Kalau Sudah Waktu Berbuka, Apa Masih Harus Menunggu Dengar Adzan?

Komentar

foto via daarulihsan.com

Cara paling benar melihat waktu yang paling tepat untuk berbuka puasa,,,

Jangan sampai anda salah kaprah,,,

Hari sudah gelap dan di TV sudah adzan, apa boleh langsung berbuka puasa? Sedangkan dilingkungan kita belum adzan?

Atau sedang dihutan atau ditengah laut.. dan tak mungkin dengar suara adzan??

Puasa ramadhan wajib hukumnya bagi seluruh umat islam di dunia dan tidak diperbolehkan meninggalkannya. Puasa ramadhan yang dijalankan umat islam pada bulan ramadhan tersebut memiliki banyak keutamaan atau fadhilah.

Siapapun yang menjalankan puasa dan melaksanakan ibadah lainnya, ia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT apabila memenuhi syarat sah puasa dan rukun puasa tersebut.

Puasa itu sendiri berarti menahan diri dari makan, minum, dan segala perkara yang membatalkan puasa.

Puasa ramadhan seperti halnya juga puasa sunnah dimulai saat terbit fajar hingga terbenamnya matahari sebagaimana disebutkan dalam Qur’an surat Albaqarah ayat 187 yang berbunyi

“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (Al Baqarah 187)

Waktu berbuka puasa tentunya menjadi waktu yang ditunggu-tunggu dan membahagiakan bagi seluruh umat islam yang melaksanakan ibadah puasa.

Banyak cara dilakukan untuk menanti datangnya waktu berbuka termasuk membaca Alqur’an, memasak makanan buka puasa, ngabuburit dan lain sebagainya.

Baca Juga : Jika Dengar Adzan Maghrib Langsung Berbuka, Artinya Anda Termasuk Orang Ini...

Waktu berbuka puasa ramadhan adalah ketika siang telah berlalu dan matahari telah terbenam dan malam mulai datang.

Apakah benar dengan penyataan diatas? Lantas bagaimana waktu yang benar untuk berbuka puasa?

Waktu Buka Puasa
Pertama, yang menjadi acuan waktu berbuka adalah terbenamnya matahari dan bukan adzan. Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan dan minumlah kalian sampai betul-betul jelas bagi kalian benang putih di atas benang hitam, yaitu terbitnya fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Maksud sampai malam adalah sampai terbenam matahari.

Hal ini ditegaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Apabila malam datang dari arah sini, dan siang siang menghilang dari arah sini, serta matahari telah tenggelam maka orang yang puasa boleh berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga : Asal dalam Perjalanan Bilangnya Musafir, Memang Berapa Jarak Perjalanan untuk Boleh Berbuka?

Namun, mengingat kita yang tinggal di tengah kampung atau di tengah kota tidak mungkin melihat langsung tenggelamnya bulatan matahari, maka kita hanya bisa percaya pada jadwal imsakiyah yang diterbitkan pemerintah atau yayasan tertentu. Dan insya Allah itu sudah mewakili.

Kedua, jika kita yakin bahwa adzan maghrib di TV atau radio sesuai dengan jadwal imsakiyah, maka kita boleh berbuka dengan mengacu pada adzan tersebut. Karena batasan bolehnya berbuka adalah ketika seorang itu yakin bahwa matahari telah terbenam, meskipun bisa jadi pada kenyataannya matahari belum benar-benar terbenam.

Ini berdasarkan hadis dari Asma binti Abu Bakr radhiallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ غَيْمٍ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

“Kami pernah berbuka puasa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat mendung, kemudian tiba-tiba matahari muncul (mendung hilang).” (HR. Bukhari 1959).
Konsekuensi dari hal ini, kita tidak boleh berbuka jika kita masih ragu apakah matahari sudah terbenam ataukah belum. Karena hukum asal adalah matahari belum terbenam, sampai kita yakin bahwa matahari benar-benar telah tenggelam.
Baru itulah kita diperbolehkan untuk berbuka puasa. Selain itu disaat kita berbuka puasa, jangan asal santap dan makan saja.

