Apa itu ADHD? Anak Sehat Luar Biasa, Tapi Nakalnya Juga Luar Biasa

Komentar

Sumber gambar infokesmas4us.blogspot.com

Aduuuuh, anak saya itu ngga bisa diem banget deh bu, lari kesana kemari, sering ngelamun, diajak ngobrol suka gak fokus, apa karena sering main gadget yah?.

Sering mengeluh karena keadaan anak yang seperti ini?mungkin anak anda terkena ADHD.


“Aduuuuh, anak saya itu ngga bisa diem banget deh bu, lari kesana kemari, dibilangin ga bisa, disuruh belajar ngga mau, katanya cape lah bosen lah ahh banyak deh alesannya, terus kalau apa-apa pengennya cepet ga sabaran, ni anak tuh kaya hiperaktif deh” keluh seorang bunda kepada tetangganya.

“Ih, anak saya juga gitu bu, disuruh belajar ga mau, sering ngelamun gitu kalau di kelas kata bu gurunya, kalau saya ajak ngobrol ga fokus aja bu, tapi sebenernya dia tuh cerdas, apa karena sering main gadget yah?” keluh seorang bunda menambahkan.

Ayah, bunda, pernahkah kita mendengar keluhan tersebut ramai di telinga kita? Atau mungkin hal diatas juga menjadi keluhan kita pada anak-anak kita?

Yuk, kita sama-sama hayati, apa sih yang terjadi pada anak kita?

Keluhan dua bunda diatas dapat menjadi penanda yang mengarah pada kriteria anak yang mengalami ADHD. Lalu, apa itu ADHD?

ADHD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder) ialah kondisi dimana anak memiliki gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Dalam International Classification of Disease (ICD-10), ADHD merupakan gangguan psikiatri tipe  neurodevelopmental, dimana anak yang mengalami ADHD memiliki 3 permasalahan, yaitu dalam  hal 1) atensi, 2) hiperaktivitas dan 3) impulsivitas yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak. Bisa merupakan tipe inatensi saja, tipe hiperaktivitas dan impulsivitas, maupun tipe gabungan ketiganya.

Adapun penyebab anak mengalami ADHD, 34-40%-nya karena faktor genetik, dan faktor disfungsi otak dan lingkungan (pengasuhan, makanan, stimulasi).

Anak dapat didiagnosa ADHD dimulai pada usia 6 hingga 12 tahun, dan perilaku yang mengarah pada 3 permasalahan diatas telah menetap minimal lebih dari 6 bulan.

Usia ini perlu diperhatikan, karena anak usia pra sekolah, biasanya memunculkan perilaku tidak bisa diam seperti hiperaktif. Ayah dan bunda sebaiknya tidak reaktif menilai anak ADHD atau tidak, karena dibawah usia sekolah kemampuan motorik anak sedang aktif berkembang dan hal ini bisa saja wajar sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Menurut penelitian Nair (2006), prevalensi anak-anak usia sekolah yang mengalami ADHD di dunia mencapai 2-5%. Sementara itu di Indonesia ADHD berkisar antara 4-15% pada anak usia sekolah, artinya sekitar 2 dari 10 anak di Indonesia mengalami gangguan ADHD ini.


Gamar via manroebinsar.blogspot.com

Lalu, bagaimanakah agar anak dengan ADHD dapat tetap sukses dalam belajar?

Sebuah situs kesehatan mental (mental health) dan well-being anak, helpguide.org, memberikan panduannya sebagai berikut :

1. Komunikasikan kebutuhan anak dengan guru dan sekolah
Sebagai orang tua, kita perlu mendukung anak dan menjalin komunikasi dengan guru serta lingkungan sekolah agar anak dapat belajar secara konstruktif.

2. Membuat dan Mengembangkan Rencana Aktivitas Harian
Rencana aktivitas harian ini dapat berupa ceklis perilaku untuk menurunkan perilaku yang tidak diinginkan dari anak dan meningkatkan perilaku yang tepat disertai positive reinforcement.

3. Temukan cara belajar yang paling sesuai dan anak minati
Dengan memahami permasalahan utama anak (inatensi, hiperaktivitas dan atau impulsivitas), sesuaikan cara belajar anak dengan kebutuhannya. Misalnya, dengan memberikan instruksi secara bertahap bagi anak yang kesulitan dalam mempertahankan instruksi yang panjang.

Dengan keistimewaan yang dimiliki setiap anak, luangkan waktu kita untuk tetap pantau tumbuh kembang anak sebagai upaya untuk deteksi dini ya, Ayah Bunda. Semangat Berjuang! 
Top