Ungkap Fakta Masalah Gizi Buruk Pada Anak di Berbagai Wilayah Indonesia

Komentar

foto via tribunnews.com

Data WHO, sebanyak 54% penyebab kematian bayi dan balita disebabkan karena keadaan gizi buruk

Hal ini terjadi di negara miskin dan berkembang, seperti Indonesia

Kasus gizi buruk di Indonesia terhitung memprihatinkan

Banyak provinsi di Indonesia yang mengalaminya, bukan hanya di pelosok seperti Asmat dan lainnya. Berikut adalah data lengkap masalah gizi buruk yang terjadi di Indonesia..

Gizi buruk merupakan salah satu klasifikasi status gizi dimana mengalami kurang gizi yang diketahui berdasarkan pengukuran antropometri seperti pertambahan berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan lain-lain.

Malnutrisi (gizi buruk) adalah suatu istilah umum yang merujuk pada kondisi medis yang disebabkan oleh diet yang tak tepat atau tak cukup.

Walaupun seringkali disamakan dengan kurang gizi yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi, buruknya absorpsi, atau kehilangan besar nutrisi atau gizi, istilah ini sebenarnya juga mencakup kelebihan gizi (overnutrition) yang disebabkan oleh makan berlebihan atau masuknya nutrien spesifik secara berlebihan ke dalam tubuh.

Baca Juga : Diberi Susu Kental Manis, Bayi ini Malah Alami Gizi Buruk Hingga Kulitnya Terkelupas

Menurut WHO, sebanyak 54% penyebab kematian bayi dan balita disebabkan karena keadaan gizi buruk pada anak. Anak yang mengalami gizi buruk memiliki risiko meninggal 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi balita gizi buruk dan kurang di Indonesia mencapai 19,6%. Angka ini meningkat dibandingkan data Riskesdas 2010 sebesar 17,9%.

Seperti kasus gizi buruk luar biasa yang terjadi di papua bulan lalu.

Yohanna Yembise dan Idrus Marham menyebut bahwa membeludaknya angka anak penderita gizi buruk di Papua juga disebabkan oleh pemerintah yang memaksakan programnya di provinsi paling timur Indonesia ini.

“Saya belum ke sana, staf khusus saya yang ke sana, kami dapat laporan bahwa kasus campak dan gizi buruk di sana diakibatkan stok makanan yang habis. Mereka jadi tidak biasa tanam dan makan sagu dan ubi-ubian yang dahulu merupakan makanan pokok mereka lantaran kini tergantung pada program pemerintah beras miskin (raskin),” ujar Yohanna usai rapat terbatas di Kantor Kemenko PMK, Jalan Meda Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Baca Juga : Ciri-ciri Anak Bergizi Buruk, Jangan Anggap Remeh Moms!

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, status gizi pada indeks BB/U pada balita 0-59 bulan di Indonesia, menunjukkan persentase gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%.

Sedangkan provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi pada usia tersebut adalah Nusa Tenggara Timur (28,2%) dan terendah Sulawesi Utara (7,2%).

Kemudian, hasil pengukuran status gizi PSG 2016 dengan indeks BB/U pada balita 0-23 bulan di Indonesia, menunjukkan persentase gizi buruk sebesar 3,1%, gizi kurang sebesar 11,8% dan gizi lebih sebesar 1,5%.

Sedangkan provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi tahun 2016 pada usia tersebut adalah Kalimantan Barat (24,5%) dan terendah Sulawesi Utara (5,7%).


foto via caridokumen.com

Menurut Lily, banyak faktor yang menyebabkan persoalan gizi buruk dan kurang di Indonesia.

Baca Juga : 9 Penyebab Janin Cacat Sejak dalam Kandungan dan Cara Pencegahannya

Ia menceritakan, pada tahun 2010, tim dari UGM pernah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Asmat, Papua untuk meneliti persoalan gizi di sana.

Menurutnya, dari hasil penelitian tersebut, bahwa faktor seperti akses trasnportasi yang sangat susah (infrastruktur) serta budaya makan menjadi faktor penyebab gizi buruk di Asmat.

