Perhatikan Hal-hal Ini, Sebelum Mengambil Ilmu dari Orang Lain, Apalagi dari Internet

Komentar

Sumber gambar imgrum.org
Karena kelak, salah satu yang dapat menyelamatkan kita dari siksa api neraka adalah ilmu yang bermanfaat...

Maka ketahuilah dulu siapa gurumu dan bagaimana akhlaqnya....

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan. Menuntut ilmu tidak dibatasi usia, selama hayat masih dikandung badan, selama itulah ilmu wajib diburu. Karena kelak, salah satu yang dapat menyelamatkan kita dari siksa api neraka adalah ilmu yang bermanfaat.

Islam memiliki banyak ulama yang rajin menuntut ilmu, salah satunya adalah Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki.

Beliau sangat haus kepada ilmu, sampai ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa beliau memiliki guru tak kurang dari 900 guru, 300 dari kalangan tabi’in, dan 600 dari kalangan tabi’ut tabi’in. Masya Allah. . . .

Dari hasil menuntut ilmu itu pula lah beliau banyak melahirkan kitab-kitab yang berguna bagi umat islam, salah satu kitab yang paling dikenal adalah al-Muwatha. Selain itu, banyak pula ulama-ulama hebat hasil didikannya. Sebut saja Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhal, Ayyub bin Abu Tamimah As-Sakhtiyani, dan juga al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Qurasyi al-Muthalibi, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Asy-Syafi’i, pendiri madzhab Syafi’i.

Namun, keluasaan ilmu yang dimiliki Imam Malik sesungguhnya bukan sekedar dari upaya kerja keras yang selama ini beliau lakukan.

Beliau bisa seperti itu, karena ada seorang ibu yang selalu memberi nasihat kepada anaknya. Ada rahasia tersendiri bagaimana ibunda Imam Malik memainkan peran dalam mendidik anaknya menjadi seorang ulama besar umat ini.

Diceritakan bahwa pada saat Imam Malik hendak menuntut ilmu, sang ibunda dengan cekatan mempersiapakan segala bekal yang diperlukan oleh Imam Malik muda pada saat itu. Setelah semua telah siap, tak lupa sebait nasehat disampaikannya kepada sang buah hati, “Sekarang pergilah ke majelisnya Rabia’ah, dan pelajarilah adabnya sebelum kau mengambil ilmunya” pesan sang ibunda kepada anaknya.

Dan itulah yang dilakukan Imam Malik dalam menuntut ilmu. Mempelajari adab sang guru sebelum pada akhirnya mencatat ilmu yang disampaikan oleh gurunya tersebut.

BACA JUGA Tidak Ada Salahnya Wanita yang Melamar dan Minta Dinikahi, Kebaikan Jangan Ditunda-tunda

Metode menuntut ilmu seperti itu ternyata dipakai juga oleh salah seorang ulama dari Mauritania yang bernama Syaikh Asy-Syaibani. Beliau pernah membawa puteranya yakni Syaikh Muhammad Said kepada al-‘Allamah Hamid bin Muhammad bin Mihnazh Babah. Syaikh Asy-Syaibani lantas mengatakan kepada Syeikh Hamid “Aku tak ingin engkau memngajari anak ini satu ilmu pun.” Lanjutnya,“Aku hanya ingin dia mempelajari tingkah laku dan adabmu. Maka biarlah dia menyertaimu tiap kali kau berdiri, duduk, dan tidur.”

Begitulah, ternyata adab itu lebih penting dari sekedar ilmu yang keluar dari lisan. Karena sungguh, dari perilaku atau adab inilah seseorang itu bisa terlihat kadar keilmuannya. Pasalnya, hari ini tak sedikit orang yang berbicara bak ulama, namun perilakunya tak mencerminkan hal demikian.

Kiranya hal ini dapat kita jadikan pelajaran bersama. Setidaknya dalam menuntut atau dalam memberikan ilmu, hendaklah kita memperhatikan adabnya terlebih dahulu.

Bagaimana Hukumnya Jika Berguru di Internet

Demikianlah keadaannya, berbagai informasi dan pengetahuan dengan mudah dapat diakses di dunia cyber (internet). Bahkan yang memperparah keadaan adalah banyaknya orang yang menjadikan dunia maya (internet)sebagai seorang guru tempat bertanya dan mencari tahu. Dan celakanya dari guru (dunia maya) inilah mereka lalu menyebarkan apa yang di dapatnya kepada murid-muridnya.

Memang, tidak semua yang ada di internet adalah tidak benar. Banyak sekali kebenaran yang terserak di sana, akan tetapi kebenaran itu belum teruji dan masih perlu diferifikasi lebih lanjut. Karena bagaimanapun internet bukanlah guru yang memiliki sanad yang jelas, bahkan internet sering menjadi penyebar hal-hal negative. Alih-laih membawa berkah, internet banyak sekali memberi musibah. Bagaimana bisa menjadikan seseuatu yang menyebabkan musibah sebagai seorang guru? Sungguh terlalu.

Oleh karena itu, keberadaan globalisasi dan internet yang tidak dapat dihindarkan harus diposisikan yang benar dan member manfaat. Sebagaimana pisau ditangan tukang masak bukan di tangan preman. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yang berguru langsung kepada Jibril.

Barangsiapa yang mengambil ilmu dari seorang guru dengan musyafahah (berhadap-hadapan langsung), niscaya terpeliharalah ia dari tergelincir dan keliru. Dan barangsiapa mengambil ilmu dari buku-buku (apalagi internet), maka pengetahuannya menurut penilaian ahli ilmu adalah nihil semata.

Demikianlah seharusnya memposisikan internet sebagai media yang harus dikonfirmasi kembali berbagi informasi di dalamnya. Tidaklah layak langsung ditelan, tetapi harus dimasak lebih dahulu.

Sayang sekali, banyak sekali orang terlalu tinggi ego dalam dirinya sehingga malu bertanya dan enggan mengakui orang lain sebagai gurunya yang lebih tahu. Jika sudah demikian maka percuma berbagai nasehat, karena keinkarannya lebih kuat dari pada keinginan untuk belajar.

Tidaklah berguna berpanjang kalam (keterangan) bagi orang yang telah inkar, walaupun dibacakan untuknya taurat dan inji.

Wallahu’alam
Top