Puasa Memang Baik, Tapi Bagaimana Hukum Puasa Weton Atau Puasa Hari Lahir

Komentar

Foto via youtube.com

Puasa Weton tidak terdapat pada sunnah yang diajarkan Rasulullah..

Lalu bagaimana hukum puasa weton atau puasa kelahiran

Banyak masyarakat khususnya di jawa yang memperingati hari kelahiran dengan berpuasa, atau disebutnya puasa weton

Namun banyak yang belum mengetahui dan memahami kejelasan hukum dari puasa tersebut, nah agar ibadah anda tidak termasuk ibadah yang mengada-ada maka simak penjelasan ini.

Di dalam Islam kita mengenal berbagai puasa sunah seperti puasa Senin Kamis, puasa Ayamul Bidh, puasa Syawal, maupun puasa Daud.

Semua ibadah puasa tersebut telah diajarkan oleh Rasulullah saw. semasa beliau masih hidup sehingga disunahkan untuk dilakukan oleh umat muslim di berbagai penjuru dunia.

Baca juga : Rasulullah Melarang, Jangan Makan dengan Posisi Seperti ini

Dewasa ini semakin banyak masyarakat yang mulai rutin mempraktikkan sunah puasa tersebut karena mereka telah mengetahui manfaat puasa sunah, tidak hanya menyehatkan tubuh tetapi bernilai pahala di sisi Allah.

Lantas bagaimana dengan puasa hari kelahiran yang juga sering dilakukan oleh masyarakat dalam memperingati hari kelahirannya? Apakah puasa tersebut juga diajarkan oleh Rasulullah saw.?

Melakukan puasa di hari kelahiran ini pada umumnya lebih popular dengan istilah puasa weton bagi orang Jawa.

Secara keseluruhan tata cara puasa pada intinya adalah upaya keprihatinan yang dilakukan oleh seseorang dengan niat tertentu.

Puasa hari kelahiran atau puasa weton itu sendiri merupakan sejenis puasa yang dilakukan pada saat hari kelahiran atau weton dari seseorang tersebut.

Bagi orang yang tinggal di tanah Jawa tentunya ritual puasa weton ini tidak asing di telinga karena hingga saat inipun masih ada beberapa orang yang melaksanakannya.

Bahkan pelaksanaan puasa weton atau hari kelahiran ini sering disalah artikan sebagai upaya keprihatinan yang dilakukan sebagai bentuk syarat untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi semata.

Banyak sekali masyarakat yang senang memperingati hari kelahiran mereka dengan berpuasa sunah padahal belum tentu mereka mengetahui dan memahami kejelasan hukum dari puasa tersebut. 

Nah, agar ibadah sunah kita tidak termasuk ibadah yang mengada-ada dan mengatasnamakan sunah hanya atas dasar taklid, yuk kita simak informasinya berikut ini.

Dalam ajaran islam, puasa hari kelahiran atau puasa weton memang tidak ada. Jenis puasa ini merupakan tradisi masyarakat kejawen pada masa lampau yang sekarang juga masih ada segelintir orang yang menjalankannya.

Perlunya kita memahami esensi dari suatu amalan adalah hal wajib yang tidak boleh dilupakan. Untuk itu, sebaiknya kita menanamkan niat hanya untuk beribadah kepada Tuhan melalui puasa.

Jangan sampai puasa yang dilakukan karena adanya tradisi menjadikan kita berharap kepada selain Tuhan atau bahkan meniatkan puasa tersebut sebagai upaya yang mengharapkan adanya timbal balik dari Tuhan kepada kita.

Baca juga : Terlengkap, ini Tata Cara, Niat, Doa dan Syarat Sholat Qashar yang Mudah Dipraktekkan

Esensi Puasa Hari Kelahiran atau Puasa Weton

Jika kita bicara mengenai puasa, tentunya kita tidak sebatas membicarakan perpindahan jam untuk mengkonsumsi suatu makanan semata.

Terlepas dari hal itu ternyata segala macam puasa, termasuk puasa weton merupakan sebuah upaya keprihatinan yang sangat baik bagi tubuh dari segi kesehatan.

