Cadar, Jenggot, dan Celana Cingkrang Bukan Ciri Teroris, Ini Ciri Teroris yang Harus Diwaspadai

Komentar

Sumber gambar Salafy Jakarta
Salah kalau kita lihat wanita bercadar dibilang teroris, orang berjenggot panjang dicurigai teroris...
Yang mesti diwaspadai ciri-ciri teroris yang sebenarnya seperti berikut ini...

Jangan sampai sesama muslim mendiskriminasi saudaranya hanya karena penampilan.


Wanita memakai cadar, pria memelihara jenggot dan pria memakai baju cingkrang bukanlah ciri teroris. Semua itu merupakan sunnah atau ajaran Rasulullah (baik hukumnya wajib maupun sunnah). Sejak zaman Nabi umat islam sudah banyak yang berpenampilan seperti itu.

Merupakan dosa besar jika mengejek dan menyakiti hati sesama muslim tanpa hak, menyebut dengan gelar-gelar buruk, apalagi memfitnah orang-orang yang tidak bersalah.

Meskipun seandainya berbeda ijtihad, namun tidak sepantasnya menggelari dengan sebutan-sebutan buruk seperti: teroris, ninja, kebanjiran.

Kalaupun di dunia ini ada segelintir teroris yang berpenampilan seperti itu, namun bukan berarti itu merupakan ciri teroris. Karena semua itu ajaran nabi, selain itu banyak yang berpenampilan seperti itu namun anti dengan terorisme. Maka sungguh tak adil jika mereka semua ikut disamakan dengan teroris.

Terorisme jelas perbuatan sesat dan bukan ajaran islam. Banyak kaum yang bercadar, berjenggot, maupun cingkrang yang anti dengan terorisme. Pemerintah indonesia pun sudah tahu bahwa hal-hal tersebut bukan ciri teroris.

Maka pemerintah mengizinkan rakyat berpenampilan seperti itu dan memberi kebebasan mengadakan kajian-kajian, termasuk berkali-kali tabligh akbar yang dihadiri puluhan ribu orang di masjid istiqlal jakarta.

Ciri-ciri teroris dikenali dari pemikirannya dan aktivitasnya, bukan dari pakaiannya. 

Jika ada segelintir orang (atau bahkan ribuan) yang biasa memakai jas melakukan korupsi, apakah berarti jas adalah ciri-ciri koruptor dan semua yang memakai jas adalah koruptor? tentu tidak bukan,

Jika ada segelintir orang (atau bahkan ribuan) yang biasa memakai dasi melakukan korupsi, apakah berarti dasi adalah ciri-ciri koruptor dan semua yang memakai dasi adalah koruptor? tentu tidak bukan,

Jika para teroris juga sholat, puasa ramadhan, rajin mengaji, apa berarti sholat, puasa dan mengaji menjadi ciri-ciri teroris? tentu tidak bukan.

Berikut ciri-ciri teroris yang kami rekap dari berbagai sumber.


Sumber gambar tribunnwes.com (Berbusana Mirip Pejuang Afghanistan, Terduga Teroris di Mapolda Riau)

1. Tertutup
Anggota teroris biasanya suka tinggal di tengah-tengah masyarakat, seperti di pedesaan atau perkotaan. Namun mereka jarang berbaur dengan warga sekitar dan lebih menutup diri dari depan umum.

2. Kerjaannya gak jelas
Para teroris memiliki uang yang cukup meski pekerjaan mereka kurang jelas dan bahkan mereka seperti tidak bekerja. Hal itu dikarenakan mereka mendapat uang langsung dari komplotannya.

3. Tinggal sendirian
Menurut polisi, biasanya anggota teroris suka tinggal sendirian di dalam rumah yang mereka sewa atau miliknya sendiri. Mereka seperti tidak memiliki keluarga padahal punya, hanya saja mereka lebih memilih menyendiri karena tidak ingin aktivitasnya diketahui. Kadang kala, suka ada beberapa orang bergantian menginap di rumahnya secara sembunyi-sembunyi.

4. Suka melakukan aktivitas mencurigakan
Warga harus peka terhadap seseorang yang tinggal di daerahnya. Jika mereka jarang bersosialisasi, bertingkah aneh dan suka melakukan aktivitasnya di malam hari, bisa jadi orang tersebut adalah anggota teroris.

Baca Juga: Pelihara Jenggotmu Wahai Lelaki, Sungguh Malaikat Berebut Air Wudhu Dari Sana
Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. (HR Tirmidzi)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Akzab:58)

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al Hujurat:12)

Demikian pula, membenci satu bagian dari syari’at Allah Jalla wa ‘Ala, baik yang wajib maupun yang sunnah, atau membenci pelakunya (disebabkan karena syari’at yang dia amalkan) merupakan kekafiran kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Barangsiapa membenci suatu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir.” (Nawaqidul Islam, ke-5)

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Demikianlah (mereka kafir) karena mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah, lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 9)

Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin dari kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla.

Kemudian kepada Ikhwan dan Akhwat yang telah diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban di atas, hendaklah kalian bersabar dan tetap tsabat (kokoh) di atas sunnah, karena memang demikianlah konsekuensi keimanan, mesti ada ujian yang menyertainya.

Dan wajib bagi kalian untuk senantiasa menuntut ilmu agama dan menjelaskan kepada umat dengan hikmah dan lemah lembut disertai hujjah (argumen) yang kuat agar terbuka hati mereka -insya Allah- untuk menerima kebenaran berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, bukan pemahaman teroris.
Top