Waspada, Ini 3 Tahapan "Cuci Otak" Kelompok Teroris Bujuk Pelaku Bom Bunuh Diri

Komentar

Sumber gambar https://www.youtube.com/watch?v=xfR87Tq9sHM
Beberapa orang yang masih lemah pemahaman agamanya yang mudah diberi janji-janji manis berupa "PAKET MASUK SURGA" dan menyelewengkan ayat-ayat suci untuk ia tafsirkan dengan gaya radikal dan aksi teror...

Padahal Islam tidak demikian... kalau dipahami dengan benar....

Cuci otak atau brainwashing adalah sebuah metode yang dikembangkan pertama kali oleh Tiongkok saat terjadi perang Korea. Tiongkok melakukan penangkapan besar-besaran terhadap tentara Amerika lalu mengubah ideologi mereka secara perlahan-lahan.

Metode yang dilakukan pun beragam meski tujuannya sama. membuat otak mereka melupakan sesuatu di masa lalu dan diisi dengan sesuatu yang baru.

Beberapa kelompok radikal memiliki pola rekruitmen dengan cara cuci otak yang hampir sama. Waktunya hanya sekitar satu jam namun sangat efektif dalam mengubah pola pikir seseorang.

Hal ini disampaikan oleh Abdul Rahman Ayub, mantan penasihat Jemaah Islamiyah (JI) yang mengaku telah mendoktrin banyak orang di Indonesia, Malaysia, Filipina dan Australia. Dia mengatakan, pola doktrin yang diterapkan beberapa kelompok radikal seperti Negara Islam Indonesia atau DI/TII memiliki tiga tahapan.

Pertama, Namanya Sejarah Perjuangan Umat Islam atau SPUI. 

Membicarakan soal khilafah dan runtuhnya kekhalifahan agar mengingatkan bahwa Islam dulu pernah jaya. Cara ini cukup dilakukan selama 20 menit.

Kedua, Menampilkan Tontonan Kekejaman Yahudi dan Amerika Serikat. 

Termasuk serangan AS di Irak dan Afghanistan serta penjara Guantanamo. "Tahap ini dilakukan selama 30 menit, untuk memunculkan semangat juang mereka.

Ketiga, Pendalilan.

Yaitu menyampaikan dalil-dalil dalam al-Quran dan hadist sesuai pemahaman mereka untuk menimbulkan keinginan untuk berjihad. "Dalam tahap pendalilan disampaikan soal hukumnya jika tidak ikut berjihad, soal jemaah dan terakhir adalah soal mati syahid.

Pemahaman yang salah


Sumber gambar aceh.tribunnews.com

Ayub terlibat dalam upaya deradikalisasi teroris yang juga mendatangkan ulama asal Yordania Syeikh Ali Hasan Al-Halabi. Berbicara usai International Conference on Terrorism & ISIS di Jakarta, Halabi mengatakan bahwa kelompok radikal telah menyampaikan istilah-istilah dalam Islam dengan cara yang salah.

"Al-Quran mengakui adanya istilah kafir, munafik dan musyrik, tapi dengan pendekatan yang tepat. Berbeda dengan ISIS yang memilih pendekatan yang salah. Mereka telah salah paham soal ajaran Islam," kata Halabi.

Ayub mengatakan bahwa salah satu cara mematahkan doktrin ISIS dan kelompok radikal lainnya adalah memberikan pemahaman yang tepat soal Islam di media-media massa. Pasalnya selama ini menurut dia, media hanya menampilkan kekejaman ISIS tanpa mematahkan dalil kekerasan mereka.

"Yang saya perhatikan TV hanya membuat ramai dengan mengiklankan ISIS. Seharusnya mereka juga menampilkan dalil-dalil untuk mematahkan doktrin kelompok radikal," jelas Ayub seperti yang dikutip dari cnnindonesia.
Top