Meneladani Kisah Nabi Luth untuk Memondasi Akhlak Anak

Komentar
ilustrasi via dewinaisyah.wordpress.com

Penting untuk menceritakan kisah para Nabi dan Rasul pada Anak-anak. Banyak pondasi penting tentang aqidah, Ibadah, akhlaq, dakwah dalam kisah tersebut yang bisa memberi kekuatan pada jiwa anak.

Berikut hal-hal yang bisa diteladani dari kisah hidup Nabi Luth

Kisah Nabi dan Rasul menjadi penting dan istimewa untuk diajarkan pada anak-anak kita, karena ada aspek keimanan di dalamnya. Sebagai umat Islam kita tidak hanya dituntut untuk mengetahuinya, namun meyakini, mengambil pelajaran/ibrah dan meneladaninya.

Karena pentingnya sejarah Islam, sampai-sampai mereka mengajarkan sejarah Islam sebagaimana mereka mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib (dikenal dengan nama Zainul ‘Abidin) berkata,

كنا نعلم مغازي النبي صلى الله عليه و سلم وسراياه كما نعلم السورة من القرآن

“Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Qur’an diajarkan kepada kami”.

Mendidik anak adalah keharusan untuk semua orang tua di mana pun. Guru pertama yang akan dikenali sebelum mengenal sekolah adalah orang tuanya. Sekolah pertama yang akan menjadi sekolah selanjutnya adalah rumah. Rumah menjadi awal untuk pendidikan anak. Berikut hikmah yang dapat diambil dari kisah nabi luth.

KISAH NABI LUTH

Nabi luth a.s adalah saudara nabi ibrahim, beliau diutus untuk menyeru kepada penduduk negeri sadum (palestina) yang sangat durhaka kepada allah swt. Budi pekerti kaum nabi luth amat tercela, mereka memutuskan hubungan perkawinan antara pria dan wanita, yang berarti menghentikan perkembangan keturunan manusia. Sebagai gantinya, mereka lebih cenderung kepada sesama jenisnya. Laki-laki lebih senang mengawani laki-laki daripada wanita.

Mereka juga sering melakukan perampokan dan penganiayaan. Setiap kali nabi luth a.s menasihati dan mempertakuti mereka dengan siksaan allah swt, mereka segera menjawab: "Datangkanlah siksaan allah itu, hai luth, jika sekiranya engkau orang yang benar!"

Al-Qur'an menerangkan dalam firmannya: "Dan ingatlah ketika luth berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. sesungguhnya apakah patut mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?" Maka jwaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar!" (Al-Ankabut: 28-29).

MEMETIK HIKMAH DI BALIK KISAH NABI LUTH AS 

Kisah Nabi Luth as, termasuk di antara kisah yang banyak disinggung oleh Allah dalam al-Qur`an. Kata luth sendiri disebutkan oleh Allah dalam al-Qur`an sebanyak 27 kali. Adapun kisahnya dijelaskan atau disinggung dalam 14 surat, yang umumnya termasuk surat makkiyyah, yaitu dalam surat al-An’âm, al-A’râf, Hûd, al-Hijr, al-Anbiyâ`, al-Hajj, as-Syu’arâ`, an-Nahl, al-‘Ankabût, as-Shâffât, Shâd, Qâf, al-Qamar dan at-Tahrîm.

Namun, apabila kita cermati kisahnya dengan seksama, sungguh sangat menarik dan spesial. Mengapa tidak, kata pertama yang keluar dari lidah para nabi dan rasul ketika berdakwah umumnya adalah mengajak kaumnya untuk ber-tauhid; menyembah hanya kepada Allah dan tidak ada tuhan selain-Nya. Sementara Nabi Luth as tidak demikian.

Perhatikan misalnya perkataan pertama yang keluar dari Nabi Nuh as ketika berdakwah kepada kaumnya:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." (QS. Al-A’raf [7]: 59).

Demikian juga dengan dakwahnya Nabi Hud as kepada kaumnya, Kaum ‘Ad:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Artinya: “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya” (QS. Al-A’raf [7]: 65).

Juga dengan dakwahnya Nabi Shaleh as:

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Artinya: “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya” (QS. Al-A’raf [7]: 73).

Demikian juga dengan Nabi Syu’aib as:

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Artinya: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya” (QS. Al-A’raf [7]: 85).

Namun tidak demikian dengan Nabi Luth as. Kata pertama yang keluar dalam berdakwah kepada kaumnya, bukan ajakan bertauhid akan tetapi larangan melakukan perbuatan asusila berupa homoseksual.

