Tawadhu Adalah Sifat yang Mulia, Mulia Seperti Apa? Berikut Penjelasan Lengkapnya

Komentar

ilustrasi via duniaislamkami.blogspot.co.id

Pengertian dan Contoh Tawadhu, Perilaku Tawadhu, dan Arti Tawadhu

Secara bahasa, Arti Tawadhu(التّواضع) adalah ‘Ketundukan’ dan ‘Rendah Hati’ dengan asal kata dari Tawadha’atil Ardhu’ yang artinya ‘Tanah itu lebih rendah daripada tanah sekelilingnya’.

Tawadhu artinya bisa disebut sebagai sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu'. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk".

Kita sebagai manusia apalagi sebagai umat muslim tidak boleh berperilaku takabur atau sombong. Salah satu penyakit hati dalam diri manusia yang dapat menutup jalan hidayah Allah swt adalah sifat sombong atau takabur.

Perbincangan tentang tawadhu banyak diungkap dalam disiplin ilmu tashawuf dan dunia ajaran spiritualitas dan akhlak yang sudah ada sejak awal sejarah para nabi dan rosul. 

Mulai dari nabi Adam a.s hingga mencapai klimaksnya pada nabi Muhammad SAW. Bahkan misi utama tugas kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Tawadhu' atau rendah hati merupakan salah satu sikap terpuji sebab itu merupakan akhlak orang mukmin.

Macam-Macam Tawadhu

Ada dua macam sikap tawadhu’ yang biasa dimiliki oleh manusia, yakni tawadhu’ terpuji dan tawadhu’ tercela.

Tawadhu’ terpuji  adalah sebuah sikap merendahkan diri kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena atau memandang remeh terhadap sesama. Tawadhu’ ini benar-benar diniatkan dari hati yang terdalam untuk sikap yang baik dan diridhai oleh Allah SWT.

Sedangkan tawadhu’ tercela adalah sikap merendahkan diri yang hanya dilakukan dihadapan orang yang lebih kaya dengan harapan culas agar ia bisa mendapatkan suatu keuntungan darinya. Tentu saja sikap tawadhu’ tercela ini tidak akan meningkatkan derajat di mata Allah, bahkan sebaliknya karena tawadhu’ tercela ini tidak disukai oleh Allah SWT. 

Keutamaan Sifat tawadhu

1. Sikap Tawadhu’ akan memberikan kemuliaan di dunia dan akhirat

Sebuah hadis menjelaskan tentang keutamaan dari sifat tawadhu’ salah satunya adalah dapat meninggikan derajat manusia di mata Allah sang penciptanya, baik kemuliaannya di dunia maupun di akhirat. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim). (Baca juga: Patah Hati Dalam Islam; Doa Menghadapi Orang Yang Membenci Kita)

2. Tawadhu’ merupakan tauladan dari akhlak mulia yang dimiliki oleh para Nabi

Sifat tawadhu’ telah dimiliki oleh para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam pada masanya. Contohnya adalah pada Nabi Musa ‘alaihis salam yang rela melakukan pekerjaan rendahan asalkan halal, membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta, Nabi Daud ‘alaihis salam yang juga lebih memilih makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri, Nabi Zakariya yang dahulunya berprofesi sebagai seorang tukang kayu, serta sifat tawadhu’nya Nabi Isa yang diceritakan dalam Firman Allah bahwa nabi Isa pernah berkata:

وَبَرَّۢا بِوَٰلِدَتِي وَلَمۡ يَجۡعَلۡنِي جَبَّارٗا شَقِيّٗا ٣٢

Artinya:

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

Pada dasarnya sikap tawadhu’ adalah sikap yang tak hanya mulia di hadapan Allah tapi juga disukai oleh banyak manusia. Seperti sifat tawadhu’ yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akhirnya memberi keberhasilan baginya untuk dicintai banyak manusia dan mempermudah proses penyebaran agama Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadis riwayat Muslim, bahwa:

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim).

