Dampak Buruk Broken Home Terhadap Anak Usia Sekolah

Komentar
foto ilustrasi via hallosehat.com

Broken Home atau keluarga tak utuh adalah kondisi dimana keluarga mengalami perpecahan atau adanya kesenjangan dalam rumah tangga, entah itu berawal dari cekcok kedua orang tua, perselingkuhan, bahkan perkelahian yang berakibat putusnya tali yang dirangkai keluarga atau perceraian.

Akibatnya anak yang jadi korban...

Anak broken home adalah anak yang hasil kegagalan rumah tangga atau seorang anak yang memiliki keluarga tidak harmonis. University of New Hampshire Cooperative Extension menjelaskan bahwa efek dari keluarga yang tidak harmonis pada perkembangan anak tergantung pada berbagai faktor, termasuk usia seorang anak ketika orangtua bercerai, kepribadian anak, dan hubungan di dalam keluarga.

Menjadi seorang anak yang Broken home, bukanlah merupakan hal yang diinginkan oleh setiap anak di dalam suatu keluarga. Melihat ayah dan ibu bertengkar di depan matanya setiap malam.

Melihat mereka saling berjalan berjauhan, atau sudah tidak mesra lagi seperti dulu, adalah sebagian besar dari yang tak diinginkan oleh anak.

Meskipun balita dan anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak akan mengalami efek perkembangan yang terlalu negatif, anak-anak yang orangtuanya bercerai saat mereka sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja mungkin mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial, emosional, dan pendidikan mereka.

Dampak Broken Home Bagi Seorang Anak

Ada banyak dampak yang akan terjadi,terutama jika keadaannya sudah broken home. Apa saja ?

(1). Sulit Bergaul


foto ilustrasi via psikologiunik.info

Ketika ada anak yang mengalami broken home maka ia akan malu dan merasa tidak percaya diri.Anak-anak tersebut sering menyendiri dari pergaulan karena merasa rendah diri. Kurangnya perhatian, waktu untuk dihabiskan dengan keluarga dan tidak memiliki cerita mengenai keluarga merupakan salah satunya.

(2). Dangkalnya Iman


foto ilustrasi via kocakbanget.com

Dampak terbesar dari broken home adalah iman yang lemah.Orang tua yang seharusnya menjadi sekolah agama pertama kalinya sejak anak-anak sampai mereka dewasa tidak bisa menjalankan fungsinya dengan benar. Sehingga anak yang broken home berdampak buruk dan justru sering jauh dari agama.

(3). Wujud Sayang yang Sedikit


foto ilustrasi via hallosehat.com

Broken home nyatanya menjadikan seorang anak tidak terpenuhi haknya sebagai seseorang yang menerima rasa sayang dan cinta dari orang lain khususnya orang tua. Anak broken home merasa kekurangan kasih sayang dan bersikap brutal. Selain itu, bisa saja orang tua yang tidak perhatian membuat anak-anak tidak tercukupinya gizi serta nutrisi selama masa pertumbuhannya, kebutuhan pakaian dan mainan, hingga tidak terpenuhinya keperluan di sekolahnya.

(4). Gangguan Mental


foto ilustrasi via DokterSehat.com
Sering melihat anak-anak broken home bersikap diluar batas, sulit dikendalikan atau bersikap seolah orang yang mengalami gangguan mental ? seringkali anak broken home mengalami tekanan seperti halnya depresi dan cemas karena tidak memiliki teman untuk mendengarkan. Sedangkan orang tua biasanya tempat untuk menyampaikan keluh kesah dan hal buruk.

(5). Benci Pada Orang Tua

foto ilustrasi via islammidia.com

Untuk orang tua yang menjadikan sebuah rumah tangganya tidak baik, justru yang ada membuat anak tersebut mengalami kondisi seperti membenci ayah, ibu, atau bahkan kedua orang tuanya saat terjadi broken home.

Mengatasi Dampak Broken Home pada Anak

Namun jika memang broken home telah menimpa keluarga kita dan melibatkan anak-anak, maka ada baiknya jika kita segera melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengurangi dampak lebih lanjut yang tidak diinginkan. Hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
  • Segera menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab broken home.
  • Memperbaiki serta menjaga komunikasi terhadap anak agar tetap lancar dan kondusif.
  • Berusaha membuat mereka nyaman sehingga anak bisa lebih terbuka mengenai segala sesuatu yang sedang ia rasakan atau alami
  • Meminta maaf kepada mereka dan menjelaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi.
  • Menjelaskan bahwa keadaan tersebut bukan salahnya sehingga ia tidak merasa serba salah.
  • Memberi pengertian bahwa ia akan tetap baik-baik saja meski orang tuanya tidak lagi bersama.
  • Tidak membatasi pertemuan anak dengan ayah/ibunya.
  • Mulai mengarahkannya kepada perilaku-perilaku positif secara perlahan.
  • Memberikan pendidikan agama sebagai dasar perilaku normatif.
  • Mengisi kegiatan luang mereka dengan hal-hal baru yang produktif dan menyenangkan agar dapat tersalurkan bakatnya.
  • Memilihkan lingkungan sekolah maupun keseharian yang baik bagi anak serta mengawasi pergaulan mereka dengan sebaik-baiknya.
  • Meminta pertolongan psikolog anak jika dianggap perlu.
Jadi, sebagai orang tua harusnya bisa menghindari perceraian, selain perceraian sangat dibenci Allah, akibat perceraian pada anak sangat buruk terhadap masa depan anak.
Top