Tubuh akan mengalami proses detoksifikasi yakni proses pengeluaran racun dari dalam tubuh melalui jaringan kulit dalam bentuk keringat dan memalui sistem pencernaan.

Nabi Muhammad dahulu sering melakukan puasa di hari senin dimana pada hari tersebut merupakan hari lahir beliau. 

Namun setelah dipahami lebih dalam, ternyata beliau berpuasa di hari senin dalam rangka hari tersebut merupakan hari lahirnya rosul dan turunnya wahyu yang pertama bukan sebuah puasa di hari lahir sebagai anak manusia.

Jadi berpuasa di hari lahir rosullah yang disunahkan pada umatnya, bukan puasa di hari kelahiran.

Bagaimanakah Hukum Puasa Hari Kelahiran dalam Islam..

1. Puasa Hari Kelahiran Rasul, bukan Hari Kelahiran Umat-Umatnya

Rasulullah adalah sosok yang rajin mengerjakan puasa sunnah terutama pada hari Senin. Pada saat itu beliau ditanya oleh para sahabat tentang puasa yang dilakukannya setiap hari Senin. Kemudian Rasulullah saw. menjawab,

Itu hari kelahiranku dan diturunkannya wahyu,” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Menurut sebagian ulama, hadis tersebut menegaskan bahwa meskipun hari senin bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah, tetapi tidak terdapat anjuran bagi umatnya untuk ikut menjalankan puasa hari kelahiran seperti beliau. 

Hal ini dikarenakan puasa sunah yang dilakukan oleh beliau lebih dikarenakan pada hari itu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasul. Selain itu, jika Rasul mensyariatkan untuk melakukan puasa hari kelahiran, tentu bukan pada hari kelahiran kita melainkan hari kelahiran Rasulullah.

Apabila kita mengkaji tentang kehidupan para sahabat maka tidak akan ditemukan kelompok sahabat yang melakukan puasa hari kelahiran mereka.

Hal ini juga dapat menjadi salah satu acuan apakah ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan syariat yang dianjurkan untuk kita lakukan atau tidak.

Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya mengikuti sunnah yang beliau ajarkan tetapi juga mengikuti praktek ibadah dari para sahabat.

 2. Tidak Terdapat dalam Puasa Sunah yang  Diajarkan Rasulullah



Sebelum menyimpulkan hukum puasa hari kelahiran dalam Islam, marilah kita kaji terlebih dahulu jenis-jenis puasa sunah yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

1. Puasa Senin Kamis

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Amal-amal perbuatan itu diajukan (diaudit) pada hari Senin dan Kamis, oleh karenanya aku ingin amal perbuatanku diajukan (diaudit) pada saat aku sedang shaum,” (H.R. Tirmidzi).

2. Puasa Enam Hari pada Bulan Syawal

Diriwayatkan dari Abu Ayyub r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang shaum pada bulan Ramadan kemudian diikuti dengan shaum (Sunah) enam hari pada bulan Syawal, ia seakan-akan shaum sepanjang tahun,” (H.R.Muslim).

3. Puasa Tasu’a dan A’syura (9-10 Muharram)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw., ‘Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadan adalah shaum pada bulan Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam,’” (H.R.Muslim).

4. Puasa Daud

Rasulullah saw. bersabda, “Shaumlah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah shaum Daud a.s. Dan itu shaum yang paling tangguh,” (H.R. Muslim).

5. Shaum pada Bulan Sya’ban

Aisyah r.a. menjelasakan, “Tidak terlihat oleh saya Rasululllah saw. melakukan shaum dalam waktu sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadan, dan tidak satu bulan pun yang sehari-harinya lebih banyak diisi dengan shaum oleh Nabi daripada bulan Sya’ban,” (H.R. Bukhari-Muslim).

6. Shaum Tiga Hari Setiap Bulan

Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Shaum tiga hari setiap bulan itu seperti shaum sepanjang tahun,” (H.R. Bukhari-Muslim). “Abu Dzar ra berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kamu shaum tiga hari dalam sebulan, shaumlah pada tanggal 13,14,15,” (H.R. Tirmidzi).