Sikap Tawadhu’ merupakan tauladan langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 21 bahwa:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

Artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban juga menceritakan tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tetap memberi salam pada anak kecil walaupun kedudukan yang dimiliki oleh anak kecil tersebut jauh lebih rendah dari pada kedudukan yang dimiliki oleh beliau. Hal ini sangat jarang terjadi dimana seseorang rela memberi ucapan salam pada orang lain yang dirasa kedudukannya jauh berada di bawah derajat dirinya. Padahal belum tentu ia memiliki derajat yang lebih tinggi di mata Allah. (Baca juga: Peran Ayah dalam Keluarga; I’tikaf di bulan ramadhan)

Dalam hadis tersebut dikisahkan oleh Anas yang berkata:

“Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban)

Selain itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki kebiasaan mulia lain di rumahnya. Mulai dari membantu istrinya, hingga menjahit dan memperbaiki sendiri sandal maupun bajunya yang sobek. Walaupun di hadapan umatnya ia begitu diagungkan dan dicintai.

Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Urwah bertanya kepada ‘Aisyah:

“Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?”

Kemudian Aisyah menjawab:

“Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain juga pernah menceritakan tentang betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membantu untuk meringankan pekerjaan istrinya tanpa merasa malu ataupun gengsi walaupun ia adalah seorang suami sekaligus seorang Nabi. Dalam hadis ini ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa saja yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah menjawab:

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari).

Bagaimana Caranya bertawadhu’?

Sikap tawadhu’ memang tidak mudah untuk dimulai, namun jika sudah dicoba dan merasakan kenikmatan dan kedamaian yang akan menerpa hati kita maka tawadhu’ akan menjadi kebutuhan tersendiri bagi diri kita.

Ada dua hal penting yang harus dilakukan untuk bersikap tawadhu’:
Yang Pertama, adalah dengan bersikap selalu Ikhlas terhadap apapun yang terjadi karena semua hal yang terjadi adalah dengan seijin dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam yang pernah berkata bahwa:

“Tidaklah seorang bertawadhu’ yang ditunjukkan semata-mata karena Allah, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat (derajat)nya.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim].
Kemudian yang Kedua adalah harus mempunyai Kemampuan.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam yang pernah berkata:

“Barangsiapa yang menanggalkan pakaian mewah karena tawadhu’ kepada Allah, padahal ia dapat (mampu) membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadap sekalian manusia, kemudian menyuruhnya memilih sendiri pakaian iman mana pun yang ia kehendaki untuk dikenakan.” [Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi]

Sikap-sikap tawadhu’ bisa dilakukan dalam berbagai kesempatan dan keadaan seperti:

1. Tawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla

Tawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla adalah sikap Tawadhu’ yang benar-benar ditujukan untuk Allah SWT. Tawadhu’ ini terdiri atas dua macam yaitu Tawadhu’ seorang hamba kepada Allah ketika melaksanakan ketaatan kepada-Nya tanpa disertai perasaan bangga diri dan riya’.

Kemudian sikap seorang hamba yang merendahkan dirinya kepada Allah subhana hua ta’ala tatkala mengingat dosa-dosa yang pernah ia perbuat sehingga ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling sedikit ketaatannya (amalanya) dan paling banyak dosanya sehingga memberi motivasi pada dirinya untuk lebih giat beramal sholeh dan bertaubat.

2. Tawadhu’ dalam Berpakaian dan Penampilan

Tawadhu’ dalam berpakaian dan berpenampilan ini adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak terlalu berlebihan dalam mengenakan pakaian dan perhiasan untuk membungkus dan memperindah penampilannya. Pakaian yang dikenakan hanya pakaian-pakaian yang memang sesuai dengan kebutuhan bukan berdasarkan gaya dan trend suapaya dipuji oleh orang lain.

3. Tawadhu’ Ahli Ilmu (Ulama)

Tawadhu’ Ahli Ilmu  adalah sebuah sikap mulia dan tidak menyombongkan diri walaupun ia memiliki banyak ilmu. Ia senantiasa berbuat baik dan berdakwah sesuai dengan kadar yang normal, tidak terlalu menonjolkan keilmuannya, dan tidak terlalu membanggakan keilmuannya secara berlebihan.