“Daerahnya sulit dijangkau, kemudian biaya mahal yang mempengaruhi daya beli,, infrastruktur juga mempengaruhi. Kemudian budaya makan, hasil ikan di Papua sangat potensial, tetapi untuk dijual, kalau tidak laku malah dibuang tidak dikonsumsi sendiri. Mereka tidak terbiasa makan itu,” tutur Lily  Kamis (25/1/2018).



KENDATI sudah ada perbaikan gizi balita di Indonesia yang ditandai dengan penurunan stunting ( balita yang menderita tubuh pendek) dari 37,2% menjadi 29%, Indonesia masih menjadi negara dengan anak berstatus gizi buruk. Sebab, saat ini gizi balita di Indonesia berada di bawah standar yang ditetapkan World Heatlh Organization (WHO) yakni di bawah 10%. Menteri Kesehatan Nila F. Moelek baru-baru ini.

"Balita yang mengalami stunting tinggi dan berat badan tidak sesuai. Walaupun status gizi balita di Indonesia membaik, itu tidak merata. Sebab, di beberapa daerah masih tinggi seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) angkanya tertinggi, masih 48,2% anak-anaknya mengalami gizi buruk. Itu data yang dilaporkan Tim Nusantara Sehat" tutur Menteri Kesehatan Nila F. Moelek, baru-baru ini.

Baca Juga : Penjelasan Medis, Kenapa Sangat Bahaya Bila Bayi Diberikan Air Putih

Menurut Menkes, bahaya bagi anak yang mengalami stunting, status gizi yang buruk membuat mereka rentan terkena penyakit - penyakit katastropik saat dewasa, seperti jantung koroner, stroke, hepatitis, dan lainnya.

" Ini bisa jadi beban bagi negara kita kalau dibiarkan," imbuh Menkes. Dari data Kemenkes, pemerintah harus mengeluarkan Rp1, 69 Triliun atau 29,67% beban biaya Jaminan Kesehatan Nasional untuk pembiayaan penyakit katastropik.

Menurut Menkes, bentuk intervensi yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi gizi buruk adalah memberikan makanan pendamping tambahan (MPT) berupa biskuit yang mengandung kecukupan nutrisi. Pada 2016 lalu, MPT yang telah diberikan pada balita kurus sebanyak 5.554,7 ton. Pemberian MPT terus diberikan selama angka gizi di Indonesia masih rendah.

Menkes menegaskan, untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat, tidak lepas dari pendekatan keluarga.

Baca Juga : Stop, Jangan Lakukan 3 Hal ini Saat Bayi Terjatuh. Berbahaya Bun

Direktur Kesehatan Keluarga Eni Gustina menyatakan, keluarga utamanya ibu, memegang peran kunci dalam peningkatan status gizi dan kesehatan. Menurutnya pemahaman ibu dalam pemberian makanan bergizi pada anak penting. Eni mencontohkan, pemberian ASI eksklusif pada bayi di NTT di atas angka rata-rata nasional yaitu sebesar 55%. Tetapi angka stunting di wilayah itu masih tetap tinggi.

" Kita temukan anak-anak di bawah umur enam bulan sehat dan gemuk, tapi begitu di bawah satu tahun mulai mengalami stunting. Ternyata setelah mendapat ASI eksklusif mereka hanya diberi makan ketika bilang lapar. Itu yang perlu diedukasi bahwa pemberian ASI tidak berhenti sampai umur enam bulan, tapi dilanjutkan hingga dua tahun dengan makanan pendamping," terang Eni ketika dihubungi, Senin (2/1).

Karenanya, dimulai dari masa mengandung misalnya pemberian edukasi gizi bagi calon ibu dan inisiasi menyusu dini serta cek kandungan secara rutin. Pada saat anak usia balita, dilanjutkan dengan pemantauan tumbuh kembang di pos layanan terpadu (poyandu).

" Tugas puskesmas dan posyandu mendorong pendekatan kesehatan berbasis keluarga. Tapi tenaga kesehatan tidak bisa sendiri. Ada kader-kader yang memberikan pendampingan seperti tim bina desa. Biasanya satu kader menjangkau sepuluh rumah," tukasnya.OL-2
Top