Orangtua Tak Akan Menolak Jaga Cucu, Namun Anda Harus Pikirkan ini Dulu

Komentar

Foto via youtube.com

Banyak yang bilang menitipkan anak pada orangtua "dosa" tapi jika orangtua yang meminta menjaga cucunya jadi tak "dosa" karena tak ada paksaan..

Kata siapa begitu? Semua tau tak kan ada orangtua yang menolak jika menjaga cucunya, tidak ada nenek yang tak sayang pada cucunya.

Kita yang harus berpikir, bagaimana efeknya. Apapun alasannya menitipkan anak pada orang tua tetap dosa ini buktinya.


AUTO DURHAKA! menitipkan anak pada orangtua

Ada sebuah pertanyaan :

Assalamualaikum

Bagaimana kalau suami istri kerja, anak-anaknya dititipkan kepada orangtua, apakah suami istri ini dzalim?

Dijawab oleh Ustadz Abdul Somad LC MA

Waalaikumussalam

Bagi pasangan suami istri yang sama-sama berkerja pengasuhan anak menjadi sesuatu hal yang cukup membingungkan.

Apalagi keduanya bekerja dari pagi hingga malam, berangkat gelap, pulang gelap.

Mau menitipkan kepembantu takut salah asuh, maka tak sedikit orangtua yang menitipkan anak kepada orangtua atau mertua.

Baca juga : Jangan Jadi Pembunuh Secara Halus, dengan Bertanya "Kapan Nikah dan Kapan Punya Anak"

Sekilas memang orangtua yang dititipi anak tidaklah keberatan. Karena setiap kakek dan nenek pasti senang bersama cucu-cucunya.

Akan tetapi faktanya tidak selamanya demikian apalagi tingkah anak-anak balita seringkali membutuhkan upaya lebih untuk menjaganya, tentu hal ini melelahkan.

Tenaga dan kekuatan mereka tidak sama seperti mereka yang masih muda.

Bukankah dalam syariat agama orangtua justru harus diringankan bebannya, lalu bagaimana harus mengasuh cucu-cucu mereka? bukankah hal ini justru malah memberatkan dan membebani orangtua??

Menitipkan anak kepada orangtua bukanlah tindakan yang tepat apalgi mengasuh dan menjaga cucu bukanlah pekerjaan ringan.

Maka jika hal ini dilakukan justru menjadi kedzaliman terhadap orangtua. Apakah bijak membebani orang tua yang sudah udzur? dengan tanggung jawab yang membutuhkan kekuatan fisik dan mental seperti itu?

Orangtua yang sudah sepuh sudah seharusnya diperlakukan dengan baik dan lemah lembut.

Baca juga : Jangan Cuma Suruh Istri Tampil Cantik, ini Alasan Nyata Suami Juga Harus Dandan

Sebagaimana yang dipesankan Allah Swt, dalam firmannya :

" Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "Ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" (QS- AL Isra :23)

Ayat ini menegaskan bahwa orangtua yang berusia lanjut memerlukan perlakukan khusus. Berkata-katapun harus berhati-hati agar tidak melukai perasaan mereka.

Orang lanjut usia pastinya mengalami berbagai perubahan mulai dari fisik hingga sikologi, ada kalanya perubahan tersebut menjadikan mereka lebih sensitif dan mudah tersinggung.

Tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak semestinya ada di pundak orangtuanya. Bukan kakek dan neneknya atau guru-guru disekolah.

Inilah yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam :

"Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin diantara manusia dia akan ditanya akan kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi kelurganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya" (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud pemimpin dalam hadist ini adalah orang yang dipercaya untuk mengurus dibawah kepemimpinannya dan juga akan melakukan hal-hal yang baik bagi yang dipimpinnya.

Jika lalai dengan menjalankan kepercayaan itu, ia harus bertanggung jawab atas kelalainnya, begitu juga anak-anak pada hakikatnya ia adalah amanah yang Allah percayakan kepada setiap orangtua.