4. Tawadhu’ Penuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah perbuatan mulia namun semua ilmu yang kita tuntut tidaklah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sikap tawadhu’ dalam menuntut ilmu yang ditimba.

Selain itu, ada sebuah perumpamaan yang menyatakan bahwa tempat yang lebih rendah, ia lebih banyak genangan airnya dan lebih banyak manfaatnya, atau semakin menunduk padi maka semakin bagus beras yang dimilikinya. Begitupun dengan ilmu, semakin tawadhu’ seseorang menuntut ilmu maka hal tersebut merupakan salah satu tanda bahwa ilmunya lebih banyak dan lebih bermanfaat bagi banyak orang.

Tingkatan Sifat Tawadhu

Sikap tawadhu’ yang sangat mulia di mata manusia dan Allah subhana hua ta’ala memiliki tingkatannya tersendiri dalam setiap pencapaian ke-tawadhu’-annya.

Yang pertama adalah Tawadhu’ dalam Agama, yakni sikap tunduk secara penuh serta mematuhi segala aturan agama Islam yang telah disebarkanoleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.

Sedangkan yang kedua adalah Tawadhu’ kepada sesama Makhluk, yakni sikap merendahkan diri dan apa adanya terhadap sesama Makhluk tanpa memandang harta dan kasta yang dimiliki, terdapat tiga makna dalam tawadhu’ kepada sesama manusia ini yaitu:
  • Ridha dan ikhlas untuk menjadikan seseorang dari kaum Muslimin sebagai salah satu saudaramu, karena Allahpun telah ridha untuk menjadikan ia sebagai salah satu hamba-Nya
  • Tidak menolak kebenaran dari manapun itu, bahkan walaupun kebenaran itu datang dari seorang musuh yang dibenci.
  • Menerima maaf dari orang yang meminta maaf, sebesar apapun kesalahannya dan oleh siapapun kesalahan itu diperbuat.

Manfaat Punya Sifat Tawadhu

Tawadhu’ adalah sifat terpuji yang selain disukai Allah tapi juga memberi banyak manfaat bagi yang menerapkan. Sikap rendah hati dan tidak pernah menyombongkan kemampuan yang diri ini memberi manfaat positif seperti:

1. Mendapat Simpatik dari bayak orang

Sikap tawadhu’ lebih disukai dari pada sikap yang sombong dan jumawa oleh karena itu seseorang yang menerapkan sikap tawadhu’ akan mendapat banyak simpati dari orang-orang di sekitarnya.

2. Mempunyai Banyak Teman

Kemajuan teknologi dan modernisasi yang terus berkembang dengan pesatnya ini membuat kita harus pintar-pintar memilih teman untuk menghindari pengaruh-pengaruh negative yang diakibatkan dari tuntutan-tuntutan kemajuan teknologi tersebut.

Dengan memiliki sikap tawadhu’, akan membuat orang lain jadi lebih nyaman berteman dan bergaul dengan kita. Karena sifat tawadhu’ memberi banyak manfaat dan pengaruh baik bagi orang-orang di sekitarnya sehingga akan mendapat penilaian positif dari orang-orang untuk dijadikan teman.

3. Dihormati Orang

Sikap rendah hati dan tidak pernah menyombongkan diri ri hadapan orang lain terhadap ilmu-ilmu yang dimiliki akan secara otomatis mendapatkan nilai plus dan rasa hormat dari orang lain.

4. Hatinya Selalu Tentram dan Tenang

Dengan sikap tawadhu’ akan dapat membuat hati dan pikiran jadi lebih terasa tenang serta tentram. Tidak perlu merasa khawatir tentang kemampuannya yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain ataupun merasa tidak dihargai ilmunya. Karena ia sadar bahwa kemampuan dan keilmuan yang dimiliki bukan untuk diumbar apalagi dipuji-puji oleh orang lain.

5. Terhindar Dari Sifat Sombong Atau Takabur

Tawadhu’ akan menghindarkan kita dari sifat sombong dan takabur karena arti dari sifat tawadhu’ sendiri menunjuk pada sifat rendah hati dan menyadari bahwa manusia saling membutuhkan manusia lainnya meski apapun harta dan kasta yang dimilikinya.
Top