Hoax Isu Bom dalam Pesawat di Bandara Pontianak, Penyebarnya Telah Ditangkap

Komentar

Foto via tribunnews.com

Marak orang membuat isu bom, awas tertipu

Seperti akhir-akhir ini yang terjadi seorang anggota DPRD membuat isu bom, terjadi lagi seorang pria mengatakan membawa bom dalam pesawat di bandara Pontianak

Sebenarnya apa maksud dan tujuan mereka? Bila anda dalam kondisi seperti ini, jangan panik ini hal yang harus anda perhatikan

Gara-gara bercanda membawa bom, dua anggota DPRD Banyuwangi berurusan dengan petugas polisi. Keduanya tertunduk lesu saat digiring menuju ruang VIP Bandara Banyuwangi, Rabu (235) siang.

Keduanya adalah Basuki Rahmad dan Naufal Badri. Wakil rakyat dari Partai Hanura dan Gerindra itu diamankan karena bercanda soal bom di kawasan Bandara Banyuwangi.

Usai diperiksa pihak bandara, Basuki dan Naufal langsung digelandang ke Mapolres Banyuwangi untuk menjalani serangkaian interogasi.

Naufal yang juga ketua DPC Gerindra tersebut tak bisa mengelak ketika diamankan ke Polres.

Demikian halnya dengan Basuki. Pria yang juga ketua DPC Hanura Banyuwangi itu hanya bisa menuruti kemauan aparat Polres Banyuwangi.

Baca juga : Waspada Kejahatan di Tempat Umum, Ini Cara Dan Doa Untuk Menghindarinya

Tak hanya itu terjadi kembali isu bom yang terjadi di bandara Pontianak

Pesawat Lion Air JT 687 tujuan Pontianak-Jakarta, dihebohkan dengan adanya bom di dalam pesawat, Senin (28/5/2018).

Insiden ini membuat ratusan penumpang pesawat panik.

Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono pun memastikan bahwa itu hanya info palsu atau yang biasa disebut 'Bomb Joke'.

1. Kronologi kejadian

Melansir dari Kompas.com pada Selasa (29/5/2018), Manajer Operasional Bandara Supadio, Bernard Munthe menjelaskan kronologi insiden ini.

Berawal dari peristiwa penumpang keluar dari dalam pesawat melalui pintu darurat saat seorang petugas Avsec mendapat laporan adanya gurauan atau ancaman bom sekitar pukul 18.40 WIB.

Hal ini pun dibenarkan oleh Bernard.

Penumpang yang melakukan gurauan tersebut diketahui berinisial FN dan diduga marah kepada pramugari yang menggeser tasnya di bagasi kabin pesawat.

"Pada saat adanya ancaman bom, pramugari sebenarnya sudah memberitahukan kepada kapten di dalam pesawat," ujar Bernard.

Tak hanya itu, pramugari juga sempat menyampaikan kepada penumpang lainnya untuk keluar dari pesawat secara tenang dan perlahan.

Namun, karena mendengar ada isu bom tersebut, membuat beberapa penumpang panik dan bahkan ada yang melompat melalui jendela darurat.

"Pintu darurat itu dibuka bukan atas instruksi pramugari, tetapi inisiatif dari penumpang," jelas Bernard.

Melansir dari Tribun Pontianak, Bernard juga mengatakan bahwa insiden ini terjadi karena kesalahpahaman antara pramugari dan FN.

"Jadi saat salah satu penumpang ditangani pramugari dan versi penumpang, ada sedikit pertengkaran. Kemudian penumpang mengatakan bom dan terjadi kesalahpahaman dengan pramugari," ujarnya.

2. 10 penumpang terluka

Melansir dari Tribun Pontianak kembali, ada 10 penumpang Lion Air yang mengalami luka setelah berupaya menyelamatkan diri usai melompat dari sayap pesawat,

"Akibat kejadian ini banyak penumpang yang luka dan panik akibat loncat dari sayap pesawat. Sampai saat ini korban luka - luka sebanyak 10 orang yang di antaranya 8 orang dirujuk ke RS AURI Lanud Supadio dan dua orang meneruskan penerbangan karena hanya menderita luka ringan," kata Irjen Pol Didi Haryono, Senin malam.

3. Pesawat tetap lanjutkan perjalanan

Usai dipastikan aman dari bom, pesawat pun melanjutkan perjalanannya ke Jakarta.

"Saat ini ‎pesawat sudah kembali melanjutkan berangkat ke Jakarta dalam keadaan aman, dan tindakan yang dilakukan yakni mengamankan FN serta melakukan pemeriksaan dan dibawa ke Polresta Pontianak," jelas Irjen Pol Didi Haryono.

Sementara Bernard Munthe juga menjelaskan bahwa pesawat tidak mengalami kerusakan dan tidak ada masalah di dalamnya.

SOP melalukan pemeriksaan ulang juga sudah dilakukan di seluruh kabin dan bagasi pesawat.

Secara spesifik pemeriksaan penumpang juga dilakukan bersama-sama oleh Avsec dan kepolisian.

Namun saat itu penerbangan harus tertunda sejenak karena menunggu crew dari Jakarta.

Hal ini dikarenakan dua pramugari Lion Air ini dibawa pihak kepolisian untuk penyelidikan.

