Meski Dipenjara, Zaini Masih Bisa Hasilkan Rp 18 Juta, Anda yang Bebas Bisa Lebih Jika Bisa Seperti ini

Komentar

Foto via tribunnews.com

Bisa terbayang apa yang dilakukan sehingga bisa mendapat 18 juta meski didalam penjara?

Kita harus merasa iri dengan Mochammad Zaini pria yang menjadi TKI dan dihukum pancung seumur hidup karena diduga membunuh majikannya, jika dipikir secara logika apa yang bisa dilakukan didalam penjara selain menerima kenyataan dan berserah diri pada-NYA. 

Tapi berbeda dengan Zaini, ia cukup cerdas merubahnya menjadi berkah dan akhirnya bisa mengumpulkan uang segitu banyak, jika yang dipenjara bisa kenapa yang bebas tidak bisa? cara Zaini ini patut ditiru

JIWA pekerja keras pada diri Mochammad Zaini (47) memang sudah terlihat sejak masih menjadi sopir angkutan di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Baca juga : Kejadian Nyata, Azab Pedih Langsung Dialami Orang yang Mempersulit Jalan Orang Lain

Meski dirinya berada dalam penjara Umumi Kota Makkah, Arab Saudi, Zaini masih mampu menghasilkan uang yaitu menjadi tukang cukur rambut di balik terali besi.

Kini, pria yang akrab disapa Slamet di kampung halamannya itu telah berpulang.

"Slamet pekerja keras. Ia memutuskan pergi ke Arab karena ingin lebih membahagiakan keluarganya," ungkap tetangga di kampung halaman, Munir (40), yang pernah bekerja bersama Zaini sebagai sopir angkutan.

Zaini meninggalkan Tanah Air pada 1992 dan memilih bekerja sebagai sopir pribadi di negara Arab Saudi.

Sembilan tahun kemudian, 2001, ia pulang ke kampung halaman dan membuat kios kecil yang melekat di sisi kanan rumahnya.

Putra sulungnya, Syaiful Thoriq mengisahkan sang ayah memutuskan berangkat kembali ke Arab Saudi karena membutuhkan modal usaha toko yang dibangunnya.

"Bapak memang ingin berhenti menjadi TKI dan ingin membuka usaha toko di rumah. Tapi terpaksa kembali berangkat karena butuh modal," tutur Thoriq.

Namun petaka menimpa Zaini pada 13 Juli 2004. Ia ditangkap polisi Arab Saudi.

Tuduhannya tidak main-main, membunuh majikannya, Abdullah bin Umar. Kala itu, Thoriq masih berusia 12 tahun dan Mustofa berusia 2 tahun.

Harian Surya (Tribun Group) pernah berkomunikasi dengan Zaini melalui ponsel milik Thoriq pada Selasa, 8 Agustus 2014 lalu.

Saat itu Zaini membantah semua tuduhan atas meninggalnya Abdullah bin Umar.

"Ini yang membuat saya frustrasi. Saya tidak bersalah. Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya menuntut keadilan," tutur Zaini melalui telepon.


Foto via surya.co.id

Kendati berada di dalam penjara, Zaini tidak diam begitu saja.

Baca juga : Berdoa dengan Mengangkat Tangan Lalu Mengusapkan Kewajah, Ternyata Tak Ada Anjuran

Ia menjadi tukang cukur rambut dadakan.

Uang hasil mencukur dikirim kepada keluarganya.

Thoriq menyatakan, ia bersama Mustofa diberangkatkan Kementerian Luar Negeri untuk menemui ayahnya pada Januari 2018.

Kunjungan itu merupakan kesempatan ketiga bagi keduanya bertemu Zaini.

"Bapak memberikan uang Rp 18 juta untuk modal buka toko. Uang itu dari hasil menjadi tukang cukur rambur di dalam penjara," ujarnya.

