"Ayah aku ini kertas putih, hitam putihku tergantung dirimu" Buat Ayah yang Selalu Masabodoh

Komentar

Temani aku melangkah ayah wajibbaca.com

Ayah, sudahkah hari ini kau luangkan waktu buat sekedar berbincang bincang denganku?

Bicaralah tentang apa saja... yang bisa membesarkan pikiranku...

Meski engkau sedang lelah, jangan pernah lelah menasehatiku, tentang segala kebaikan yang bisa kita perbuat...

Temani dan ajak anak-anak kita untuk melangkah dalam kebaikan.

Mengajari dan membiasakan anak berbuat kebaikan bukan perkerjaan mudah.

Dalam mendidik, teladan bagi anak menjadi unsur yang teramat penting.

Hal ini dikarenakan pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak. Orangtua adalah teladan pertama dan contoh terdekat yang akan ditiru anak.

3 Ayah teladan terbaik yang patut kita contoh:

Pertama adalah Rasulullah Nabi Muhammad SAW. 

Ketika Rasulullah SAW berjumpa dengan anak kecil, beliau selalu bercanda, mengajak balap lari, serta membuat lawakan/ lelucon jenaka untuk mubuat anak kecil dan cucunya tersebut tertawa riang gembira.

Sesungguhnya Rasulullah SAW merupakan sosok yang sabar dan tidak suka memarah-marahi anak kecil. Meskipun Rasulullah SAW terkenal dengan penyabar dan tidak suka marah pada anak kecil, bukan malah berarti Rasulullah SAW menghilangkan sifat tegasnya dalam mendidik anak.

Rasulullah SAW tidak segan-segan menegur anak kecil, apabila anak tersebut menyalahi adab dalam ajaran Islam.

Rasulullah SAW mencontohkan sebagai sosok ayah yang baik beliau dekat dengan anak, Namun tidak serta-merta menghilang sikap ketegasan dan objektivitasnya tetang kebenaran.

Kedua yaitu Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS menjadi sosok ayah terkeren berikutnya menurut Islam disebabkan keberhasilan beliau dalam membina keluarga. Hasil dari didikan beliau dalam keluarga antara lain: menjadikan  Sarah, istrinya menjadi istri yang  sholehah, Hajar yang tegar, serta Ismail putra yang sholeh yang mampu menguatkan dan mengokohkan keimanan bapaknya.

Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah SWT. Sebagai seorang ayah beliau telah mampu melampaui ujian yang berat dan mampu meyakinkan kepada keluarganya mengenai arti ketaatan terhadap perintah Allah SWT.

Ketiga adalah Nabi Ya’qub AS (Ayah dari Nabi Yusuf AS). Nabi Ya’qub AS ini menjadi ayah terbaik bukan hanya karena ia memiliki nabi Yusuf AS sebagai anaknya. Melainkan karena sifat kesabarannya dalam mendidik (mengenalkan) antara mana yang baik dan buruk kepada putranya tersebut.

Nabi Ya’qub AS tidak senantiasa mendoakan anak-anaknya agar diberi ampunan oleh Allah SWT. Beliau mendoakan dan menasehati anak-anaknya agar bisa berubah menjadi yang lebih baik.

Dalam mendidik, teladan bagi anak menjadi unsur yang teramat penting. Teladan orang-orang terdekat akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

Like father, like son. 

Atau ungkapan seperti “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, begitu yang sering kita dengar. Sekalipun tidak seluruhnya benar, namun sebagian besar akan melihat kebenaran dari ungkapan tersebut. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kunci jawabannya terletak pada rule model, atau sering kita sebut dengan keteladanan.

Di sinilah peranan orangtua menjadi amat penting dan menentukan warna kepribadian anak-anaknya.

Kita sering melihat, anak-anak akan memberikan respon berbeda terhadap satu peristiwa sesuai dengan contoh atau teladan yang diterimanya dalam keseharian.

Misalnya, ketika melihat seorang anak menangis akibat terjatuh. Anak yang satu akan berinisiatif membantunya dan mengusap-usap kepala anak yang terjatuh, sementara anak yang lain akan berteriak-teriak memarahi anak yang menangis.