4. Pernyataan Lion Air Pontianak

Distrik Manager Lion Air Group Pontianak, Lukman Nurjaman juga membenarkan adanya insiden ini.

Namun ia mengakui bahwa pesawat yang diisukan terdapat bom itu masih dalam kondisi aman.

"Tidak itu hanya isu, tidak ada bom, Alhamdulillah pesawat kita masih aman, namun memang ada yang meneriakan bom tadi," ujarnya.

Ia juga mengatakan akan tetap memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang pesawat tersebut.

Baca juga : THR Anda Tak Dibayar? Laporkan Saja ke Posko THR Kemnaker

5. FN terancam hukuman 8 tahun penjara

Akibat perbuatannya yang membuat penumpang panik karena menyebut membawa bom dalam tas, FN sang pelaku terancam hukuman 8 tahun penjara.

Hal ini dijelaskan oleh Kepala Polresta Pontianak, AKBP Wawan Kristyanto.

Ia mengungkapkan terkait peristiwa tersebut pihak kepolisianpun menggunakan Pasal 437 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan.

"Sanksinya maksimal hukuman 8 tahun," ujar Wawan di Mapolresta Pontianak, Senin (28/5/2018) malam.

FN masih ditahan pihak kepolisian untuk dilakukan pemeriksaan terkait ulahnya itu.

Saat kejadian, FN sendirian ketika berkomunikasi dengan sang pramugari.

"Istilahnya Joke Bomb. Jadi dia menyampaikan dengan pramugari. Berkata tentang bom saja itu tidak boleh di lingkungan bandara," ujar Wawan. "Dia (FN) ditanya pramugari, tas itu isinya apa, dijawab isinya bom. Saat itu sudah boarding dan penumpang sudah sekitar 95 persen berada di dalam pesawat," tambah Wawan.

FN sendiri adalah seorang warga asal Wamena Papua yang baru saja menyelesaikan pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Pontianak.

FN yang barus diwisuda beberapa waktu yang lalu itu hendak melakukan perjalanan ke kampung halamannya menuju Jayapura dan transit di Jakarta.

5 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Menyelamatkan Diri Ketika Terjadi Serangan Atau Teror

1. Perhatikan Keadaan Sekeliling



Menurut psikolog John Leach, seperti dikutip oleh BBC, menyebutkan bahwa otak tidak langsung mencerna bom atau bahaya lainnya ketika terjadi ledakan bom.

Kita bisa memikirkan hal lain, seperti pengakuan warga Paris yang selamat dari peristiwa penembakan di sana.

Mereka awalnya mengira ledakan tersebut adalah kembang api.

Karena itu, John Leach menyarankan, di manapun kita berada, pastikan untuk selalu memperhatikan keadaan sekeliling.

Jika berada di dalam ruangan, pastikan kita tahu jalan keluar darurat.

Sehingga, insting kita akan langsung menuju ke sana jika terjadi sesuatu.

2. Gerak Cepat



Ketika terjadi suatu kejadian yang tidak terduga, reaksi pertama kita adalah bingung.

Menurut John Leach, hanya 15% orang yang langsung bisa merespon sesuatu jika terjadi situasi yang mengancam keselamatan.

75% lainnya seringkali masih mencari tahu, sehingga enggak heran jika banyak yang tetap berada di lokasi jika terjadi sesuatu.

10% akan langsung bergerak mencari bantuan.

Seringkali, kita menunggu seseorang untuk bergerak duluan sebelum kemudian mengikutinya ketika terjadi suatu kejadian.

John Leach menyebutkan, orang yang sendirian cenderung lebih cepat memberikan respon ketimbang mereka yang sedang berkelompok.

Jika terjadi suatu kejadian berbahaya, jika kita melihat orang lain bergerak mencari bantuan, kita pun bisa mengikutinya dan segera pergi dari tempat kejadian atau mencari perlindungan.

Amannya adalah mencari pihak berwajib atau pihak keamanan dan menunggu instruksi dari mereka, dan tetap tenang serta enggak panik.

Baca juga : Kisah Alif Bocah Berhati Tegar yang Mungkin Tak ada Orang Bisa Sepertinya Dijaman ini

3. Jauhi Alat Elektronik



Sebisa mungkin, jauhi sesuatu yang terbuat dari kaca seperti jendela atau cermin, dan peralatan
elektronik.

4. Mencari Perlindungan



Sesuatu yang berat dan tebal biasanya bisa memberi perlindungan untuk kita jika terjebak di dalam ruangan.

Misalnya bersembunyi dengan tiarap ke lantai, bersembunyi di belakang dinding, membalikkan meja sehingga membuat tempat perlindungan.

Hal ini paling berguna jika ada serangan berupa tembakan.

5. Pergi Sejauh Mungkin



Setelah kita berhasil keluar dari tempat tersebut, enggak usah kepo dengan diam di sana untuk mencari tahu lebih lanjut.

Melainkan, pergi sejauh mungkin dan jika memungkinkan, tetap melindungi diri dengan sesuatu yang tebal dan keras, seperti berjalan di balik mobil.

Soalnya, ada kemungkinan terjadi serangan susulan.

Dengan berdiam di sekitar lokasi, kita juga menghalangi petugas keamanan atau petugas medis yang tengah melakukan evakuasi.

Selain itu, cari petugas keamanan karena mereka lebih tahu tentang langkah apa yang sebaiknya kita lakukan.
Top