Meski dalam keterbatasan karena dalam penjara yang sekan kita pikir tak ada yang bisa dilakukan selain merenungi dan menerima apa adanya, ternyata itu semua bisa dihilangkan jika ada kemauan dan kerja keras.

Karena Bekerja Keras adalah Prinsip Hidup Muslim

Kerja keras merupakan sebuah perbuatan yang mulia. Kerja keras bisa bermakna seseorang melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.

Tujuan yang ingin dicapai dari kerja keras bisa berbagai macam. Bisa dengan tujuan mencari rejeki, belajar, berkarya, karir, dan lain sebagainya.

Jika kita melihat ke sekitar di kehidupan kita sehari-hari, begitu banyak kita melihat orang yang bekerja sangat keras siang dan malam demi untuk mendapatkan rejeki.

Lebih banyak lagi orang yang terlihat seakan-akan mendedikasikan hidupnya hanya untuk mencari kesejahteraan hidupnya di dunia, hingga melupakan ibadah dan ‘investasi’ untuk kehidupan akhiratnya kelak

Kerja keras termasuk salah satu hal yang diajarkan oleh ajaran Islam. Bahkan, umat Islam diwajibkan untuk selalu bekerja keras.

Kewajiban untuk selalu bekerja keras ini terdapat dalam al Quran, surat al Qashash ayat 77, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berbuat kerusakan”.

Dari ayat al Quran di atas, kita mengetahui bahwa kerja keras ternyata juga diwajibkan dalam Islam, bahkan dalam kegiatan duniawi.

Baca juga : Dalam Islam, Khitan Bagi Perempuan adalah Hal Wajib?

Di ayat tersebut kita diajarkan untuk tidak boleh hanya memikirkan kehidupan akhirat saja, melainkan kita juga harus memperjuangkan kehidupan kita di dunia.

Kedua hal ini, dunia dan akhirat, harus seimbang diperjuangkan, tidak berat sebelah. Sangat baik untuk kita memaksimalkan ibadah kita untuk akhirat dan sangat baik pula kita untuk bekerja keras pula untuk kesejahteraan hidup kita di dunia.

Pernah diceritakan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu hari ketika Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sebuah majelis dengan para sahabat, terlihat pemuda berbadan kekar dan kuat sedan sibuk bekerja.

Pemuda itu berlalu Lalang di sekitar rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, salah satu sahabat berkomentar, ‘Wah, sayang sekali pemuda itu, sepagi ini sudah sibuk bekerja’.

Sahabat tersebut pun melanjutkan perkataannya, ‘Seandainya saja, kekuatan tubuhnya, umur mudanya dan kesempatan waktunya digunakan untuk jihad fi sabilillah, sungguh alangkah baiknya’.

Mendengat ucapan salah satu sahabat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar tidak berkata demikian.

Teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di surat al Qashash sebelumnya.

Bahwa manusia selama hidupnya pun memang dianjurkan untuk kerja keras dalam bekerja dan mencapai keinginannya.

Bentuk kerja keras dalam Islam tentu beragam. Bekerja keras bukan berarti seseorang harus kerja dari pagi hingga malam, hingga melupakan kewajiban dan hak dirinya.

Bukan berarti pula seseorang yang bekerja keras hanya melulu bekerja selama atau sebanya mungkin dari segi kuantitas waktu dan usahanya.

Namun, bekerja keras dalam Islam lebih kepada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu sehingga bisa diperoleh hasil yang diinginkan. (Baca juga: Hukum Mengemis dalam Islam)

Tidak hanya itu, bentuk kerja keras dalam Islam adalah bersikap profesional atas segala hal yang menjadi tanggung jawabnya.

Dia menepati janji dan komitmen yang telah dibuatnya, bukan hanya sekedar mengerjakan tugas sekenanya.

Maka, seorang muslim yang bekerja keras pasti akan mendapatkan hikmah dan kebaikan dari apa yang telah diusahakannya.
Top