7. Shaum ‘Arafah

Rasulullah saw. ditanya tentang shaum hari ‘Arafah, beliau menjawab, “Dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan yang tersisa,(H.R. Muslim).

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. melarang shaum ‘Arafah bagi mereka yang sedang berada di ‘Arafah (sedang haji),” (H.R. Abu Daud dan An-Nasai).

Berdasarkan jenis-jenis puasa tersebut diketahui bahwa tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa Rasulullah mengajarkan untuk melakukan puasa hari kelahiran. Oleh karena itu, janganlah kita mengada-ada suatu ibadah yang tidak ada tuntunannya atau tidak disunnahkan oleh Rasulullah saw.

Diatas telah kita ketahui esensi dari puasa hari kelahiran bukan? Jadi sebenarnya puasa apapun itu mempunyai manfaat yang bisa didapatkan secara lahir dan batin.

Akan tetapi kita juga sebaiknya memperbaiki niat dari puasa yang kita laksanakan. Meskipun dalam syariat Islam puasa di hari kelahiran tidak ada.

Namun bagi kalangan orang yang tinggal di tanah jawa masih melaksanakan puasa tersebut sebagai upaya keprihatinan dalam hidup. Berikut ini beberapa manfaat puasa hari kelahiran menurut kesehatan

Baca juga : Amalkan Doa Mustajab ini, InsyaAllah Dalam 1 Tahun Cepat Memiliki Rumah

1. Kesehatan Tubuh Semakin Membaik
Pada dasarnya puasa itu sendiri selain baik dari segi mental namun juga sangat baik bagi kesehatan tubuh. Puasa itu sendiri tidak sebatas menahan lapar bahkan perpindahan waktu makan semata.

Namun mekanisme pencernaan tubuh juga dapat beristirahat sehingga lambung tidak berkerja secara terus menerus. Tentunya hal ini akan membuat kesehata tubuh menjadi lebih baik karena selama sistem pencernaan beristirahat maka organ tubuh lainnya pun akan mengalami jeda istirahat.

2. Membantu Proses Detoksifikasi
Ketika seseorang melakukan puasa, sebenarnya tubuh akan memulai untuk melakukan proses detoksifikasi sehingga racun yang terdapat didalam tubuh dapat dikeluarkan melalui keringat bahkan kotoran berupa urin.

Dari sinilah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa puasa memang sangat dianjurkan dari segi medis. Bahkan sebelum melakukan penanganan medis dimeja bedah, pasien diharuskan untuk melakukan puasa terlebih dahulu.

3. Sehat Secara Mental dan Pikiran
Jika sebelumunya telah kita bahas manfaat puasa dari segi medis atau dunia kesehatan maka kali ini kita akan mengetahui apa fungsi puasa bagi mental dan pikiran kita.

Seseorang yang sering melakukan puasa, sebenarnya akan mempunyai pemikiran yang lebih matang dan dalam dibandingkan  orang yang sangat jarang berpuasa.

Hal ini karena kondisi mental dan pikiran kita ketika berpuasa akan mengalami penurunan emosi yang signifikan sehingga kita cenderung mampu menyelesaikan permasalahan dengan pemikiran yang lebih tenang.

4. Bermanfaat Secara Magis
Selain itu, puasa tidak terbatas pada peningkatan kesehatan secara fisik semata namun secara umum, puasa weton ini juga sangat baik bagi mental dan pikiran seseorang.

Namun manfaat yang bersifat magis seperti pernyataan bahwa puasa merupakan upaya magis untuk mendekatkan diri pada hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan logika adalah salah satu argumen yang tidak sepenuhnya benar.

Lebih tepatnya, puasa adalah suatu kegiatan yang dapat menjadikan seseorang mempunyai kepekaan lebih dalam terhadap makhluk-makhluk yang ada di muka bumi.

Jadi seperti itu, ada yang mengatakan hukumnya makhruh, asalkan ingat bertujuan untuk apa puasa tersebut, jika bertujuan untuk meminta imbalan atau yang lainnya tidak diperbolehkan, hanya bertujuan untuk beribadah saja, semoga bermanfaat.

Walahu a'lam Bishawab
Top