Anak Sudah Pandai Berbicara Tapi Tak Selalu Mendengar Ucapan Orang Tua, Ikuti 10 Tips Bicara Dengan Anak

Komentar

Sumber gambar Parenting

Berbicara atau berkomunikasi dengan anak memang tidak mudah, apalagi jika anak kita masih balita. 

Namun, bagaimanapun juga kita tidak bisa menyangkal pentingnya komunikasi dalam hubungan orangtua dan anak.

Berikut adalah cara efektifnya.

Jika berkomunikasi dengan anak yang sudah besar dan bisa mengerti saja sudah sulit, apalagi berkomunikasi dengan anak yang belum mengerti apa-apa.

Namun, bagaimanapun juga kita tidak bisa menyangkal pentingnya komunikasi dalam hubungan orangtua dan anak.

Berikut adalah cara efektif berkomunikasi dengan balita seperti yang dikutip dari sayangianak.com.

1. CARA ORANGTUA MENYAMPAIKAN ISI PESAN PERLU DIUBAH SEHINGGA TAK TERKESAN MEMERINTAH, MENYURUH, MENEGUR, ATAUPUN MELARANG


Sumber gambar sheknows.com

Bagaimana agar balita mau mendengarkan kita? Berhubung anak hanya mau mendengar hal yang menurutnya menyenangkan, cara orangtua menyampaikan isi pesan perlu diubah sehingga tak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang.

2. SAAT BICARA ADALAH UNSUR PENTING, PILIHLAH KOMUNIKASI YANG TEPAT


Sumber gambar www.enfa.co.id

Komunikasi dengan anak bisa secara resmi atau tidak resmi. Komunikasi ini bergantung pada anak itu sendiri dan usia mereka.

Berkomunikasi secara resmi dengan percakapan yang panjangnya lebih dari 2-3 menit dengan anak umur 3 tahun terlihat konyol. Tapi berbicara dengannya secara efektif sambil duduk di kursi goyang, sambil membaca buku, dan saat kami di mobil.

Beberapa anak menyukai percakapan yang serius dengan ayah mereka. Beberapa anak tidak menyukai percakapan seperti itu dan mereka menutup mulutnya rapat-rapat. Jangan merasa tidak enak jika cara yang Anda gunakan tidak berhasil.

Kuncinya adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi ini bisa dilakukan saat kalian bermain ski di lereng gunung, saat memasak di dapur, atau di mana pun kalian berada.

3. JANGAN BERBICARA KETIKA SEDANG KESAL PADA ANAK


Sumber gambar Tentrem Hipnoterapi

Banyak orang tua membuat kesalahan dengan mencoba untuk berbicara dengan anak-anak mereka saat mereka sedang kesal. Jika emosi meningkat, hentikan percakapan Anda. Baik Anda ataupun anak Anda yang sedang memanas, hentikan percakapan dan katakan, “Saat ini kita benar-benar sedang marah. Mari kita tunggu dan mendiskusikan hal ini lagi nanti.”

Dalam hal ini, Anda tidak sedang plin-plan. Sebaliknya, Anda sedang mengontrol situasi. Kita semua tahu bahwa hal-hal penting sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin. Bertindaklah sedewasa mungkin, kontrol situasi, dan pilih waktu yang terbaik untuk membicarakan tentang hal itu.

Baca Juga: Cucu AA Gym Meninggal Dunia Secara Mendadak, Netizen Sebut Diduga Akibat Sindrom SIDS

4. POSISI BADAN ORANGTUA KETIKA BICARA SEJAJAR DENGAN ANAK
Posisikan badan kita sejajar dengan tinggi badan balita dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak bisa lebih mudah terfokus dan menangkap pesan atau dialog yang dilontarkan orangtua.

Jika anak terlihat tidak memerhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, dekap anak saat kita mengajaknya berbicara.

Jarak yang jauh atau kesibukan Anda pada kegiatan tertentu membuat alur komunikasi takkan sampai dengan baik.

Misalnya, Anda bicara kepada anak sambil membaca koran di ruang tamu atau menonton TV. Tentu anak merasa dirinya tidak dianggap penting, omongan kita pun tidak dianggapnya penting. Akhirnya anak tidak menangkap pesan yang dimaksud.

5. KATA-KATA YANG DIUCAPKAN SEBAIKNYA PENDEK ATAU SEDERHANA


Sumber gambar Anmum

Tidak terlalu berpanjang-panjang apalagi berbelit-belit. Sesekali perhatikan bagaimana balita berkomunikasi dengan teman sebayanya. Cermatilah caranya.

Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ucapan kita tak dipahaminya entah karena bertele-tele, atau karena berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang. Semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya.

6. KONTAK MATA KARENANYA ANAK MERASA MENDAPAT PERHATIAN DAN KEBERADAANNYA BEGITU PENTING
Adanya kontak mata juga menandakan orangtua bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Dengan menatap matanya, anak pun merasa mendapat perhatian dan keberadaannya begitu penting.

Teguran kitayang sebaiknya disampaikan dengan kalimat-kalimat positifdengan begitu akan dianggap penting juga oleh anak. Misalnya, dalam rangka menegur perbuatan salahnya. Kontak mata pun tetap diperlukan manakala orangtua dan anak berdialog biasa, memberi perintah, atau menanyakan sesuatu.

7. BERBICARA SEPERTI CARA YANG KITA HARAPKAN JIKA ORANG LAIN BERBICARA KEPADA KITA
Berbicaralah kepada anak dengan cara seperti yang kita harapkan jika orang lain berbicara kepada kita.

Jika hendak minta bantuan, yang pertama kali harus diucapkan adalah “tolong”, bukan? Niscaya anak tak merasa dipaksa saat diperintah. Sekaligus orangtua juga mengajari anak untuk bersikap santun.

8. DENGAN CONTOH, ANAK BELAJAR BAGAIMANA MENJADI PENDENGAR YANG BAIK
Ajarkan bagaimana pentingnya mendengarkan. Jika anak merasa dirinya didengar, maka ia pun akan belajar mendengarkan kita. Berilah contoh atau teladan yang baik dengan memberi perhatian yang tulus saat anak berbicara. Dengan contoh konkret, anak akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik.

9. JANGAN SEKEDAR BICARA, LAKUKAN BERSAMA
Saat melihat mainan balita begitu berantakan, takkan efektif bila kita hanya menyuruhnya membereskan semua. Alangkah bijak bila kita mengajaknya “Kak, ayo kita beresin mainannya.” Dengan begitu, unsur perintah lebih tersamar.

Sekali lagi, anak membutuhkan contoh konkret dari orangtua. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari, anak akan mau melakukan yang kita harapkan tanpa menunggu disuruh.

Langkah ini juga memupuk sikap mandirinya, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai.

10. PENTING SESEKALI BERSIKAP TEGAS
Bersikap selalu lembut sebenarnya kurang baik juga bagi perkembangan balita. Agar anak bisa taat aturan, sikap tegas juga perlu ditunjukkan.

Misalnya saat anak melakukan ketidakdisiplinan, tak ada salahnya ditegur. “Kakak, ini sudah waktunya mandi. Ayo matikan TV-nya.”

Sikap tegas berarti mengatakan apa yang perlu/harus dilakukan dengan nada bicara yang datar namun jelas. Dengan bersikap tegas, anak akan merasa segan pada orangtua sehingga tak mau lagi melanggar aturan, Selamat mencoba!
Top