Bisa jadi kita akan terkekeh geli melihat cara mereka bicara dan melihat mereka bersikap. Namun, sadarkah kita, bahwa sesungguhnya, itu adalah cerminan dari apa yang telah kita lakukan

Menurut DR. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Pendidikan Anak Dalam Islam, keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi membuktikan bahwa 75 persen proses belajar didapatkan lewat penglihatan dan pengamatan. Sementara 13 persennya melalui indera pendengaran.

Hal ini dikarenakan pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru anak.

Sebagai orangtua, kita adalah figur yang paling dekat dengan anak. Apapun yang kita lakukan, akan menjadi model bagi pendidikan anak-anak kita. Mereka akan menyerap seluruh tindak-tanduk kita. Pada masa-masa awal (golden age), anak-anak adalah peniru yang sempurna dari orangtua atau orang terdekatnya.

Simak kisah berikut:

“Putriku sayang, kamu lagi apa nih?” tanya sang ayah.

“Aku lagi kerjakan PR buat besok” kata si gadis kecil.


“Lho kan masih sore, kenapa gak dikerjakan malam nanti saja?” ujar sang ayah.


“Gak apa, aku kan ada waktu sekarang. Nanti malam tinggal baca buku” jawab cepat si gadis kecil.


“Oh ya Abi, aku mau tanya dong. Kok Abi hari ini gak masuk kerja?” tanya si gadis kecil.


“Iya, Abi gak masuk kerja karena kurang enak badan” jawab sang ayah.


“Mungkin Abi, kecapekan kali… Abi perlu istirahat tuh” tambah si gadis kecil.


Sang Ayah pun tersenyum. Terharu atas perhatian dari anaknya


“Terima kasih nak, kamu sudah kasih nasihat. Itu sudah cukup bikin abi pulih lagi” ujar sang ayah.


"Kadang hidup itu memang capek. Karena hidup memang harus berjuang. Berjuang untuk kamu, berjuang untuk kehidupan yang lebih baik" tambah sang ayah.


“Berjuang untuk lebih baik? Gimana caranya Bi?” tanya si gadis kecil.


Seketika, sang Ayah mengenggam kepala anaknya. Menciumnya sambil tersenyum.

“Kebaikan itu sederhana nak, asal kamu mau melakukannya. Karena kebaikan itu tak berbatas. Ia mudah muncul, kapanpun dan dimanapun. Asal kamu mau melakukannya. Itulah kebaikan”

"Kamu nak, jadilah pribadi yang baik. Pribadi yang selalu bersyukur atas setiap keadaan diri kamu. Pelajaran susah atau pelajaran gampang, kamu harus hadapi dengan baik. Itu sudah kebaikan"

Sungguh, kebaikan itu dekat dengan diri kamu, nak. Kamu punya 7 kebaikan dalam diri yang kadang dilupakan

1. Kamu diberi kaki yang kuat, itu untuk melangkah ke tempat ilmu dan amal.

2. Kamu diberi jemari tangan yang lentik, itu untuk menghitung kebaikan yang kamu punya.

3. Kamu diberi bibir yang menarik, itu untuk ber-ucap perkataan yang baik.

4. Kamu diberi pipi yang lesung, itu untuk menebar senyum yang ikhlas kepada siapapun.

5. Kamu diberi mata yang menawan, itu untuk selalu melihat kebaikan pada orang lain.

6. Kamu diberi tubuh yang sempurna, itu untuk menyisihkan rezeki kepada orang yang kurang mampu.

7. Kamu diberi wajah yang bercahaya, itu untuk membersihkan kotornya batin dalam diri.

Itu semua kebaikan yang ada pada diri kamu, nak.

“Oh gitu ya Bi. Berarti kebaikan itu ada pada diri setiap orang” si gadis kecil bertanya lagi.

“Iya nak, kebaikan itu ada dalam diri kita” jawab sang 

Maka, berjuanglah kamu untuk menjadi lebih baik. Menjadikan hati yang baik, bukan wajah yang indah. Karena hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah.

Mendidik anak pada hakikatnya adalah mendidik diri sendiri. 

Sejauhmana kita mampu mendidik diri kita untuk menjadi pribadi yang menyenangkan, sejauh itu pula  hasil yang akan kita peroleh. Semua itu tecermin dari sikap yang anak-anak kita munculkan.

Dilansir wajibbaca.com dari berbagai sumber, selamat menjadi teladan yang baik ya Ayah...
Top