal dari kepribadiannya, harus bisa berlatih untuk menahan atau lebih tepatnya mengendalikan hawa nafsu agar kita tidak terjerumus pada perbuatan yang tercela dan tidak disukai oleh Allah swt.

Ciri keenam, haritsun ‘ala waqtihi; pandai menjaga waktu

Seorang muslim yang ideal haruslah pandai menjaga waktu; menentukan prioritas untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan. Sehingga, pekerjaan-pekerjaan tidak menumpuk dan menganggu kekhusyuk-an ibadah kepada Allah swt.

Ciri ketujuh, munazhzhamun fi syu’unihi; terartur dalam segala urusan

Ciri ini erat kaitannya dengan ciri yang sebelumnya, dengan kita pandai menjaga waktu, kita pun akan otomatis bisa teratur dalam urusan. Mengerjakan hal-hal yang penting mendesak dulu sebelum mengerjakan hal-hal yang kurang penting dan kurang mendesak.

Ciri kedelapan, qadirun alal kasbi; memiliki kemampuan usaha sendiri / mandiri

Rasulullah saw. telah mencontohkan kepada kita semua ketika umurnya masih 12 tahun, beliau sudah mampu untuk membiayai dirinya sendiri dengan bergiat usaha. Maka patutlah hari ini kita bertanya pada diri sendiri, sudah sampai manakah kita mandiri membiayai diri sendiri, terkhusus bagi para jamaah yang masih muda.

Ciri kesembilan, Nafi’un lighairihi; bermanfaat bagi orang lain

Sebagaimana hadits yang populer di tengah-tengah kita: sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka seorang muslim yang ideal adalah dia yang sanggup memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya untuk kebermanfaatan orang banyak.

Ciri kesepuluh, qowiyul jism; jasmani yang kuat-sehat

Untuk mencapai kesembilan ciri pribadi muslim sebelumnya tentu tidak mudah. Butuh kemampuan fisik yang prima agar tidak mudah lelah dan menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan-kesulitan. Hal ini bisa dicapai dengan merutinkan olah raga satu minggu satu kali dan kegiatan-kegiatan kebugaran lain.

Akhir kata, sidang jumat yang berbagahia, marilah kita menjadi seorang muslim yang dicintai Allah sebagai mana Allah mencintai muslim yang kuat, yakni yang kuat fisiknya, fikirnya, finansialnya, dan sosialnya.

Barakallahu lii walakum filquraanilkariim wa ja’alanallahu minalladziina yastami’uunalqaula fayattabi’uuna ahsanah. Aquulu qoulii hadzaa waastaghfirullaha lii walakum.

(Duduk sejenak)


ilustrasi gambar via youtube.com

Khutbah ke-2

(Mengucapkan kalimat yang termasuk rukun khutbah 1)

(Mengucapkan kalimat yang termasuk rukun khutbah 2)

(Mengucapkan kalimat yang termasuk rukun khutbah 3)


Doa khutbah Jumat 


ilustrasi doa khutbah Jumat via satriabajahitam.com

Artinya: Ya Allah, ampunilah kaum mukminin laki-laki dan perempuan, kaum muslimin lelaki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Maha Dekat, Dzat yang mengabulkan doa.

ilustrasi doa khutbah Jumat via satriabajahitam.com

Artinya: Ya Rabb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu sebelum kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Itulah salah satu referensi contoh khutbah Jumat yang bisa dijadikan bahan bagi para khatib yang sedang membutuhkannya. Mohon maaf jika ada kekurangan atau kesalahan. Semoga kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Top