Kalau Kamu Punya Saudara / Teman yang Selalu Merasa Benar, Share ini ke Mereka

Komentar


Gambar via brilio

Banyak orang yang merasa paling benar. Padahal, orang lain yang menilai saja bisa salah...
Bagikan ini kepada mereka yang selalu merasa paling benar sendiri..

Maka, lebih baik diam daripada sibuk menilai orang lain tanpa mau bercermin.

Ada dua karakter seseorang yang ingin dikatakan sebagai yang terbaik.

Yaitu mereka yang berusaha sekuat tenaga meningkatkan kemampuan untuk menjadi yang terbaik diantara yang lain, dan ada juga yang sibuk mencari kesalahan orang lain agar dirinya terlihat lebih baik.

Nah kamu tinggal pilih yang mana, apakah menjadi yang terbaik dengan meningkatkan kualitas kamu, atau dengan cara merendahkan orang lain agar kamu terkesan paling terbaik. Dilansir dari muslimafiah dan sumber lainnya.

Baca Juga: Dilarang Keras Makan Bawang Kalau Mau Shalat Jamaah, Apa Bawang Haram?

Namun ingat, untuk pilihan yang kedua kamu harus tahu konsekuensinya.

Sahabat-ku, mari kita belajar memperbaiki dan mengkritik diri sendiri.

Karena memperbaiki dan mengkritik orang lain itu tidak perlu belajar

Gunakan cermin untuk melihat kekurangan diri.

Perhatikan perkataan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Adabul Mufrad no. 592, shahih)

Jika semua orang salah di matamu berarti ada yang perlu diperbaiki pada hatimu.


Gambar ilustrasi via vebma.com

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﺃﺧﺎ ﺑﻼ ﻋﻴﺐ، ﺻﺎﺭ ﺑﻼ ﺃﺥ

“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.” (Sya’bul Iman no. 7887)

Jadikan dirimu tawaadhu’, selalu merasa diri belum baik dan merasa orang lain lebih baik dari diri kita.

Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah.

Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.”

Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan,

“Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.”

Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’ 2/226]

Dengan merasa tidak lebih baik/mulia dari orang lain, seorang yang tawaadhu’ akan berusaha memuliakan orang lain karena menganggap orang lain lebih baik serta ia tidak mudah meremehkan orang lain. 

Sikap ini akan memudahkan ia berinteraksi dan melahirkan ahklak yang mulia.

Serta berusaha terus memperbaiki dirinya dan meningkatkan kualitas diri karena ia merasa ada yang perlu ditingkatkan.

Semoga bermanfaat.
Top