Jika orangtua melalikan apa yang menjadi tanggungjawabnya yang mengakibatkan terjadinya hal-hal yang kurang baik pada anaknya, maka orangtualah yang dimintai pertanggung jawaban.

Baca juga : Islam Pun Melarangnya, Menitipkan Anak Kepada Orangtua Itu 'Dosa'

Apalagi jika alasan melalikan tanggung jawab tersebut hanya karena ingin mengejar karir atau ambisi pribadi.

Pentingnya peran orang tua dalam pendidik anak juga digambarkan Rasulullah dalam sabdanya :

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, Bapak dan Ibunyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi" (HR. Bukhari) 

Hadist nabi ini menggambarkan besarnya peran kedua orangtua dalam mengarahkan anak. Bukan saja baik atau buruknya agama anak, tapi juga bisa menjadikan anak PINDAH AGAMA

Memang biasanya nenek atau kakek pastilah senang bermain dengan cucu-cucunya.

Tapi jika sudah menitipkan sepanjang hari, setiap hari, setiap minggu, hingga setiap bulan sampai besar.

Maka ini bukan lagi namanya menyenangkan, tapi sudah MEMBEBANI, MEREPOTKAN, dan MENYUSAHKAN.

Oleh karena itu setiap orangtua hendaknya kembali memikirkan apa motivnya menitipkan anak pada kakek atau neneknya.

Sebab jika sampai menyusahkan maka orang tua bisa terkena dua kesalahan :

1. Kesalahan karena mengabaikan kewajiban mendidik anak
2. Kesalahan menganiyaya orangtua


Akan tetapi jika menitipkan anak-anak pada kakek dan neneknya bersifat eksidentil, sesekali, dan itupun hanya sebentar, bahkan membuat senang hati nenek dan kakeknya. Maka tentu saja hal ini bisa jadi AMAL SHALEH, karena bagian dari menyenangkan orangtua.

Yang perlu dipikirkan terlebih dahulu dan etika sebelum menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:

1Awali semua dengan rasa “Tau diri”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.

2. Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Seorang Ibu pernah berkata, “Tubuh kami , tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.

3. Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that

4Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/asisten rumah tangga, dengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.

5. Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan.

So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak.

Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan.

Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada mereka.

Di zaman saat ini ini, tak sedikit para ibu yang punyai pekerjaan di luar tempat tinggal menitipkan anaknya kepada kakek atau neneknya, entah semata-mata memberi sebagai bentuk bakti atau serupa gaji karena anak dititipi.

Tak dapat disangkal bahwa kewajiban mendidik anak adalah tanggungjawab utama orangtua kandung, karena mereka adalah amanat mulia yang dititipkan Allah pada kita dan insyaallah bisa menjadi investasi amal kebajikan di kemudian hari.

Namun, alih-alih memanfaatkan kesempatan menanamkan buah kebajikan pada anak, banyak orangtua yang mengalihkan sebagian besar waktu penjagaan kepada orang lain khususnya kepada ibu sendiri atau ibu mertua. Salah satu alasannya adalah demi mengejar karir.

Dalam masalah ini, cobalah kita bertanya pada diri kita sendiri dengan nurani. Apakah perbuatan kita tersebut bisa dikatakan benar dan bisa dibenarkan secara syariat atau tidak?

Pertama, tanyakan dalam hati sanubari kita, apa sebenarnya yang melandasi perbuatan tersebut? Apakah karena orangtua kita lebih baik dalam mendidik anak-anak kita  Atau hanya demi mengejar karir?

Ketahuilah! Ini Dosanya

Perhatikanlah, jika niat kita hanya meraih jenjang karir yang tinggi kemudian orangtua terbebani maka perbuatan kita termasuk dzalim dan hal itu merupakan dosa.

Dosa karena telah mengesampingkan kewajiban mendidik anak sekaligus mendzalimi orangtua kita. Naudzubillah min dzalik.
Top