Perlunya juga mengetahui cara berbuka puasa dengan benar dan baik. Agar puasa yang kita jalani mendapat berkah dari Allah.

Lantas bagaimana cara berbuka dengan benar dan baik?

Cara berbuka ini dimulai dari mendengar azan hingga shalat. Berikut tata cara berbuka selengkapnya:

Baca Juga : Seperti Ini Bacaan Doa Berbuka Puasa yang Benar dan Shahih

1. Persiapan berbuka

Tentunya ketika hendak berbuka menyiapkan beberapa hidangan untuk buka. Tidak usah terlalu banyak, yang penting bisa membatalkan puasa dan mengisi perut yang kosong. Sunah Rasulullah adalah berbuka dengan yang manis. Maksud manis di sini adalah kurma (bukan Teh Botol :D ). Jika tidak ada kurma, tentu bisa diganti dengan makanan manis lainnya. Salah satu sunnahnya adalah dengan satu gelas air putih dan tiga buah kurma.

2. Mendengarkan adzan hingga selesai

Ketika adzan dikumandangkan, hendaknya kita mendengarkan adzannya dulu hingga selesai. Namun hal ini terkadang sulit untuk dilakukan. Mengingat adzan yang dilakukan oleh masyarakat kita adalah adzan yang cukup lama (keburu laper lagi dong :D ). Oleh karena itu, bagi para muadzin khusus pada bulan puasa sebaiknya melakukan adzan itu mirip dengan iqomah tetapi tidak terlalu cepat. Sambil mendengarkan adzan, tentunya kita juga menjawab adzan tersebut. Untungnya di tempat saya adzannya tidak terlalu lama. :) Setelah mendengarkan adzan, kita baca do’a setelah adzan.

3. Batalkan puasa dengan minum air dan makanan

Setelah membaca do’a setelah adzan, kita baca terlebih dahulu do’a hendak makan “Allahumma baariklana fiimaa rozaktana waqina azaabannaar” lalu minumlah segelas air putih. Setelah minum, barulah membaca do’a berbuka puasa “Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ‘alaa rizqika afthartu birohmatika yaa arhamarroohimiin”.

Kok makan dulu baru baca do’a berbuka puasa? Nah, kebanyakan orang salah kaprah ketika berbuka puasa. Yang benar itu membatalkan puasanya dahulu baru membaca do’a berbuka puasa. Karena pada do’a berbuka puasa pun seperti itu sebenarnya. “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan atas rizki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu ya Allah Yang Maha Rohman dan Maha Rohim”.

Baca Juga : Langsung Makan Nasi Saat Berbuka Puasa, Ini Efeknya!

Setelah membatalkan puasa dan membaca do’anya, berdo’alah kembali dengan do’a apa yang diinginkan. Karena do’a ketika berbuka puasa itu di-ijabah (diterima). Walaupun saya masih belum menemukan haditsnya, saya yakin dengan pernyataan tersebut.

Selesai berdo’a, barulah dilanjutkan berbuka puasanya. Makan dengan makanan yang seadanya. Jika ada rizki banyak, jangan makan hingga kekenyangan tetapi makanlah secukupnya. Sisakan makanan untuk dimakan nanti. Disarankan jangan makan nasi terlebih dahulu karena akan membuat anda kenyang :D .

4. Shalat, berdo’a, kemudian makan lagi bila perlu

Setelah berbuka, langsung kita ambil air wudhu kemudian shalat maghrib. Dilanjutkan dengan membaca wirid dan berdo’a.

Setelah selesai shalat dan berdo’a, barulah kita lanjutkan dengan makan jika masih merasa lapar. Tetapi tentunya jangan sampai kekenyangan pula, karena kita harus persiapkan kondisi yang nyaman untuk melakukan shalat tarawih.

Itulah cara berbuka puasa yang diajarkan oleh guru saya kepada guru saya. Cara yang menurut saya tertib, menyenangkan, dan terasa berkah. Semoga anda bisa mencoba dan mengikuti cara berbuka puasa tersebut dan merasakan kenikmatan serta keberkahannya. Jujur saja, saya merasakan nikmat berbuka puasa dengan tata cara seperti di atas. Selamat mencoba.
Top