Perhatikan firman Allah dalam ayat-ayat di bawah ini ketika menjelaskan kata pertama yang keluar dalam dakwah Nabi Luth as kepada kaumnya:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81)

Artinya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf [7]: 80, 81).

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (54) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)? "Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)". (QS. An-Naml [27]: 54, 55).

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu" (QS. Al-Ankabût) [29]: 28).

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ (165) وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

Artinya: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas" (QS. Asy-Syu’arâ` [26]: 165, 166).

Bahkan, bukan hanya itu, apabila kita perhatikan ayat-ayat yang menceritakan kisah Nabi Luth as, tidak didapati satupun ayat di mana Nabi Luth as mengajak kaumnya untuk bertauhid sebagaimana ajakan para nabi dan rasul lainnya di atas, saking fokusnya untuk melarang kejahatan mereka yang mana paling utamanya adalah homoseksual. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Alusy dalam tafsirnya Rûhul Ma’ânî (10/358):

ولم يأت في قصة لوط عليه السلام أنه دعا قومه إلى عبادة الله تعالى كما جاء في قصة إبراهيم، وكذا في قصة شعيب الآتية؛

Artinya: “Dalam kisah Nabi Luth as, tidak terdapat ayat yang menjelaskan bahwa ia mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana pada kisah Nabi Ibrahim as, juga pada kisah Nabi Syu’aib as yang akan dijelaskan nanti”.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Allah sampai khusus mengutus Nabi Luth as kepada kaum yang melakukan perbuatan keji tersebut? Bahkan, sampai kata dakwah pertama yang keluar pun adalah larangan melakukan perbuatan nista dimaksud bukan ajakan bertauhid sebagaimana para nabi dan rasul lainnya? Atau bahkan sampai tidak ada satupun ayat yang spesifik menjelaskan ajakan Nabi Luth as kepada kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi semuanya berkisar kepada perbuatan keji yang dilakukan kaumnya itu di mana yang paling utamanya adalah prilaku homoseksual?

Menurut para ulama, jawabannya adalah, karena perbuatan homoseksual adalah perbuatan yang amat sangat keji (fâhisyah), nista dan sangat dibenci oleh Allah.

Bahkan, saking keji dan nistanya, Allah mensifati kaum homoseksual tersebut dengan tiga sifat:

Pertama, kaum yang bodoh (بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ) (QS. An-Naml [27]: 55).

Kedua, kaum yang melampaui batas kemungkaran (بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ ) (QS. Al-A’raf [7]: 81).

Ketiga, kaum yang melampaui batas aturan Allah (بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ ) (QS. Asy-Syu’arâ` [26]: 166).

Saking keji dan nistanya perbuatan homoseksual juga, Allah menurunkan siksa kepada mereka bukan hanya satu atau dua, akan tetapi paling tidak enam siksaan.

Pertama, Allah menurunkan hujan sangat dahsyat dan hebat
Allah berfirman: 

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

Artinya: “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan; maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (QS. Al-A’raf [7]: 84).

Kedua, Allah menurunkan hujan batu
Allah berfirman: 

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

Artinya: “dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” (QS. Hud [11]: 82, 83).

Ketiga, Allah menurunkan suara keras yang sangat menggelegar
Allah berfirman: 

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ 

Artinya: “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit” (QS. Al-Hijr [15]: 73).

Keempat, Allah membalikkan negeri mereka, sehingga tanah menjadi atap dan atap menjadi tanah
Allah berfirman: 

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا 

Artinya: “Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah” (QS. Al-Hijr [15]: 74).

Kelima, Allah menurunkan angin yang sangat kencang yang membawa bebatuan.
Allah berfirman: 

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing” (QS. Al-Qamar [54]: 34)

Keenam, Allah membutakan mata mereka
Allah berfirman: 

وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ

Artinya: “Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamnuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku” (QS. Al-Qamar [54]: 37).

Sungguh siksaan yang sangat mengenaskan sekaligus hukuman yang sangat menyeramkan.

Semua itu Allah jelaskan agar apa yang terjadi dengan kaum Nabi Luth as tidak terulang lagi pada masa-masa setelahnya. Karena itu, dipenghujung kisah Nabi Luth as, Allah menegaskan bahwa semua itu sejatinya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang selalu mengambil pelajaran, juga bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ (75) وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُقِيمٍ (76) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman ” (QS. Al-Hijr [15]: 75-77).

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat mengambil pelajaran tersebut, sekaligus termasuk orang-orang yang beriman, âmîn.
Top