Awas! Curhat di Sosmed Itu Bukannya Dapat Solusi, tapi Malah Berbagai Keburukan ini

Komentar

Gambar ilustrasi diolah via instagram.com

Buat yang suka curhat di sosmed...

Hati-hati membuat ladang keburukan...

Ada masalah sedikit langsung mengadu di fb, instagram, twitter, wa dll, buakan mengadu pada Allah malah ngadu sama pengguna sosmed.

Media sosial sering kali menjadi ladang curhat, tak hanya oleh remaja galau, namun juga para ibu rumah tangga.

Dari cerita keseharian, hingga aib pasangan diumbar begitu saja.

Dalam Islam, mengubar masalah rumah tangga juga ada aturannya.

Bahkan curhat yang berisi mengumbar aib pasangan sangatlah dilarang, Allah bahkan mengisyaratkan suami istri layaknya pakaian satu sama lain.

Jika mengubar aib pasangan, sama artinya dengan mengumbar aurat sendiri.

Allah berfirman, “Istri kalian adalah pakaian kalian dan kalian adalah pakaian bagi istri kalian.” (QS. Al Baqarah ayat 187).

Sebagaimana istri pakaian bagi suami, suami pun pakaian bagi istri.

Selain itu, ada janji luar biasa bagi seorang yang menutup aib saudaranya, termasuk aib pasangan.

Bahwasanya Rasulullah bersabda, "Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR Muslim).

Problematika memang tak pernah lekang dalam mengarungi bahtera rumah tangga namun bijaklah, apalagi di sosial media.

Masalah yang akan terjadi ketika membuka aib di media sosial.

Kabar tentang perselisihanmu akan mudah menyebar, kabar sekecil apapun tentangmu akan mudah tersebar dari satu orang ke yang lainnya.

BACA JUGA: Buat Suami yang Sering Menyepelekan dan Menghina Istri, Baca Ini

Terlepas kamu adalah bintang internet atau bukan, jika kamu menuliskan permasalahanmu di media sosial, kabar tersebut akan mudah menyebar. Setidaknya, di lingkungan pertemananmu.

1. Kamu tidak bisa membatasi siapa saja yang akan mengetahui permasalahanmu.

Jika kamu membeberkan perdebatanmu dengan pasangan di media sosial dan tak pernah menghapusnya, jumlah orang yang membaca permasalahanmu bisa jadi lebih banyak daripada yang kamu bayangkan.

Mungkin kamu bisa segera lupa sesudah mengklik post, akan tetapi yang membaca bisa saja mengklik share, atau mengcopy-paste statusmu dan menyebarkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat”. (QS: An Nuur: 19)

2. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu masalah.

Semakin banyak orang yang membaca permasalahanmu, semakin banyak yang akan berasumsi kepadamu.

Akan tetapi, mereka akan mulai menjadikanmu sebagai bahan obrolan sehari-hari.

Semua gerak-gerik terkecil yang kamu buat akan diperhatikan dan dikritisi bahkan menjadi ghibah.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

‘Tahukah kalian, apakah itu ghibah? Para sahabat menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘engkau membicarakan sesuatu yang terdapat dalam diri saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapatmu jika yang aku bicarakan benar-benar ada pada diri saudaraku? Rasulullah SAW menjawab, jika yang kau bicarakan ada pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mengghibahinya. Sedangkan jika yang engkau bicarakan tidak terdapat pada diri saudaramu, maka engkau sungguh telah mendustakannya.” (H. R. Muslim)

“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat : 12).

3. Tidak semua orang punya kesantunan dalam bermedia sosial.

Sayangnya, sebagian orang di luar sana masih berpikir bahwa kata-kata yang mereka post tidak akan berpengaruh pada perasaanmu.

Tanpa mengetahui kisah sebenarnya di balik postinganmu, pengguna sosmed akan menuliskan pikiran mereka dengan terus terang dan bisa saja melukai hati.

“Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka) . Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,” (QS. Al A’raaf  [7]: 41)

4. Harga dirimu akan jatuh.

Jika kamu melampiaskan amarah di dunia nyata, mungkin orang-orang terdekatmu akan memaklumi dan berusaha untuk menenangkanmu.

Namun jika kamu melampiaskan amarahmu di media sosial, tentunya kamu akan menulis sebuah post tanpa pikir panjang dan tak ada yang bisa mencegahmu, dan disitulah orang akan menilai dirimu.

Lalu Kepada Siapa Mengadu?

Seperti dilansir dari Hidayatullah.com. Di masa silam, baik era para nabi hingga era Rasulullah, orang-orang biasa mengadukan segala masalahnya kepada Allah dan memilih diam di hadapan manusia.

Bahkan urusan sandal yang rusak, garam dapur yang habis, dari masalah yang remeh temeh hingga masalah sebesar gunung, mereka mengadukannya kepada Allah. Karena mereka tahu, Allah adalah tempat curhat yang paling baik dan terbaik.

Sesungguhnya Allah berfirman, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. ” (QS Qaf: 16). Jika Allah sangat dekat, mengapa tidak mendatangi-Nya saja.

Lebih dari itu, Allah pun Maha Mendengar dan pemberi solusi terbaik. Curhat kepada Allah amat sangat cukup bagi seorang hamba. Sebagaimana firman-Nya, “Bukankah Allah itu cukup untuk hamba-Nya.” (QS Az Zumar: 36). Rasulullah juga bersabda, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. At Tirmidzi).

Karena itu, jika ingin mengeluh tentang tabiat buruk suami, Curhat lah kepada Allah.

Sungguh mudah bagi Allah mengubah perilaku buruk tersebut menjadi baik bahkan romantis.

Jika ingin mengadu tentang kepayahan menjadi istri dan ibu, laporkan saja pada Rabb Ar Rahman, maka Allah pula lah yang akan memberikan kelapangan hati, pahala dan solusi.

Ingatlah selalu janji pasti dari Allah, “Dan siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. An Naml: 62).
Top